Arus Dunia Itu Begitu Kuat

Seri Kepompong Ramadhan #4

Tak satupun orang yang mau merugi. Tak mungkin ada orang yang senang memperoleh kesengsaraan dan penderitaan. Apalagi bila kerugian, kesengsaraan dan penderitaan itu sifatnya abadi dan selama-lamanya. Tak ada juga orang yang mau menolak kesempatan hidup senang dan penuh kenikmatan. Apalagi bila keuntungan, kesenengan dan kenikmatan itu bersifat abadi.

Ya. Inilah yang diuraikan oleh Imam Ibnul Qayyim, “Bagaimana orang yang berakal mau menjual surga dan segala isinya dengan nafsu syahwat yang kenikmatannya hanya sebentar?”

Alangkah indahnya komentar seorang zahid, Yahya bin Mu’adz tentang hal ini saat ia mengatakan, “Pembangkangan terhadap Alloh itu tidak mulia dan mengutamakan dunia atas akhirat itu adalah tidak bijaksana.” Maksudnya adalah karena orang yang hina dan bodoh selalu melihat pada masalah syahwat saja, tapi tidak pada akibat yang ditimbulkannya.

Jangan terjebak jatuh mengikuti daya tarik duniawi yang memang sudah sangat menggiurkan itu. Ingatlah, bahwa yang akan lenyap itu disegerakan pemberiannya oleh Alloh subhana wata’ala. Dunia ini tidak abadi, dan orang yang memilihnya dengan mengabaikan keakhiratan, bisa aja diberikan oleh Alloh sebagai kenikmatannya. Tapi hal itu akan berakibat mengharamkan kelezatan akhirat yang abadi.

Syaikh Muhammad Al Maraghi menafsirkan firman Alloh subhana wata’ala surat Al Isra ayat 18 yang artinya, “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan sekarang (duniawi) maka Kami segerakan baginya kehidupan di dunia itu apa yang Kami kehendaki, bagi orang yang Kami kehendaki, dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.”

Berkata Al Maraghi, bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah orang yang menginginkan dunia dengan segera. “Untuk dunia ia bekerja dan berusaha, untuk dunia ia berharap, tapi ia tidak yakin dengan hari akhir. Ia tidak berharap pahala, tidak takut pada hukuman Alloh atas apa yang dikerjakannya. Alloh subhana wata’ala akan berikan bagiannya di dunia sebagaimana Alloh kehendaki dari keluasan rezeki, dan keluasan penghidupan. Kemudian Alloh tempatkan dia di akhirat, di neraka jahannam dalam kondisi tercela karena ia sedikit bersyukur dan karena keburukan amalnya.” (Tafsir Al Maraghi: 5/27)

Kita jadi mengerti latar belakang sikap para sahabat dan para salafushalih lainnya yang sangat takut dan sensitif pada harta dunia. Hingga, salah seorang mereka begitu waspada melihat berkucurnya nikmat duniawi pada salah seorang dari mereka. Lihatlah bagaimana perkataan Abu Halim Salmah bin Dinar, seorang tokoh generasi tabi’in yang mengatakan, “Jika engkau mendapati Alloh subhana wata’ala memberikan nikmatNya kepadamu dalam kondisi engkau melanggar perintahNya maka berhati-hatilah.” (Shifatush Shafwah 2/157)

Abu Hazim juga yang mengatakan, “Kenikmatan Alloh dalam bentuk menghindarkanku dari dunia lebih utama daripada kenikmatanNya berupa pemberianNya dalam urusan dunia. Karena aku melihat Alloh subhana wata’ala memberikan dunia kepada suatu kaum, tapi kemudia kaum itu hancur.” (Siyar A’lam Nubala, 6/985)

Mari kuatkan pegangan tangan kita pada tali iman. Karena tarikan dunia sungguh menawan dan mampu menarik kita untuk mengikuti arusnya yang semakin deras. Betapa banyak waktu yang telah kita gunakan untuk kepentingan duniawi, ketimbang kepentingan akhirat. Mengena sekali ungkapan seorang tabi’in yang bernama Aun bin Abdillah, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kami mereka menjadikan dunia sebagai sisi dari kepentingan akhirat mereka, sementara kalian menjadikan akhirat sebagai sisa dari kesibukan dunia kalian.” (Sifatush Shafwah, 3/101)

Kenali dan sadarilah bahayanya arus dan tarikan dunia. Insafilah bahwa dunia itu memang penuh badai fitnah yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Jika kita terus menerus, lalai dari akhirat dan membeli dunia dengan mengorbankan akhirat, maka kita sungguh berada dalam bencana dan ancaman bahaya yang sangat besar. Menyeret pada kemaksiatan yang mungkin menjadi penutup usia yang Alloh berikan selama ini. “Ya Alloh, lindungilah kami dari akhir hidup yang buruk…”

Zainal Abidin Ali bin Al Husein pernah ditanya, “Siapakah orang yang paling terancam bahaya?” Ia mengatakan, “Yang tidak melihat dunia sebagai bahaya untuk dirinya.” (Uyun Akhbar, 2/230)

Lari dari dunia bukan berarti meninggalkan dunia secara keseluruhan kemudian membiarkannya dikuasai orang-orang penghamba nafsu untuk digunakan semau mereka. Sementara kita lebih memilih miskn dari kaya. Lari dari dunia berarti tidak menjadikan dunia cita-cita akhir dalam hidup. Tidak menempatkan dunia di atas kepentingan akhirat. Tidak menempatkan dunia di atas kepentingan akhirat. Tidak menyediakan aktivitas untuk dunia dengan mengabaikan aktivitas untuk akhirat. Dunia yang tidak menyibukkan kita dari ibadah kepada Alloh subhana wata’ala yang menciptakan kita untuk beribadah.

Setidaknya ada dua hal yang penting kita garis bawahi dari firman Alloh subhana wata’ala surat Al Isra ayat 18, tentang pilihan orang yang jatuh pada dunia. Meski dalam ayat itu Alloh menyebutkan akan memberi dunia kepada orang yang menghendaki kesegeraannya di dunia, tapi pemberian itu terikat dengan dua syarat:

Pertama, Alloh sebutkan pemberian itu adalah sebatas “maa nasyaa” yang artinya sebatas yang Alloh kehendaki untuk disegerakan. Bukan sebagaimana kehendak orang yang menginginkannya. Karena itu kita juga banyak melihat orang yang menghendaki kesegeraan kenikmatan harta di dunia pun tidak memperoleh apa yang ia inginkan sepenuhnya. Kedua, firman Alloh itu juga diiringi dengan ungkapan “liman nuriidu” yakni kepada siapa yang Kami kehendaki. Artinya, tidak semua orang juga memperoleh itu kecuali yang Alloh kehendaki. (Tafsir Al Maraghi, 5/27)

Maka, jelas-jelas merugilah orang yang menghibahkan hidupnya hanya untuk dunia. Karena belum tentu ia memperoleh kenikmatan yang diingini, tapi ia dijamin dengan kesengsaran yang tiada terkira.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s