“Sabar” Hikmah Puasa Yang Hilang

Seri Kepompong Ramadhan #5

Menurut Ali bin Abi Thalib ra., sabar dibagi menjadi tiga macam; yaitu (1). Sabar dalam ketaatan, yakni menahan kesusahan dan kesukaran dalam mengerjakan amal ibadah, (2). Sabar dari kemaksiatan, yaitu menahan diri dari mengerjakan kemasiatan, kemungkaran dan kedurhakaan, (3) sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan, yaitu tabah, tidak mengeluh serta tidak berputus asa atas musibah dan berbagai penderitaan yang menimpanya.

Tanda seseorang dikatakan sabar adalah tidak mengeluh atas sesuatu yang menimpanya, ikhlas dan ridha dalam menjalankankan ketaatan kepada Alloh subhana wata’ala serta berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama.Itulah yang disebut dengan shobrun jamil (sabar yang indah). Sabar ketika dinina pribadinya yang akan memunculkan ghodlob (marah)nya, sabar ketika dikaruniai harta melimpah dengan mendistribusikan harta tersebut kepada yang hak, sabar dalam kemiskinan adalah tidak mengeluh serta menahan diri dari meminta-minta, sabar dalam dakwah adalah tetap berpegang teguh dan istiqomah dalam menyampaikan kebenaran Islam tanpa harus menggadaikan dirinya dengan jabatan, harta dan popularitas, sabar dalam musibah adalah tidak mengungkapkan keluh-kesahnya serta ridha terhadap apa yang telah menimpanya.

Berbagai macam bentuk sabar tersebut tampaknya terkandung dalam hikmah puasa. Oleh karena itu, bulan romadlon disebut dengan bulan kesabaran. Di sana dibutuhkan aktifitas batin atau ruhiyah yang kuat untuk menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa atau dapat merusak pahalanya. Kita dituntut untuk menahan diri dari memandang yang tidak halal, menahan diri dari ucapan yang dusta, kotor dan dapat menyakitkan orang lain, menahan diri dari melangkahkan kaki kepada tempat-tempat maksiat, menahan diri dari aktifitas yang tidak bermanfaat, menahan diri dari perasaan hasud, dengki, su’udhon, ujub dan sombong.

Dari hikmah sabar dalam ibadah puasa tersebut, Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda:

الصَّائِمُ نِصْفُ الصَّبْرِ

”Puasa itu separuh kesabaran.” (HR. Ibnu Majah)

Ujian dan cobaan yang menimpa Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan para sahabat di awal-awal perjuangan, dihadapi oleh beliau dengan kesabaran. Ketika kafir Quraisy Mekkah menyiksa dan membantai para sahabat, saat itu hanya ada satu kata kunci untuk menghadapi persoalan tersebut, yaitu dengan sabar. Dan tiada pahala yang lebih baik bagi orang yang sabar kecuali surga.

Ujian dan cobaan yang diberikan oleh Alloh subhana wata’ala merupakan perangkat untuk mengangkat derajat seseorang, sarana untuk memuliakan orang mukmin, menghapus dosa-dosa kecil, serta sebagai ukuran keimanan seseorang. Alloh subhana wata’ala berfirman dalam ayat berikut:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلاَمْوَالِ وَاْلاَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ (سورةالبقرة :155)

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan dan kekurangan harta dan jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqoroh: 155)

Sabar dalam konteks dakwah, adalah hendaknya umat Islam menahan diri dari menggunakan cara-cara kekerasan dalam menyebarkan syariat Islam. Dakwah adalah perjalanan panjang dan melelahkan, tidak bisa diukur oleh umur manusia, tetapi dakwah merupakan perjalanan panjang sejarah perubahan manusia menuju kepada kehidupan Islam. Dan itu tidak bisa dengan mengambil jalan pintas dengan cara-cara yang tidak ahsan (baik), seperti kekerasan, penggunaan bom untuk membunuh obyek dakwah yang menolah Islam, atau memaksakan diri menguasai institusi negara dengan cara memberontak atau mengangkat senjata. Dakwah adalah penyampaian ide-ide Islam kepada manusia yang tentu saja membutuhkan waktu lama dan tenaga yang optimal untuk merubah hati dan pemikiran manusia. Dan kuncinya adalah sabar , tetap istiqomah dan senantiasa berpegang teguh kepada akidah dan syariat Islam, tidak terjebak kepada kepentingan sesaat, misalnya popularitas, jabatan dan materi. Tidak terjebak dengan pemikiran-pemikiran yang justeru dapat merusak akidah dan syariat Islam.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s