Satu Agama Samawi

Seri Kepompong Ramadhan #6

Ada perbedaan yang besar antara nabi atau rasul dengan filosof besar atau tokoh masyarakat terkemuka. Filosof besar memiliki sekte dan alirannya sendiri. Itulah sebabnya di dunia ini selalu ada sekian banyak aliran filsafat. Sedang para nabi, mereka justru saling membenarkan atau memperkuat dan tidak pernah bertentangan. Seandainya seorang nabi hidup di zaman dan lingkungan nabi yang lain, dia tentu akan mendakwahkan juga norma hukum dan norma perilaku yang didakwahkan oleh nabi yang lain itu. Al-Qur’an suci dengan tegas menyatakan bahwa nabi-nabi itu merupakan satu rangkaian tunggal. Nabi-nabi sebelumnya meramalkan nabi-nabi belakangan, dan nabi-nabi belakangan mengakui dan menerima nabi-nabi sebelumnya.

Al-Qur’an menyebut agama Ilahi (samawi) yang dibawa para nabi tersebut adalah Islam, dan menggambarkannya sebagai suatu proses berkelanjutan sejak dari Nabi Adam as hingga terakhir, Nabi Muhammad saw. Istilah Islam merupakan kata yang paling baik, cocok, dan indah untuk menggambarkan karakter agama Allah swt ini. Itulah sebabnya dalam Al-Qur’an suci dinyatakan:

إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. ” (Q.S. Ali Imran: 19)

Dari sudut pandang Al-Qur’an, dari awal hingga akhir, hanya ada satu agama Ilahi. Al-Qur’an suci tidak pernah menggunakan kata “agama” (ad-diin) dalam bentuk jamak (plural). Semua nabi, terlepas dari fakta apakah mereka memiliki syariat sendiri atau tidak, memiliki misi yang sama dan mendakwahkan risalah yang sama. Prinsip-prinsip dasar mereka yang disebut agama adalah sama. Ajaran-ajaran mereka hanya berbeda dalam soal hukum dan masalah-masalah subsider (tambahan). Hukum dan masalah subsider ini beragam sesuai dengan kebutuhan zaman, keadaan lingkungan, dan sifat khas masyarakat yang didakwahi para nabi itu. Sekalipun bentuk ajaran-ajaran mereka berbeda, namun semua nabi memvisualisasikan satu tujuan yang sama, yaitu mendakwahkan agama Islam.

Hanya saja, nabi-nabi yang diutus belakangan, ajaran mereka lebih tinggi tingkat keselarasannya dengan tahap perkembangan manusia. Misal, ada perbedaan yang besar pada tataran ajaran Nabi Muhammad saw dan nabi-nabi sebelumnya dalam hal asal-usul manusia, akhirat, dan konsepsi tentang dunia. Manusia dalam kaitannya dengan ajaran para nabi adalah laksana siswa yang secara bertahap naik dari kelas satu ke kelas yang paling tinggi. Proses ini menunjukkan perkembangan agama, bukan perbedaan agama.

Atas dasar itu, dalam Al-Qur’an terdapat larangan untuk membeda-bedakan risalah nabi-nabi. Karena mereka hakikatnya adalah rangkaian tunggal. Banyak di antara nabi-nabi adalah keturunan Nabi Ibrahim as. Sehingga beliau disebut Bapak para nabi. Jika Nabi Ibrahim as beragama Islam, bukan beragama Yahudi atau Nasrani, tentunya nabi-nabi yang lain juga beragama Islam. Jadi dari sudut pandang Al-Qur’an suci, yang ada ialah satu agama samawi.[]

One thought on “Satu Agama Samawi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s