Dunia Ini Tak Boleh Disia-siakan

Kepompong Ramadhan #8

Betapa indahnya hidup ini, bila kita memiliki fasilitas duniawi yang membuat kita leluasa melakukan amal-amal shalih. Betapa nikmatnya hari-hari yang kita lewati, jika amal-amal taat yang kita inginkan bisa terlaksana tanpa hambatan kesulitan dalam hidup. Duhai senangnya andai kita bisa menebar kebaikan dan kesenangan kepada banyak orang yang memerlukan bantuan, karena kita sudah tidak terhimpit oleh beban kekurangan harta.

Kita tidak sedang membahas bahwa kata ‘bila’,’jika’ dan ‘seandainya’ yang membuat kita melambungkan khayalan, adalah kata-kata dari setan. Tapi kita tengah membicarakan bahwa bagaimanapun kata-kata ini ada dan mungkin juga kerap terlintas dalam benak pikiran kita. Karena, memang indah dan nikmat membayangkan banyak keinginan duniawi kita tercapai. Apalagi bila keinginan-keinginan duniawi itu diletakkan dalam kerangka ingin melakukan amal-amal shaleh dan menyebarkan kebaikan kepada orang banyak. Kita merasakan sulit mengecap keindahan beribadah tanpa kecukupan materi yang memang kita perlukan. Hati kita akan sempit, jiwa kita gelisah, jika kebutuhan-kebutuhan duniawi kita tak terpenuhi. Itulah kehidupan. Itulah dunia kita.

Ingin sekali bila kita berada dalam keadaan sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallhu ‘alahi wasalam, “Tidak mengapa kekayaan bagi orang  yang bertakwa pada Alloh. Tapi kesehatan bagi orang yang bertakwa pada Alloh adalah lebih baik daripada kekayaan. Dan jiwa yang baik termasuk nikmat yang paling besar.” (HR. Bukhari). Atau juga sabdanya yang disampaikan Amr bin Ash. “Ni’mal maalu shaalih lil mar-I shaalih.” (HR. Bukhari). Sebaik-baik harta yang baik adalah milik orang baik.

Semoga Alloh subhana wata’ala memujudkan keinginan-keinginan baik itu. Semoga Alloh subhana wata’ala memberi kekuatan kita untuk bertahan, tidak terhempas dan tidak terjerat oleh tarikan kuat dunia hingga menyebabkan kita letih menaiki tangga-tangga akhirat. Karena kita juga mengetahui nilai dan harga dunia ini. Rasulullah shallallhu ‘alahi wasalam pernah melewati seonggok bangkai kambing yang sudah berbau dan menjijikan. “Dunia tidak lebih baik dari bangkai ini,” kata beliau. Pada kali yang lain, Rasul juga pernah mengatakan bahwa harga dunia tak lebih dari sayap seekor nyamuk. Apa nilai bangkai binatang yang baunya sudah menusuk hidung dan dagingnya sudah membusuk? Apa harga sayap seekor nyamuk? Tapi seperti itulah Rasulullah mengibaratkan dunia yang kita hidup di dalamnya sekarang ini.

Dunia ini adalah tangga kita menuju akhirat. Ia adalah terminal persinggahan yang akan mengantarkan kita pada akhirat. Ia adalah sawah ladang untuk panen di saat kita berada di alam akhirat. Ia adalah bagian dari fase-fase hidup yang harus dilewati sebelum kita sampai ke akhirat. Karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam mengajarkan kita menyikapi kondisi hidup di dunia secara wajar. Meski dunia harganya tak lebih dari seonggok bangkai dan sayap nyamuk, tapi menyikapi dunia dengan benar juga termasuk nilai-nilai yang diajarkan.

Bacalah catatan sejarah yang ditinggalkan para salafushalih tentang sikap mereka menyiasati duni. Sa’ad bin Musayyib seorang tokoh generasi Tabi’in yang disegani karena kedalaman ilmunya, saat menjelang wafat ia meninggalkan banyak dinar. Menjelang meninggal ia mengatakan, “Ya Alloh, sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku mengumpulkan harta tidak lain untuk memelihara agamaku, untuk menyambung persaudaraanku, memelihara kehormatanku, menunaikan hutangku. Tak ada kebaikan bagi orang yang mengumpulkan harta kecuali untuk memelihara kehormatannya, menyambung silaturahmi, menunaikan hutang dan melindungi agamanya.” Tak berlebih juga jika Sufyan Ats Tsauri ra. Mengatakan, “Harta pada zaman ini adalah senjata bagi orang beriman.” (Mausu’ah Rasa-il Ibnu Abi Duniya, 2/42)

Sa’id bin Musayyib bukanlah orang kaya raya. Ia hanya seorang pedagang yang kebetulan memiliki sejumlah harta benda menjelang wafatnya. Perkataan Sa’id bin Musayyib menandakan bagaimanapun ia tetap memendam gelisah karena memiliki harta benda dunia itu. Karenanya ia mengadukan doa pada Alloh seperti yang dikatakannya itu.

Begitu juga dengan Malik bin Dinar. Suatu ketika ia membeli beberapa jenis kurma yang agak banyak. Orang-orang yang melihatnya heran, karena Malik bin Dinar dikenal sebagai orang yang banyak beribadah dan biasanya sangat minim perhatiannya dalam soal makanan. Seseorang bertanya padanya, “Apakah ini wahai Abu Yahya –panggilan untuk Malik bin Dinar-? Ia menjawab, “Ini adalah puasa dan untuk shalat.” (Mausu’ah Rasa-il Ibnu Abi Duniya, 2/45)

Ada pula sikap salafushalih yang lain dalam menyikapi harta dunia. Thalhah bin Ubaidillah suatu saat memasuki rumahnya dengan muka sedih. Istrinya Sa’ad binti Auf bertanya, “Apa yang membuat murung?” Thalhah menjawab, “Aku mengumpulkan banyak harta.” Istrinya yang sudah banyak mengenal karakter dan sifat Thalhah mengatakan, “Kalau begitu kirim dan bagi-bagilah harta itu kepada kaummu.” Thalhah segera keluar rumah dan membagi-bagikan hartanya itu kepada kaumnya. Thalhah bin Ubaidillah memang terkenal orang yang sangat dermawan. Istrinya bercerita, bahwa pernah dalam satu hari Thalhah membagi-bagikan sekitar 100 ribu dirham. Istrinya mengumpulkan uang itu di bahan pakaian yang dikenakan Thalhah hingga akhirnya bagian tengah pakaiannya sobek karena terlalu berat. (Mausu’ah Rasa-il Abi Duniya, 2/46)

Tapi kita tak ingin ada harta kita menetes untuk melawan keridhaan-Nya. Jangan sampai ada bagian kecil dari rizki Alloh itu menjadi bagian dari kedurhakaan kita kepada-Nya. Karena prinsip kita adalah seperti perkataan Sa’id bin Jabir saat ditanya apa yang dimaksud menyia-nyiakan harta. Sa’id mengatakan, “Menyia-nyikan harta adalah jika Alloh memberi rizki harta yang halal lalu engkau infakkan untuk yang diharamkan Alloh.”

Berusahalah terus, bekerja. Sebab di sana ada sebagian nafas ibadah kita.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s