Menangislah Untuk Perpisahan Ini

Banyak hal yang indah berbau religius hanya kita jumpai di bulan Ramadhan. Tarawih, tadarrus Al-Qur’an dan tentunya menahan lapar dan dahaga yang kita rindukan. Di desa apalagi listrik belum masuk sangat kental nuansa religius Ramadhan. Riuh rendah anak-anak bertarawih dan suara tadarrus mereka bagaikan lebah mengema seantero desa.

Apakah kita termasuk yang merindukan kehadiran dan suasana religius di bulan Ramadhan? Jika ya, inilah keindahan bulan yang sangat kita rindukan itu sedang bersama kita. Inilah detik demi detik waktu, kita lalui bersamanya. Inilah masa-masa bahagia, masa-masa semakin dekatnya jiwa bersama Alloh, masa-masa kedamaian hati yang belum tentu kita temui saat ia tidak bersama kita lagi.

Hiruplah dalam-dalam udara malam-malamnya.Hiruplah dalam-dalam udara sahurnya, Kita kini sedang berada pada hari-hari perpisahan yang sangat memilukan. Perpisahan dengan bulan mulia yang telah hadir bersama seluruh keindahan dan keistimewaannya bersama kita. Perpisahan dengan bulan terindu yang keutamaanya tak dapat dikalahkan oleh apapun yang terindah dalam hidup.

Jika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa melakukan satu ibadah sunnah dalam bulan Ramadhan, maka ia seperti orang yang melakukan ibadah wajib di bulan selain Ramadhan. Dan barangsiapa melakukan ibadah wajib di bulan Ramadhan maka ia seperti orang yang melaksanakan 70 ibadah wajib di selain bulan Ramadhan.” (HR. Ibnu Khuzaimah). Maka, berpisah dengan bulan ini berarti kita meninggalkan kesempatan meraih pahala kebaikan yang berlipat-lipat.

Jika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Ada dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa, kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan tatkala bertemu dengan Alloh.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, perpisahan dengan bulan ini, berarti terlewatnya dua momentum kegembiraan di kala buka puasa itu.
Jika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa karena keimanan dan semata-mata mengharap pahala, niscaya diampuni dosanyayang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, perpisahan dengan bulan ini adalah hilangnya kesempatan kita untuk memperoleh ampunan Alloh subhana wata’ala terhadap dosa-dosa kita yang menggunung.

Jika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa menunaikan qiyamul lail pada bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, usianya kebersamaan kita dengan bulan Ramadhan adalah lenyaplah kesempatan kita untuk menunaikan shalat malam dengan jaminan pahala ampunan dosa dan kekhilafan yang kita sudah tenggelam di dalamnya.

Jika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang shalat tarawih bersama imam hingga selesai, akan ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai dan Ibnu Majah). Lalu bagaimana dengan kualitas ibadah shalat tarawih yang sudah kita lakukan? Perpisahan dengan bulan suci ini, berarti juga kita akan kehilangan pahala shalat tarawih. Kehilangan pahala semalam suntuk.
Jika para salafushalih, selama bulan ini berlomba memperbanyak membaca Al-Qur’an. Malaikat Jibril memperdengarkan kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassalam pada bulan Ramadhan. Utsman bin Affan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari pada bulan Ramadhan. Sebagian salafushalih mengkhatamkan Al-Qur’an dalam shalat tarawih setiap tiga malam sekali, tujuh malam sekali, dan sepuluh malam sekali. Mereka selalu membaca Al-Qur’an baik dalam shalat maupun di luar shalat.

Jika Imam Asy Syafi’i dapat mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak enam puluh kali di luar shalat dalam bulan Ramadhan. Sementara Al Aswad mengkhatamkan setiap dua hari sekali. Qatadah selalu mengkhatamkannya setiap tujuh hari sekali di luar Ramadhan, sedangkan pada bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap tiga hari sekali. Dan pada sepuluh terakhir Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap malam. Imam Az Zuhri pada bulan Ramadhan menutup majlis-majlis hadits dan majlis-majlis ilmu yang biasa diisinya. Ia mengkhususkan diri membaca Al-Qur’an dari mushaf. Dan Imam Ats Tsauri beliau meninggalkan ibadah-ibadah lain dan mengkhususkan diri untuk membaca Al-Qur’an.

Jika mereka demikian tinggi semangat dan mujahadahnya membaca Al-Qur’an di bulan ini bagaimana dengan ibadah membaca Al-Qur’an yang kita lakukan? Bila Ramadhan berlalu, berarti kita pun kehilangan kesempatan agung untuk memperoleh berkah istimewa dari membaca Al-Qur’an di bulan ini.

Jika Alloh subhana wata’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 1-3) dan jika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassalam senantiasa mencari malam Lailatul Qadr dan memerintahkan sahabat untuk mencarinya. Beliau membangunkan keluarganya pada malam sepuluh terakhir dengan harapan mendapat malam Lailatul Qadr.

Jika dalam Musnad Ahmad dari Ubadah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang bangun sebagai usaha untuk mendapat malam Lailatul Qadr, ia benar-benar mendapatkannya, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang.”

Jika kaum salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in mandi dan memakai minyak wangi pada sepuluh malam terakhir untuk mencari malam Lailatul Qadr, malam yang telah dimuliakan dan diangkat derajatnya oleh Alloh.
Maka perginya bulan ini dari sisi kita, berarti terlewatnya kesempatan yang tak pernah terbayar dalam seluruh hidup kita sekalipun. Berarti, lenyapnya kesempatan kita memperoleh keberuntungan 1000 bulan yang sangat jauh lebih lama ketimbangan usia kita sendiri.

Jangan sia-siakan detik-detik perpisahan ini. Rasakan benar-benar kehadiran kita di sini, di bulan ini. Lantunkan dzikir, tilawah Al-Qur’an, munajat, permohonan ampun di sini.
Buang kepenatan, hilangkan rasa lelah. Hanya untuk hari-hari terakhir menjelang perpisahan dengan bulan penuh kemuliaan. Kejarlah segala yang terluput dari kita pada malam Lailatul Qadr. Sekarang. Jangan tunda lagi.
Dan, menangislah. Karena kita pun harus berpisah dengan bulan ini.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s