Lebih Cepat Lebih Baik

Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wassalambersabda yang artinya:

Jangan ada Shoruroh ( laki-laki atau perem-puan yang belum haji) dalam Islam. (HR. Abu Dawud)

Kisah pengabdian  kepada sang kholiq akan terus berjalan seiring dengan terus berhembusnya nafas kehidupan dalam diri manusia. Segala potensi yang dimiliki harus diarahkan untuk memperindah kisah itu dengan berbagai macam ibadah yang mungkin dilakukan. Besar dan kecilnya potensi serta kemampuan yang ada sangat menentukan sampai dimana kwantitas ibadah yang harus  dikerjakan. Ini berarti besar-nya potensi dan kemampuan pasti diikuti ber-tambahnya beban beribadah. Para ulama Islam mempunyai satu kata sepakat bahwa semua hukum agama pasti tidak bergeser dari prinsip:

Berat bagi yang kuat dan ringan bagi yang lemah

Kewajiban berhaji memberikan kemantapan kepada kita akan kebenaran dari prinsip diatas. Seorang miskin yang tiada harta, seorang yang sedang sakit atau kaya dan sehat tapi tak mungkin baginya sampai di Makkah, tidak diwajibkan berhaji. Ini karena memang syariat Islam berintikan rohmat dan kasih sayang kepada umat manusia, tak ada paksaan kecuali bagi yang mampu melakukan. Ibadah haji dalam perjala-nan panjangnya sepertinya senantiasa menjadi satu monopoli  bagi orang yang mampu (kaya). Kalau kita mau menelusuri mengapa hal itu terjadi, pasti ada satu kesimpulan bahwa ada hikmah dibalik semuanya. Bukankah kita sudah mantap bahwa segala yang ada didunia ini  ada-lah sarana ujian bagi manusia….?. ibadah haji terhitung ibadah yang berat karena memadukan dua unsur yaitu Badaniyyah (jiwa raga) dan Maaliyyah (harta benda). Berbeda dengan iba-dah yang lain semisal sholat dan puasa yang dilakukan dengan tubuh, atau zakat yang hanya dikerjakan dengan mengeluarkan sebagian yang dimiliki. Sebagai ibadah yang terbilang berat menurut perhitungan diatas maka ibadah haji oleh Alloh hanya diwajibkan kepada mereka yang memang mempunyai kemampuan melak-sanakannya sebagaimana firman Alloh yang artinya: “Dan untuk Alloh wajib kepada manu-sia berhaji keBaitulloh, yaitu bagi orang yang mampu(QS. Ali Imron 97)


Ayat ini sesuai dengan hadits diatas dalam sama-sama memerintahkan agar segera melak-sanakan ibadah haji bila telah datang kesempatan. Dalam sebuah hadits lain juga disebutkan anjuran agar beribadah haji secepatnya. Hadits itu ialah yang mempunyai arti : “Barang siapa yang ingin  berhaji maka supaya secepatnya dilakukan”. (HR. Abu Dawud. 1732)

Bila kesempatan telah datang tapi tidak segera dimanfaatkan maka patutlah baginya untuk memperhatikan sabda Nabi Shollallahualaihi wassalamyang artinya: “Barang siapa yang mempunyai biaya dan ada kendaraan yang membawanya ke Baiutulloh kemudian dia tidak berhaji maka tiada peduli untuknya mati dalam keadaan Yahudi atau Nashroni.” (HR Turmudzi. 809)

Mengapa harus berhaji

Pada saat keimanan sudah menancap maka mestinya sudah tak ada pertanyaan dihati me-ngapa harus kesana..? Akan tetapi  mungkin secara logika hal dibawah ini bisa menjadi jawaban dari pertanyaan ini:

1. Ibadah Haji menjadi ujian kecintaan manusia kepada Alloh. Mengapa demikian..? karena ibadah haji sebagaimana telah disebut, merupakan ibadah yang berat. Kendati demikian tak patut kiranya rasa berat itu masih dirasakan kalau memang manusia benar-benar cinta kepada Tuhannya. Dalam hal ini para ulama menggubah sebuah syair yang patut direnungkan:

Bila benar ia cinta kepada sang kekasih, maka bukanlah pecinta sejati bilamana kesengsaraan yang dialami masih diang-gap suatu hal yang perlu diratapi. (Zaadul Ma’ad. 9/1. Ibnul qoyyim al Jauzi)

2- Baitul Atiq (Ka’bah) telah dijadikan Alloh sebagai Qiblat Ahlu Tauhid, Nabi Ibrohim telah menancapkan tiang-tiangnya atas perintah Alloh melalui Jibril. Ia juga merupakan tempat ibadah yang paling terdahulu sekaligus posisinya yang berada diporos bumi serta tepat dengan Baitul Makmur dilangit yang menjadi tempat Thowaf para penduduk langit (malaikat).

Faidah berhaji

Tidak ditemukan dalam Islam syariat yang tak membawa manfaat. Ibadah haji termasuk salah satu syariat yang banyak membawa guna secara pribadi atau kelompok umum. Orang yang berhaji  secara pribadi memiliki banyak keuntungan diantaranya ialah

1. Terampuninya dosa-dosa kecil, bahkan menurut sebagian pengikut Madzhab Hanafi juga dosa-dosa besar.

2. Kebersihan jiwa akan didapatkan orang yang berhaji. Kemudian dari sini  terbersit dalam hati untuk kembali meperbaiki kualitas keimanan serta peribadatannya kepada Alloh.

Adapun faidah secara umum maka banyak hal yang bisa kita saksikan, antara lain:

1. Terciptanya suatu suasana indah untuk saling mengenal  diantara sesama muslim dari berbagai penjuru dunia yang bebeda ras, budaya, bahasa dan warna kulit.

2. Bisa mengadakan transaksi jual beli.

3. Ibadah haji mengokohkan tali ukhuwwah Islamiyyah. Tak ada perbedaan antara sikaya dan simiskin atau yang berkulit putih dan yang berkulit hitam.

4. Ibadah haji insya Alloh dapat menggugah semangat para da’i untuk selalu berjuang menegakkan Islam bila ia ingat  apa  yang pernah dilakukan oleh Rosululloh Shollallahualaihi wasallam. Dalam setiap musim haji beliau senantiasa menawarkan Islam kepada para jamaah haji yang datang dari berbagai negeri.

Wanita berhaji

Haji juga diwajibkan kepada wanita yang mampu melaksanakannya. Bahkan termasuk jihad yang paling utama bagi wanita. Sebagaimana Siti Aisyah pernah bertanya kepada Rosululoh Shollallahualaihi wasallam: Wahai Rosululloh…! Kami tahu bahwa jihad adalah amal yang paling utama, lantas apakah kami (para wanita) tidak boleh berjihad..? Nabi menjawab: Bagi kalian ada jihad yang paling baik dan utama, yaitu haji mabrur, Kemudian  menetap dirumah (tidak sering keluyuran keluar rumah). (HR Bukhori-Nasai)

Kewajiban berhaji bagi wanita disyaratkan harus ada lelaki muhrim yang menyertainya, bila tidak ada maka tidak wajib berhaji bahkan haram. Demikian menurut ulama Madzhab Ha-nafi yang berdasarkan  pada nash hadits riwayat Abu Huroiroh yang artinya: “Rosululloh Shollallahualaihi wassalambersabda: Tidak halal bagi wanita muslimah bepergian sejauh perjalanan semalam (dengan unta) kecuali ada lelaki muhrimnya. (HR Abu Dawud .1723)

Sedang Madzhab Syafi’i dan Hambali me-nyatakan bahwa tidak ada keharusan bagi wanita dalam menjalankan ibadah haji, ditemani oleh lelaki muhrimnya asal ia terjamin keamanannya semisal ia bersama rombongan para wanita. Ini  dalam haji yang wajib, sedang dalam haji yang dihukumi sunnah maka suatu keharusan baginya pergi haji bersama lelaki muhrimnya.

Islam sangat memperhatikan kehormatan dan keamanan wanita dengan tidak merestui mereka untuk berhaji kecuali ada jaminan ke-amanan (bersama rombongan wanita atau lelaki muhrim), padahal haji merupakan salah satu rukun Islam yang dibebankan kepada lelaki dan perempuan, lantas mengapa kebanyakan orang begitu mudah melepas kepergian anak perem-puan mereka sendirian keluar daerah atau keluar negeri hanya untuk mencari ilmu yang tidak dalam tingkat fardlu ain tanpa ada kekhawatiran dan tanpa rasa berdosa sedikitpun?. Ini sebagai pertanda begitu jauh menusia telah meninggalkan ajaran agama, telah begitu lemah rasa keterikatan mereka terhadap hukum-hukum agama. Ini semua menunjukkan telah hilangnya ghiroh (kecemburuan) mereka akan etika dan moral agama sehingga masalah kepergian wanita seorang diri serta terjadinya ikhtilath (percampuran) antara lelaki dan perempuan menjadi sesuatu yang tak perlu dipermasalahkan. Innaa lillahi wainnaa ilaihi roojiun.   Syekh Muhammad Ali asShobuni. Tafsir Aya-tul Ahkam. 1/ 413 – 414.

Mengajak anak kecil berhaji

Suatu kemurahan yang diberikan Islam kepada pemeluknya ialah tiada dosa bagi orang tua atas segala kejelekan yang dilakukan anaknya yang masih kecil (belum baligh ). Tetapi bila anak mereka yang masih kecil itu melakukan kebaikan  maka orang tuanya mendapatkan pahala. Termasuk kebaikan yang bisa dilakukan anak kecil adalah berhaji. Orang tua atau siapapun diperbolehkan membawa anak kecil ikut serta dalam berhaji. Ibnu Abbas menceritakan bahwa ketika Rosululloh Shollallahualaihi wassalamberada di Rouha’ beliau bertemu dengan serombongan Kafilah. Beliau lalu mengucapkan salam. Setelah men-jawab salam, Kafilah itu balik bertanya kepada Rosululloh Shollallahualaihi wasallam: Siapakah engkau? Beliau menjawab: Saya adalah Utusan Alloh. Mendengar hal itu seorang perempuan dengan segera menyodorkan anaknya yang masih kecil kemudian bertanya: Wahai Rosululloh apakah anak ini boleh berhaji? Rosululloh menjawab: Ia, dan bagi kamu ada pahala. HR Abu Dawud. 1736.

Pada kesempatan lain Ibnu Abbas juga ber-cerita: Ketika menjelang Baligh, aku pergi haji dengan menunggang himar betina, saat berada di Mina (dalam Hajjatul Wada’) aku bergegas turun dari kendaraanku itu untuk kemudian ada dibarisan terdepan dalam sholat  bersama Rosululloh Shollallahualaihi wassalamSaib Bin Yazid meriwayatkan bahwa dirinya pada usia tujuh tahun ikut berhaji dalam rombongan Rosululloh Shollallahualaihi wasallam. (HR.Bukhori)

Kendati anak kecil boleh berhaji, akan tetapi hajinya itu tidak lantas menggugurkan kewajiban berhajinya disaat ia dewasa. Tetapi andaikan ia mencapai usia baligh sebelum atau pada saat wuquf maka hajinya itu sudah cukup baginya (tidak wajib berhaji lagi ) karena dia telah  mengikuti pokok ibadah, sebagimana seorang ma’mum yang mendapatkan ruku’ bersama imam. Tetapi wajib baginya mengulangi Sa’i dan Thowaf (Irsyaadus Saari 4/390). Ini menurut Madzhab Syafi’i dan Hambali, sedang Madzhab Maliki dan Hanafi menyatakan bahwa anak kecil itu tetap masih berkewajiban haji karena pada saat Ihrom ia masih belum baligh, padahal syarat orang yang berihrom ialah mukallaf (Baligh dan Aqil). Fiqhul Islami. Wahbah Zuhaili. 3 / 24.[]

One thought on “Lebih Cepat Lebih Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s