Biarkan Mereka Tersiksa

Sudah berapa sering kita mendengar kalimat “Syaitan itu musuh”? Alloh subhana wata’ala dan Rasulullah shollallahu ‘alahi wasalam tak terbilang mengarahkan kita agar memerangi syaitan, mewaspadai, sama sekali tidak mendekati, tidak menemani, tidak terpedaya oleh bujuk rayunya, berusaha menjauhi jalannya dan mengusirnya sejauh-jauhnya. Apalagi untuk menyembahnya.

Tapi, syaitan itu ada dan mengelilingi kita, dari segala arah. Syaitan, ada di dalam aliran darah. Ada di sela-sela dinding hati. Berbaur dalam nafsu, bercampur dalam keinginan, masuk dalam pikiran dan mewarnai pandangan dan penglihatan. Syaitan terus menggempur, menyerang, mencari sela dimana mereka dapat menguasai dan menjorokkan kita dalam lembah maksiat. Lalu, jika berhasil, ia akan tertawa girang. Anas bin Malik mengatakan, “Syaitan meletakkan patuknya dalam hati bani Adam. Jika manusia mengingat Alloh, maka syaitan akan lemah. Dan jika ia melupakan Alloh, maka syaitan akan segera mematuk hatinya.”

“Syaitan itu memunculkan cetusan pikiran dalam diri anak Adam,” begitu kata Ibnu Mas’ud rahimahullah. Begitu juga dengan malaikat. “Syaitan memunculkan cetusan pikiran yang buruk dan mendustakan kebenaran. Sedangkan malaikat mencetuskan pikiran baik dan membenarkan kebenaran. Bersyukurlah pada Alloh bila memiliki cetusan pikiran kebaikan. Jika selain itu, berlindunglah pada Alloh dari godaan syaitan,” tambah Ibnu Mas’ud.

Mengikuti syaitan sama dengan mencari kehinaan. Menjadi teman syaitan sama dengan mengiringi hidup dengan penderitaan. Bagaimana dalamnya kehancuran, rendahnya kehinaan, dalamnya penyesalan, perihnya rasa sakit, akibat mengikuti syaitan? Sedikit demi sedikit. Sejengkal demi sejengkal. Selangkah demi selangkah. Hingga akhirnya seseorang terjerembab dalam lumpur dosa yang gelap.

Lihatlah, bagaimana jahatnya syaitan menghalangi kita dari kebaikan. Ada tiga kesempatan berbahaya yang pernah disampaikan Iblis kepada Nabiyullah Musa alaihissalam. Pertama, saat seseorang berkhalwat dengan lawan jenis yang tidak halal baginya. Ketika itu, iblis menjadi sahabat bagi mereka dan terus menerus menggoda keduanya. Kedua, ketika seseorang berjanji atas nama Alloh lalu ia tidak menjalankannya. Saat itu, iblis akan menjadi sahabatnya yang akan menghalangi orang itu untuk tidak bisa menunaikan janjinya pada Alloh. Ketiga, jika seseorang berniat bershadaqah, tapi niat itu tidak dilakukan. Ketika itu, iblis akan menjadi sahabatnya yang akan mempengaruhi pengeluaran harta orang tersebut. (Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, 42)

Itulah yang diinginkan syaitan. Karena itu, jangan pernah menjadikan mereka senang, karena hanya akan membuat kita sengsara. Jangan sekali-kali membuat mereka tertawa, karena itu sama artinya kita akan menangis. Sama sekali jangan menjadikan mereka sebagai teman, karena mereka akan menjadikan mata kita gelap, hati kita terbalik, dan pikiran kita busuk. Sebaliknya, buat mereka sedih dan menderita dengan ketaatan. Jadikan mereka menangis sejadi-jadinya dengan menjauhi kemaksiatan. Jadikan mereka sengsara dan sakit dengan berbagai amal sholeh.

Buatlah mereka menangis, menderita dan sakit. Tapi itu tidaklah mudah. Kemampuan kita untuk melakukan hal itu juga tidak sama. Imam Ibnul Jauzi mengungkapkan perbedaan kemampuan itu. Katanya, pemisalan godaan syaitan kepada orang bertakwa dan seorang yang masih mencampur-campur perilaku dengan dosa, ibarat orang yang duduk di hadapan makanan kemudian didatangi anjing yang ingin merebut makanannya. Ada orang yang cukup mengusirnya dengan ucapan, maka anjing itu pergi. Sementara ada orang yang tidak bisa mengusirnya dengan ucapan saja karena setiap kali diusir, anjing itu menggonggong, menjulurkan lidahnya dan tetap berusaha kembali mencuri makanannya.

Permisalan pertama, kata Imam Ibnul Jauzi, seperti syaitan yang menganggu orang bertakwa. “Orang yang bertakwa jika didatangi syaitan cukup diusir dengan dzikir. Tapi bagi orang yang masih  mencampurkan diri dengan dosa, ia tidak dapat dengan mudah mengusir kita syaitan mendatanginya,” jelas Ibnul Jauzi rahimahullah. Ada di mana posisi kemampuan kita dari penjelasan Imam Ibnul Jauzi ini?

Jangan putus meminta pertolongan Alloh. Tak ada jalan lain, hanya itu. Seorang salafushalih pernah bertanya pada seorang muridnya. “Apa yang kau lakukan jika syaitan terus menerus menjerumuskanmu pada dosa?” Muridnya menjawab, “Aku akan terus memeranginya.” Gurunya berkata lagi, “Bagaimana jika syaitan itu kembali lagi berusaha menjerumuskanmu pada dosa?” Muridnya menjawab sama, “Aku akan terus memeranginya.” Gurunya berkata, “Ini tak akan pernah selesai. Apa yang kau lakukan jika engkau melewati sekelompok kambing yang digembalakan, lalu anjing yang mengiringinya menggonggongimu sehingga engkau tidak dapat berlalu? Apa yang kau lakukan?” Muridnya berkata, “Aku akan berusaha mengusirnya dengan seluruh kemampuanku.” Sang guru berkata, “Jika begitu, tidak akan pernah selesai. Engkau cukup meminta tolong pada pemilik kambing dan anjing itu agar engkau bisa lewat dengan aman.”

Menangislah karena semua kekeliruan dan keterpedayaan kita pada bisikan musuh. Sekecil apapun. Sesedikit apapun. Sesalilah semua bentuk keberpalingan kita dari petunjuk Allah subhana wata’ala. Abdullah bin Abi Muhajir menyebutkan bahwa Nabi Daud alahissalam merupakan orang yang banyak menangis. Suatu saat ia berkata, “Biarkan aku menangis sebelum datang masa menangis (hari akhir). Sebelum datang saat tulang belulang dibakar. Sebelum aku diperintah malaikat yang keras dan kejam yang tidak akan melanggar apa yang diperintahkan Alloh kepada mereka.”

Mari panjatkan permohonan perlindungan kepada Alloh subhana wata’ala dari segala godaan dan tipu daya syaitan. Biarkan mereka merasa sakit karena kita takkan pernah mau tergoda untuk bermaksiat kepada Alloh subhana wata’ala. Biarkan mereka tersiksa dan menderita karena kita takkan pernah berhenti melakukan amal-amal shalih.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s