Ka’bah

Bangunan suci umat Islam yang terletak di Mekah yang selalu diziarahi tiap tahun oleh umat Islam ketika mereka menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima. Menurut bahasa Ka’bah berarti kubus. Bangunan segi empat itu juga disebut dengan nama Baitulloh (Rumah Alloh), Baitulharam (rumah suci), dan Baitul Atiq (rumah kuno). Didalam Al Qur’an juga diterangkan bahwa Ka’bah adalah “rumah pertama yang diperuntukkan bagi manusia (untuk beribadah kepada Alloh)” (QS.3:96).

Sebenarnya tidak ada petunjuk, baik dari Al Qur’an maupun dari Al Hadist yang menerangkan kapan Ka’bah itu pertama dibangun dan oleh siapa. Dalam Al Qur’an hanya disebutkan bahwa Ka’bah itu diperbaiki oleh Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Alloh swt berfirman :”Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitulloh beserta Ismail (seraya berdo’a): Ya Tuhan kami, terimalah dari pada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS.2:127). Dalam menafsirkan surat Al Baqoroh ayat 127 diatas para ahli tafsir sepakat bahwa yang mendirikan ka’bah itu adalah Nabi Ibrahim as dan anaknya. Sejalan dengan itu para penafsir menafsirkan surat Al Ibrahim ayat 37 dengan menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim as meninggalkan istrinya, Hajar, dan putranya, Ismail yang masih kecil itu ditempat yang akan dibangun diatasnya Ka’bah.

Surat al Baqoroh ayat 127 mengingatkan orang-orang arab bahwa yang membangun Ka’bah adalah nenek moyang mereka yang bernama Ibrahim as dan putranya. Keduanya adalah nenek moyang orang-orang Arab dan Israel. Seluruh orang Arab mengikuti agamanya, yaitu millatu Ibrahim. Tujuan mendirikan Ka’bah itu adalah sebagai tempat ibadah kepad Alloh swt. Bahan untuk membangun Ka’bah adalah benda-benda biasa, sama dengan benda-benda lain dan benda yang sengaja diturunkan Alloh swt dari langit.

Sesuai dengan namanya, bentuk Ka’bah hampir menyerupai bentuk kubus, terbuat dari batu biru. Ka’bah terletak ditengah-tengah Masjidil Haram. Panjang dinding muka (yang terdapat pintu) dan dinding belakang masing-masing 12 M dan kedua belah sisinya masing-masing sepanjang 10,1 M. adapun tingginya 16 M. letak dinding itu membujur disebelah barat laut, timur laut, barat daya, dan tenggara. Dengan demikian masing-masing sudutnya mengarah ke empat mata angin. Maksudnya, agar bangunan itu tidak pecah bila dilanda angin, meskipun angin berembus dengan dahsyat.

Pintu Ka’bah terletak kira-kira 2 meter diatas tanah, terdapat disebelah timur laut, tidak persis ditengah. Untuk masuk ke Ka’bah digunakan tangga, seperti tangga mimbar. Tangganya sekarang terbuat dari kayu yang dilapisi perak yang dihadiahkan oleh salah seorang raja Islam dianak benua India. Tangga itu tidak diletakkan disana kecuali apabila pintu itu dibuka bagi para penziarah dan ada pertemuan –pertemuan besar yang diadakan tidak lebih dari 15 kali dalam setahun.

Empat sudut bangunan Ka’bah dinamakan orang Arab dengan rukun-rukun sesuai dengan arahnya. Sudut sebelah utara dinamakan rukun Iraqi ( jurusan Iraq atau Mesopotamia), sudut sebelah selatan dinamakan rukun Yamani (jurusan Yaman), sudut sebelah barat dinamakan rukun Syami (jurusan Syam atau Suria) dan sudut sebelah timur dinamakan rukun Aswad ( jurusan Hajar Aswad atau batu hitam). Disudut sebelah timur itu memang terletak Hajar Aswad (batu hitam) setinggi 150 cm diatas tanah.

Hajar Aswad adalah batu berbentuk telur yang berwarna hitam kemerah-merahan. Pada batu ini terdapat bintik-bintik merah dan kuning bekas pecahan. Lingkarannya sekitar 30 cm, yang sekarang diikat dengan pita perak, dan garis tengahnya sekitar 10 cm. Jarak antara rukun aswad dan pintu Ka’bah dinamakan  Multazam, yaitu tempat yang biasa digunakan orang-orang yang tawaf untuk berdo’a.

Bangunan Ka’bah bagian dalam dikelilingi oleh garis pinggir yang terbuat dari batu pualam dengan ketinggian kira-kira 2 meter. Disudut sebelah utara terdapat tirai pemisah. Pada tirai itu terdapat pintu kecil yang dinamakan bab at taubah (pintu tobat) yang berhubungan dengan tangga kecil untuk naik keatap. Ditengah-tengah terdapat tiga buah tiang dari kayu yang diatasnya terdapat kusen-kusen yang berhubungan dengan mizab pada satu sisi dan dinding Hajar Aswad pada sisi yang lain. Tiang-tiang ini sudah ada sejak masa Abdulloh bin Zubair. Didepan pintu sebelah dalam terdapat mihrab, pada tempat ini Nabi Muhammad saw pernah sholat. Atar Ka’bah dan dinding-dindingnya tertutup dari sebelah dalam dengan kiswah (arti bahasanya adalah pakaian) yang terbuat dari merah yang diatasnya terdapat segi empat yang bertuliskan “ Alloh Jalla Jalaluhu ( Alloh Yang Maha Agung) yang dihadiahkan oleh Sultan Abdul Aziz (1861-1876) dari kerajaan Ustmani. Kiswah sebelah dalam tersebut mulai dibuat oleh ibu dari Abbas bin Abdul Muttalib (paman Nabi SAW). Ketika anaknya, Abbas, yang masih kecil hilang, ia bernadzar akan memberi kiswah sebelah dalam Ka’bah apabila Abbas kecil diketemukan kembali. Pada waktu Abbas kecil diketemukan kemabali, nadzar itu dilakukannya. Pemberian kiswah sebelah dalam itu dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Adapun pemakaian kiswah sebelah luar sudah dilakukan sejak masa yang sangat silam. Orang pertama yang memberi kiswah adalah raja Himyar, As’ad Abu Bakar. Tindakannya ini diikuti oleh para pelanjutnya sampai kemasa Qusay bin Kilab, salah seorang leluhur Nabi Muhammad saw. Ketika Qusay menjadi penguasa Ka’bah maka pemberian kiswah menjadi tugas orang –orang Arab dari suku Quraisy.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s