Mencari Jati Diri Syaithon

– Kali ini akan saya tampilkan artikel tentang musuh abadi kita, yaitu Syaithon secara berseri. Kita perlu mengetahui segala sepak musuh kita ini agar kita tidak mudah tergelincir. Semoga ada manfaatnya buat saya pribadi dan pembaca sekalian. Amiin.-

Seri: All About Syaithon.

Kata Syaithon berasal dari akar kata Syathona yang artinya jauh. Seperti ada ungkapan Syathonat Daaruhu / rumahnya jauh atau Bi’run Syathun / sumur yang jauh kedalamannya. Imam Al Qurthubi berkata: Dinamakan setan karena ia jauh dari kebenaran serta segala tingkah lakunya sangat menjengkelkan (Mutamarrid}. Versi lain mengatakan bahwa Syaithon berasal dari akar kata Syaatho yang artinya terbakar. Ada sebuah ungkapan Syaatho Bi Amalihi / terbakar karena ulahnya sendiri. Dan setan terbakar karena tingkah lakunya sendiri.

Setan berasal dari golongan Jin. Dan menurut Imam Al Jahizh Jin ada tiga macam:

A- Syaithon.

Jika Jin itu kafir, berbuat zholim, betindak kelewat batas serta berbuat kehancuran maka Jin itu disebut Syaithon. Alloh swt berfirman:

كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِرَبِّهِ

“Dia adalah dari golongan Jin kemudian dia mendurhakai perintah Tuhannya” (QS Al kahfi : 50}.

B- Maarid.

Jika memiliki kemampuan lebih, seperti memikul beban berat dan mencuri berita langit (Khobar Sama’} maka  disebut Maarid. Alloh berfirman:

إِنَّازَيَّنَّاالسَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِيْنَة الْكَوَاكِب  وَحِفْظًامِّنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَّارِدٍ  لاَ يَسَّمَّعُوْنَ إِلَي الْمَلإَِ اْلأَعْلَي وَيُقْذَفُوْنَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ   دُحُوْرًا َّولَهُمْ عَذَابٌ وَّاصِبٌ  إِلاَّ مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبُ .

“Sesungguhnya Kami menghias langit terdekat dengan hiasan bintang-bintang. Dan memeliharanya dari setan-setan yang durhaka (Maarid}. Setan-setan itu tidak dapat mendengarkan pembicaraan para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang pedih. Kecuali mereka yang mencuri dengar maka ia akan dikejar dengan suluh api yang cemerlang” QS Ash Shooffat:6-10.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa dulu setan mempunyai tempat–tempat (Maqoid} untuk mencuri dengar di langit. Saat itu mereka tidak dilempar karena bintang ketika itu belum berjalan. Jika mendengar wahyu maka mereka segera turun ke bumi dengan menambahkan sembilan kalimat  dalam setiap satu kalimat kemudian melemparkan kalimat itu kepada para juru ramal (Kahanah}. Ketika Rosululloh saw diutus maka setiap kali setan hendak mencuri dengar, dengan segera akan ada Syuhub (pecahan bintang}yang datang menyambar hingga setiap setan yang terkena Syuhub itu dengan segera ia akan terbakar, gila atau bahkan mati. Disebutkan bahwa sebelum kelahiran nabi Isa Alaihissalaam setan bebas berkeliaran di langit. Setelah Isa dilahirkan maka mereka terhalang dari tiga langit dan sesudah Rosululloh saw diutus maka mereka terhalang dari keseluruhan langit. Al Qurthubi mengatakan bahwa sebelum Rosululloh saw diutus setan tidak seketika terhalang dari mencuri dengar berita langit, sebab mereka kadang dilempar juga kadang tidak atau hanya dilempar dari satu sisi tidak dari sisi yang lain. Sesudah Rosululloh saw diutus maka setiap kali berusaha mencuri dengar maka mereka akan dilempar dari segala arah dan pasti terkena lemparan itu.

Imam Bukhori meriwayatkan dari Ibnu Abbas:

Rosululloh saw bersama para sahabat hendak berangkat menuju pasar Ukazh. Saat itu setan sudah mulai terhalang dari kabar langit serta mereka mendapat lemparan Syuhub. Mereka akhirnya melaporkan peristiwa itu kepada Iblis. Mendengar laporan itu Iblis segera menyimpulkan pasti ada sesuatu yang terjadi. Iblis lalu memerintahkan seluruh anak buahnya agar menelusuri penjuru timur dan barat bumi. Akhirnya setan-setan yang menuju arah Tihamah menemukan Rosululloh saw sedang berjamaah sholat subuh (Di lembah Nakhlah} bersama para sahabat. Ketika mendengar bacaan Alqur’an itulah mereka lalu mendengarkannya secara seksama dan serius (Tasammu’}, mereka berkata: Inilah yang menghalangi kalian dari kabar langit. Setelah kembali kepada kaumnya, mereka berkata: Wahai kaumku, sesungguhnya aku menemukan Alqur’an sebagai sebuah hal yang sangat menakjubkan yang menuntun pada kebenaran, maka kamipun beriman dan tiada pernah akan menyekutukan Tuhan kami. HR Bukhori:4921.

Alloh berfirman yang artinya:

Katakanlah wahai Muhammad: Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan Jin telah mendengarkan Alqur’an lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami mendengar Alqur’an yang menakjubkan yang menuntun pada kebenaran, lalu kami beriman. Dan kami tak akan menyekutukan seorang pun dengan Tuhan kami” QS Al Jin:1-2.

Pada malam di mana setan mendapat lemparan-lemparan syuhub, penduduk Thoif yang melihat kilatan-kilatan api berhamburan di atas langit menjadi takut dan panik hingga mereka segera memerdekakan para budak dan melapas hewan ternak. Mengetahui hal itu, Abdu Yalail bin Amar bin Umer, tetuah mereka yang buta segera berkata: Tenanglah wahai penduduk Thoif, lihatlah dengan teliti apakah bintang-bintang masih tetap berada di tempatnya. Jika masih berada di tempatnya berarti tidak ada kehancuran yang menimpa penduduk langit, dan kilatan-kilatan api yang kalian saksikan hanyalah karena Ibnu Abi Kabsyah (Rosululloh saw}. Sedang jika kalian lihat bintang-bintang berpindah tempat berarti kehancuran menimpa penduduk langit. Setelah melihat bintang tidak berpindah sama sekali dari tempatnya, akhirnya penduduk Thoif kembali merawat dengan baik harta benda mereka. Tak lama setelah itu mereka pun mendengar berita terutusnya Rosululloh saw.

Suatu malam saat sedang berkumpul bersama para sahabat (Anshor}, tiba-tiba ada sinar pecahan bintang yang dilemparkan (Syuhub}, Rosululloh saw bertanya, dulu pada masa Jahiliyyah kalau ada kejadian seperti ini, apa anggapan kalian? Para sahabat menjawab: Kami mempunyai anggapan bahwa ada calon orang mulia dilahirkan atau ada orang mulia yang meninggal dunia. Rosululloh saw bersabda: Sesunguhnya bintang tidak dilemparkan karena hidup dan mati seseorang. Tetapi saat itu Alloh memutuskan suatu urusan dan para malaikat pemikul Arasy segera menyambutnya dengan bacaan Tasbih yang diikuiti oleh bacaan tasbih seluruh para malaikat penghuni langit. Kemudian para malaikat yang terdekat dengan malaikat pemikul Arasy bertanya kepada malaikat pemikul Arasy tentang kabar dari Alloh. Akhirnya kabar sampai pada malaikat langit dunia dan ketika itulah setan mencuri dengar yang lalu diikuti oleh lemparan Syuhub.

C- Ifrit.

Jika memiliki kelebihan lebih dari Syaithon dan Maarid maka Jin itu disebut Ifrit. Alloh berfirman:

قَالَ عِفْرِيْتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيْكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُوْمَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّيْ عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ آَمِيْنٌ .

“Ifrit dari golongan Jin berkata: Saya sanggup membawa singgasana itu kepada anda sebelum anda berdiri dari tempat duduk. Sesungguhnya saya benar-benar kuat untuk membawanya”. QS Annaml:39.

Ucapan Jin di atas sebagai jawaban atas permintaan Nabi Sulaiman yang ingin mendatangkan Bulqis beserta istananya serta segala isinya. Maksud Nabi Sulaiman adalah menunjukkan kepada Bulqis betapa besar anugerah dan karunia kekuasaan yang diberikan oleh Alloh kepadanya. Tak ada seorangpun baik sebelum atau sesudah Sulaiman yang mendapat anugerah itu. Disebutkan bahwa nama Jin itu adalah Dzakwan atau juga Shokhr. Jin itu bertubuh besar laksana gunung serta memiliki kecepatan pandangan mata. Artinya sejauh matanya melihat maka dia sudah berada di sana. Akan tetapi tawaran Jin itu ditolak karena Nabi Sulaiman ingin lebih cepat lagi. Sehingga seorang berilmu yang bernama Ashof bin Barkhoya tampil dengan tawaran akan mendatangkan istana Balqis dalam sekejap mata.

Dari keterangan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa Jin dan Setan adalah sejenis dan yang membedakan mereka adalah keimanan dan kekafiran. Jadi Jin yang beriman tidak bisa dikatakan Setan. Sebagaimana pengakuan Jin sendiri:

وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُوْنَ وَمِنَّا دُوْنَ ذَلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا

” Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada pula yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda” QS Al Jin:11.

Para ahli tafsir sepakat bahwa maksud menempuh jalan berbeda ialah perbedaan dalam Aqidah. Artinya mereka ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Perbedaan dalam komunitas Jin juga disinggung dalam sebuah hadits ghorib riwayat Abu Tsa’labah Al Khosyini yang artinya ” Jin itu terbagi dalam tiga kelompok, 1] Jin yang memiliki sayap yang memungkinkan mereka bisa terbang, 2}Jin yang berupa wujud ular dan anjing, dan 3}Jin yang berdiam serta menetap pada satu tempat”. (Tafsir Ibnu Katsir 3/637. Darul fikr Cet 1992}.

Salah satu ayat yang juga menjadi dalil bahwa setan adalah dari bangsa jin adalah firman Alloh:

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا رَبَّنَا أَرِنَا الَّذَيْنِ أَضَلاَّنَا مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ نَجْعَلْهُمَا تَحْتَ أَقْدَامِنَا لِيَكُوْنَا مِنَ اْلأَسْفَلِيْنَ

“Dan orang-orang kafir berkata: “Ya Tuhan kamiperlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jin dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina” QS Fushshilat / Haamim Sajdah : 29.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s