Genealogi Permusuhan Abadi

Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat:”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang kholifah di bumi” mereka berkata: Mengapa Engkau akan menjadikan (Kholifah} di bumi itu orang yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memijiMu dan mencucikan Engkau. Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku Mengetahui apa yang tidak ketahui. QS Al Baqoroh:30.

Dikisahkan bahwa sebelumnya, bumi pernah dihuni oleh Makhluk bernama Bani Al Jaan yang berbuat kehancuran dan kerusakan di bumi. Kemudian Alloh mengutus para Malaikat agar menghancurkan mereka. Menurut Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, Jin telah menghuni bumi selama dua ribu tahun sebelum Adam diciptakan, ketika mereka gemar mengalirkan darah maka Alloh mengutus bala tentara malaikat untuk mengusir mereka ke pulau-pulau di tengah lautan. Berangkat dari sinilah para Malaikat mengajukan sebuah pertanyaan apa hikmah dibalik penciptaan Kholifah itu?  kemudian Alloh menjawab “Sesungguhnya Aku Mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”. Para Malaikat tidak mengetahui bahwa akan ada keseimbangan dalam Kholifah yang akan diciptakan oleh Alloh. Artinya tidak semua dari mereka akan berbuat kerusakan, tetapi ada juga yang berbuat kebajikan. Sebagaimana para nabi, para rosul, syuhada’ dan orang-orang saleh. Ketidaktahuan mereka ini diakibatkan oleh cara pandang yang hanya melihat sisi Quwwah Syahawiyyah yang mendorong berbuat kehancuran dan Quwwah Ghodlobiyyah yang mendorong berbuat mengalirkan darah yang tertanam dalam diri manusia (Kholifah}. Sedang Quwwah Aqliyyah yang mengajak kepada kebaikan dan keutamaan mereka lupakan.

Setelah protes mereka dijawab oleh Alloh, dalam benak mereka timbul perasaan bahwa Alloh tak akan menciptakan makhluk yang lebih mulia dan lebih pandai dari pada mereka sebab mereka lebih dahulu tercipta dan mengetahui apa yang tidak diketahui oleh manusia (Adam}. Kemudian terjadilah proses seperti dikisahkan dalam firman Alloh yang artinya:

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda}seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:”Sebutkanlah kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar”. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Alloh berfirman:”Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama –nama benda ini”. Maka setelah mereka diberitahu nama-nama benda itu, Alloh berfirman:”Bukankan sudah Aku katakan  kepada kalian bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kalian lahirkan dan apa yang kalian sembunyikan”. QS Al Baqoroh:31-33.

Api permusuhan berkobar bermula ketika Alloh memerintahkan agar para malaikat serta iblis atau setan bersujud. Seluruh malaikat bersujud kepada Adam, Dimulai oleh malaikat Jibril, lalu Mikail, Isrofil, Izroil dan para malaikat terdekat (Muqorrobin}. Sujud ini tepat pada hari Jum’at mulai lewat tengah hari hingga waktu Ashar tiba. Ada yang mengatakan bahwa mereka bersujud selama seratus atau bahkan lima ratus tahun. Mereka sujud secara sujud Lughowi yaitu bersujud dengan mendoyong atau membungkuk (Inhina’} sebagaiamana para saudara dan kedua orang tua yang sujud kepada saudara dan anak mereka yaitu Nabi Yusuf. Sujud model seperti ini menjadi budaya penghormatan umat-umat terdahulu. Sedang penghormatan (Tahiyyat} bagi kita umat Muhammad adalah mengucap Salam. Sebagian Ahli Tafsir berkata bahwa malaikat bersujud dengan sujud yang seperti kita lakukan yaitu dengan menaruh kening di bumi. Dan hal ini bukan termasuk sujud kepada selain Alloh karena yang memerintahkan adalah Alloh. Ada yang mengatakan bahwa malaikat tetap sujud kepada Alloh, sedang sebagai penghormatan kepada Adam mereka sujud menghadap Adam yang berarti dalam hal ini Adam berfungsi menjadi Qiblat.

Sementara itu Iblis membantah tidak mau bersujud. Alloh bertanya:

مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ . قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهُ ِمنْ ِطْينٍ

Apa yang menghalangimu untuk bersujud saat aku perintahkan? Iblis menjawab: Saya lebih baik daripadanya karena Engkau Ciptakan saya dari api dan Engkau Ciptakan dia dari tanah”.QS Al A’rof:12.

Dalam anggapan Iblis, dia lebih baik dan lebih tinggi derajat daripada Adam. Sedang orang yang tinggi derajat (Al Fadhil} tidak layak bersujud kepada orang yang derajatnya lebih rendah (Al Mafdhul}. Ketinggian derajat Iblis menurut hemat dia sendiri karena dia tercipta dari api sedang Adam tercipta dari tanah. Dan api menurutnya lebih utama daripada tanah. Jadi dalam hal ini Iblis menentukan atau menetapkan ukuran kemuliaan berdasarkan bahan baku penciptaan. Meskipun anggapan api lebih utama daripada tanah itu benar adanya maka Adam tetap lebih mulia daripada Iblis sebab dalam penciptaan Adam ada sisi kemuliaan besar (Tasyriiful Azhim} yang tidak diperhitungkan oleh Iblis yaitu Alloh Menciptakan Adam dengan kedua tanganNya serta meniupkan rohNya ke dalam diri Adam, memerintahkan malaikatNya agar bersujud kepada Adam serta memberi ilmu kepada Adam tentang nama segala sesuatu. Apa;agi jika diteliti lebih jauh, sebenarnya tanah lebih baik daripada api, bukan sebaliknya sebagaimana anggapan Iblis, sebab tanah memiliki ciri khas lembut, tenang dan teguh. Di samping tanah juga sebagai tempat tumbuh, berkembang, dan bertambah. Sementara api memiliki ciri khas membakar, meninggi, dan panas.

Perasaan lebih tinggi dan lebih mulia daripada Adam yang muncul dalam diri Iblis juga dipicu oleh keberadaan mereka selama ini yang berkalung bunga-bunga kemuliaan. Ka’bul Ahbar, seorang yahudi dari Yaman yang kemudian masuk islam pasca Rosululloh saw wafat dan datang di Madinah pada masa Umar serta sempat berguru kepada para sahabat hingga menjadi ulama besar dari generasi Taabiin, menceritakan bahwa Iblis terlaknat pernah menjadi juru kunci surga selama empat puluh ribu tahun, memberi wejangan kepada malaikat selama dua puluh ribu tahun, berthowaf di sekeliling Arasy selama empat belas ribu tahun serta dikenal memiliki banyak nama yang menunjukkan kemuliaan pemilik nama sebagaimana di langit pertama ia disebut Al Aabid, di langit kedua Az Zaahid, di langit ketiga Al Aarif, di langit keempat Al Wali, di langit kelima At Taqi, di langit keenam Al Khozin, dan di langit ketujuh Azaazil.

Iblis Keluar dari Surga

Setelah Iblis tetap pada pendirian tidak mau bersujud kepada Nabi Adam dan bahkan merasa lebih baik dari Adam maka Alloh mengusir mereka dari surga sebagaimana dalam firmanNya:

قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُوْنُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيْهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِيْنَ

Alloh berfirman: Maka turunlah kamu  dari surga, sebab tidal layak bagimu berlaku sombong di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”QS Al A’rof:13.

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيْمٌ وََإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَإِلَي يَوْمِ الدِّيْنِ

“Alloh berfirman:Maka keluarlah kamu dari surga, sesungguhnya kamu terlutuk. Dan sesunguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat” QS Al Hijr:34-35/.

Sebelum keluar, Iblis mengajukan permintaan kepada Alloh: “Iblis berkata:Tangguhkanlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan. Alloh berfirman: Sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh.Iblis menjawab: Karena Engkau telah menghukumi saya tersesat,maka sungguh saya akan menghalangi mereka dari jalanMu yang lurus”QS Al A’rof:14-16. “Iblis berkata: Wahai Tuhanku, tangguhkanlah aku sampai mereka dibangkitkan, Alloh Menjawab: Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai waktu yang telah ditentukan (yaitu waktu tiupan pertama/Nafkhoh Uulaa}, Iblis berkata: Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik perbuatan buruk di bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua”QS Al Hijr:36-39. “Iblis berkata:Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar aku akan sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil”QS Al Isro’:62.

Abu Qilabah berkata: Ketika Alloh melaknat dan mengeluarkan Iblis dari surga maka setelah meminta penangguhan (Nazhroh} yang kemudian dikabulkan, Iblis berkata dengan penuh dendam dan ancaman:“Demi Kemuliaan dan KeagunganMu, saya tidak akan pernah keluar dari hati anak Adam selama mereka masih bernyawa”, Alloh berfirman: Demi KeagunganKu, Aku tidak akan melarangnya bertaubat selagi nyawanya masih melekat”

Dalam sebuah hadits riwayat Abu Said Al Khudri, Rosululloh saw bersabda:

قَالَ إِِِبْلِيْسُ : يَارَبِّ وَعِزَّتِكَ لاَ أَزَالُ أُغْوِيَنَّهُمْ مَا دَامَتْ أَرْوَاحُهُمْ فِي أَجْسَادِهِمْ , فَقَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِيْ وَجَلاَلِيْ لاَ أَزَاُل أَغْفِرُ لَهُمْ مَاا سْتَغْفَرُوْنِيْ

Iblis berkata: Ya Tuhanku, Demi keagunganMu, aku selalu akan menyesatkan mereka selama nyawa masih menyatu dengan tubuh mereka. Alloh berfirman: Demi Keagungan dan KemulianKu, Aku senantiasa akan mengampuni mereka selama mereka mau meminta ampun kepadaKu. HR Ahmad.

Inilah asal usul (Genealogi} kenapa setan membenci, memusuhi dan berusaha menyesatkan manusia. Maklumat permusuhan sudah mereka lontarkan sejak kehidupan manusia di bumi belum berjalan. Dan konsep penyesatan juga sudah mereka susun ketika benih-benih permusuhan baru mulai bersemi. Obyek sasaran permusuhan dan konsep penyesatan mereka tidak lain adalah kita sendiri, anak dan keluarga, sanak famili, dan tetangga kita serta setiap yang dinamakan manusia selama masih bernyawa. Lantas sudahkan kita mengerti dan menyadari hal ini? Imam Al Ghozali dalam kitab karya beliau yang paling akhir Minhajul Abidin menulis:

Wahai saudaraku, musuhi dan perangilah setan, sebab dia senantiasa berusaha memerangi dan menyesatkanmu siang dan malam, tak ada yang menenangkan setan kecuali kehancuranmu, tiada harapan bagimu berdamai dengan musuh yang satu ini, karena itu sangat naïf jika kamu lupa dan merasa aman darinya. Alloh berfirman:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِيْ أدَمَ أَلاَّ تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٍ

“Bukankah sudah Aku Beritahukan kepada kalian wahai anak Adam, janganlah kalian menyembah setan, karena sesungguhnya dia bagi kalian adalah musuh yang nyata” QS Yasin: 60.

إِنَّ الَّشيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya setan bagi kalian adalah musuh, maka jadikan dia sebagai musuh” QS Fathir: 6.

Syaqiq bertanya kepada Hatim: Sudah berapa lama anda belajar dari saya? Hatim menjawab: Sejak tiga puluh tahun yang lalu. Apa yang anda dapatkan? lanjut Syaqiq. Hatim menjawab: Ada enam hal yang saya dapatkan dan bisa saya amalkan dengan harapan enam hal itu bisa menyelamatkan saya dari fitnah dunia. Syaqiq kemudian meminta agar enam hal itu disebutkan supaya dia juga bisa mengambil manfaat.Hatim menjelaskan bahwa enam hal itu adalah: Pertama, saya membaca ayat yang menjelaskan bahwa tak ada Daabbah baik sebesar gajah atau sekecil nyamuk di bumi ini kecuali Alloh telah menjamin rizkinya. Saya sadar bahwa saya juga termasuk Daabbah yang juga pasti diberi rizqi oleh Alloh. Saya mengerti bahwa jika sesuatu itu telah ditaqdir untuk saya maka sesuatu itu akan datang kepada saya. Karenanya saya pasrahkan semua urusan kepada Alloh dan menyibukkan diri untuk beribadah kepadaNya, Kedua, saya membaca ayat yang bercerita mengenai bahwa orang mukmin itu bersaudara, itu berarti semua orang mukmin adalah saudara saya dan saudara seharusnya mengasihi saudaranya. Saya melihat bahwa permusuhan yang terjadi di anatara manusia pemicunya adalah dengki dan iri hati, oleh sebab itu saya berusaha dengan maksimal mengeluarkan hasud dari hati saya sehingga hati saya merasa berduka ikut merasa di kala saudara seiman di belahan timur bumi menderita atau hati saya merasa senang ikut merasakan kebahagiaan saudara saya di belahan barat dunia. Ketiga,  saya meneliti ternyata semua orang memiliki kekasih dan suatu keharusan seorang kekasih harus membuktikan kasih sayangnya itu kepada orang yang dikasihi. Saya menemukan bahwa kekasih diri saya adalah taat kepada Alloh. Adapun selain itu adalah palsu belaka serta pasti akan berpisah. Ketaatan kepada Alloh itu akan selalu menyertai saya di manapun saya berada. Baik di kuburan, di Mahsyar atau di atas Shiroth. Karena itu saya pastikan untuk memutus semua hubungan kecuali hubungan dengan ketaatan kepada Alloh. Keempat, saya menyaksikan setiap orang mempunyai musuh dan sudah tentu perlu kewaspadaan untuk menghadapinya. Saya berkesimpulan bahwa musuh saya yang sebenarnya adalah orang kafir dan Setan. Bermusuhan dengan orang kafir sangatlah mudah, karena bila terbunuh berarti saya syahid, sebaliknya saya  akan mendapat pahala bila bisa membunuhnya. Sedang Setan sangat sukar dihadapi karena dia melihat kita sedang kita tidak dapat melihatnya. Karena itu saya konsentrasikan diri untuk menghadapinya dan melupakan musuh yang lain. Kelima, saya melihat setiap orang memiliki rumah dan berfikir bagaimana memperindah dan meramaikannya. Saya melihat rumah sejati saya adalah kubur. Karena itu saya selalu beramal untuk meramaikannya. Keenam, saya melihat setiap orang selalu ada yang mencari dan pencari sejati saya adalah malaikat maut, dan saya tidak tahu kapan dia akan datang. Karena itu saya senantiasa bersiap dijemputnya laksana pengantin putri yang senantiasa dan senang pengantin putra datang untuk menjemputnya.

Mendengar penuturan Hatim, Syaqiq segera memujinya dan berkata: Bila saya dan kamu bisa mengamalkan enam hal itu maka pasti kita berdua akan selamat dari fitnah dunia.

Bekas Hitam Kemaksiatan

Iblis telah membantah dan bermaksiat kepada Alloh, karena itulah Iblis menjadi seorang yang hina dan terlaknat. Selain diusir dari surga, hukuman lain yang harus diterima oleh Iblis ialah perubahan yang terjadi dalam bentuk fisiknya hingga bentuk fisik Iblis yang sebelumnya terang kini menjadi gelap. Demikian Abu Rouq Al Bajali mengatakan sebagaimana ditulis oleh Al Qurthubi saat menafsirkan ayat 13  surat Al A’rof.  Hal ini sejalan dengan riwayat Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat Al Hijr ayat 34 dari Said bin Juber yang menyebutkan bahwa ketika mendapat laknat, bentuk fisik Iblis berubah hingga tidak sama atau sama sekali berbeda dengan bentuk fisik malaikat. Jadi kemaksiatan, salah satu dampak yang ditimbulkannya adalah kegelapan. Peristiwa kegelapan atau proses dari terang / putih menuju kegelapan / kehitaman sebagai akibat perbuatan maksiat juga terlambang dalam Hajar Aswad. Saat diturunkan ke bumi, batu dari surga itu berwarna putih bahkan lebih putih dari susu. Rosululloh saw bersabda:

نَزَلَ الْحَجَرُ اْلأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ .

“Hajar Aswad turun dari surga dalam keadaan lebih putih dari susu, kemudian berubah menjadi hitam sebab kemaksiatan-kemaksiatan manusia” HR Ahmad – Turmudzi.

Dalam Tuhfatul Ahwadzi Syarah Jami’ Turmudzi 3/ 525 disebutkan bahwa yang dimaksud oleh hadits di atas ialah, Hajar Aswad menjadi hitam karena dosa-dosa manusia yang pernah menyentuh dan mengusapnya. Hal ini terbukti bahwa dahulu dalam Hajar Aswad masih ada titik – titik putih kemudian berangsur-angsur hilang tertutup warna hitam hingga yang terlihat dari seluruh bagian Hajar Aswad hanyalah warna hitam. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa pernah ada pertanyaan dari para pembangkang (Mulaahidah} kenapa Hajar Aswad menjadi hitam karena kemaksiatan dan kenapa tidak bisa menjadi putih kembali oleh ketaatan? Pertanyaan ini terjawab oleh Ibnu Qutaibah yang pernah berkata: Jika Alloh menghendaki maka bisa saja hal itu terjadi yakni Hajar Aswad menjadi putih kembali, akan tetapi Sunnah Ilaahiyyah telah tergaris bahwa warna hitam bisa mencelup (menutup) warna putih dan tidak sebaliknya. Ibnu Abbas mengatakan bahwa perubahan warna pada Hajar Aswad salah satu hikmahnya ialah agar penduduk dunia tidak bisa melihat perhiasan surga.

Jika sebuah batu yang keras terpengaruh oleh kemaksiatan maka alangkah mudahnya pengaruh kemaksiatan itu menerobos masuk dan memberikan pengaruhnya ke dalah segumpal darah yang terletak dalam dada manusia. Muhibbuddin At Thobari berkata: Hajar Aswad dibiarkan terus menghitam oleh maksiat dan tidak bisa memutih sebab ketaatan, agar manusia menjadikan hal tersebut sebagai sarana mengambil pelajaran bahwa jika maksiat mampu menancapkan pengaruhnya ke dalam sebuah batu yang keras maka maksiat itu akan lebih mudah dan semakin dalam menancapkan pengaruhnya ke dalam hati. Dalam hadits disebutkan:

إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ نَكَتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا أَذْنَبَ نَكَتَتْ فِيْهِ نُكْتَةٌ أُخْرَي وَهكَذَا حَتَّي يَسْوَدَّ قَلْبُهُ جَمِيْعُهُ وَيَصِيْرُ مِمَّنْ قَالَ فِيْهِمْ : كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَي قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ .

“Jika seorang hamba berbuat dosa maka tertorehlah noktah hitam dalam hatinya, jika dosa itu disusul dengan dosa yang lain maka tertoreh lagi noktah hitam yang lain, begitu seterusnya hingga seluruh hati menjai hitam dan pemiliknya menjadi seeorang yang difirmankan oleh Alloh: Sekali-kali tidak (demikian}, sesungguhnya apa yang mereka lakukan itu menutup hati mereka” QS Al Muthoffifin:14.” HR Ahmad Turmudzi, Nasai dan Ibnu Majah.

Bersambung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s