Kelemahanku, Sumber Kekuatanku

Ketika Fir’aun terjebak dalam situasi genting. Ketika tubuhnya tak mampu menghadapi tamparan dan hempasan ombak yang menggulung dan melempar-lemparkan tubuhnya bak seonggok mainan. Ketika itu, kesadaran dan kejujurannya terkuak. Kesombongannya hancur, kemunafikan dan kebohongannya hilang. Nurani dan fitrahnya menyeruak sampai akhirnya ia mengaku beriman kepada Alloh subhana wata’ala. “Amantu birabbi muusa waa haaruun.” Aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun.

Di saat-saat sempit. Ketika seseorang merasa tidak berdaya menyelamatkan diri dari ancaman bahaya. Di saat manusia dibenturkan dengan kondisi yang sulit. Di antara sengal nafas kepayahan dan kecemasan. Biasanya di kala itu kedekatan dan kepasrahannya semakin kuat kepada Alloh. Di kala itulah ketergantungan tulus lahir dan hanya diberikan kepada Alloh subhana wata’ala.

Suasana itulah yang dialami Fir’aun. Dan itulah tabit manusia. Baru merasa kebutuhan yang amat sangat tinggi tatkala diri merasa tak mampu berbuat menghadapi realita. Baru merasakan sangat bergantung kepada Alloh, ketika merasa tak mungkin lagi mencari jalan selamat dari problem. Kondisi tercekam, mencekik, mentok, kerap memunculkan kesadaran fitrah akan kebutuhan perlindungan Alloh subhana wata’ala.
Kita tak perlu mengalami kondisi seperti itu, untuk kemudian buru-buru bergantung penuh kepada Alloh. Haruskah kita melewati masa-masa sulit yang serba dilematis, sangat terancam bahaya, baru kemudian merasa butuh dan bersandar kepada Alloh? Pernahkah kita merenungkan bahwa sebenarnya, sepanjang hidup, manusia selalu dalam kondisi dilematis, sangat terancam bahaya, terbentur ketidakberdayaan, terpepet oleh bayangan musibah dan petaka?

Manusia sebenarnya selalu dalam kondisi kepepet dan terbentur oleh problem berat yang tak mungkin diantisipasi. Pandanglah tubuh kita. Kita akan dapati tiap bagian tubuh ada jalan atau lubang yang rawan bagi datangnya penyakit. Mata, telinga, hidung, kulit, mulut, kaki, tangan. Semuanya retan oleh luka dan penyakit. Belum lagi ditambah penyakit dalam seperti tumor, kanker dan semacamnya yang seringkali nyaris tidak terasa keberadaannya, namun sangat berbahaya.

Itulah manusia. Tubuhnya rentan penyakit. Ibarat kota terbuka yang setiap saat dan dari segala arah dapat diserang dan dirobohkan, tubuh kita nyaris tak mampu membuat perlindungan yang menjamin keselamatannya.

Ketergantungan kepada Alloh (ta’alluq billah) harusnya muncul hanya pada ketika seseorang diuji oleh masalah berat. Jangan menunggu menghadapi kondisi yang sangat memukul. Tak perlu menanti sampai kita jatuh terpuruk hingga tak berdaya menghadapi berbagai ujian. Ketergantungan pada Alloh, rasa pasrah, tawakkal, bersandar penuh atas kehendak Alloh harus ada setiap saat. “Ketahuilah, takdir itu tidak berjalan menurut rencana kita, bahkan kebanyakan terjadi adalah apa yang tidak kita rencanakan, dan sedikit sekali terjadi ada yang kita rencanakan,” ujar Ibnu Athaillah.

Yang dimaksud Ibnu Athaillah tentu bukan mengabaikan usaha apapun untuk diserahkan sepenuhnya pada kehendak Alloh. Karenanya, beliau mengiringi ucapannya itu dengan ucapan Inna tasabbub laa yunaafi tawakkul. Sesungguhnya mengusahakan sebab musabab itu tidak menafikan tawakkal.

Begitu banyak peristiwa yang mengajarkan, bagaimana pun tinggi derajat seorang manusia di sisi Alloh, ia tidak terlepas dari ancaman kesulitan dan problem. Perhatikanlah Umar bin Khattab, seorang penguasa adil yang sangat dicintai rakyatnya. Tapi, bagaimana ia akhirnya sampai terbunuh karena fitnah tuduhan berbuat dzalim? Kalau seorang besar sekaliber Umar mengalami hal seperti itu. Bagaimana dengan kita?
Mungkin muncul pertanyaan lain, apa gunanya menjalin hubungan baik dengan Alloh dan memohon pengawasan Alloh yang luas, jika ternyata para hambaNya yang dicintaiNya, para waliNya yang dekat kepadaNya, tidak selamat dari segala bentuk kezaliman dan tak terlepas dari segala bentuk penipuan? Di mana pagar inayah Alloh sekitar Umar, Utsman dan Ali yang telah dibunuh secara keji?

Itulah sebenarnya rahasia sikap ketergantungan pada Alloh. Siapapun kita, tetap berada dalam kehidupan yang rawan oleh bahaya. Karena itu, ketergantungan pada Alloh mutlak, kapan pun di manapun, sepanjang manusia hidup.

Selanjutnya, mari kita luruskan cara memandang terhadap masalah di atas, sehingga tidak terjebak pada sudut pandang peristiwa, hanya dari sisi lahiriyah. Bagaimana pendapat kita, jika kita mengetahui ternyata beberapa hari sebelumnya wafatnya. Umar dikisahkan telah memohon kepada Alloh agar Alloh mengaruniakan syahid kepadanya? Dan ia memohon agar syahidnya itu bukan di medan perang ketika melawan Parsia, Romawi dan semacamnya. Ia memohon dapat mati syahid di Daarul hijrah, kota Madinah sendiri.

Sepertinya, Umar telah menetapkan cara yang ia pilih dalam menghadapi ajal yang mendatanginya. Umar, dan orang-orang besar sepertinya, mengetahui watak kehidupan dunia ini. Dan mereka mengetahui juga tugas berat yang dipikul para rasul menanamkan bibit keimanan, akhlak, keadilan dan membersihkan berbagai kemungkaran di muka bumi.
Mereka mengetahui dan menyadari tugas itu dan mereka laksanakan tugas berat itu dengan rasa tenang dan gembira. Nasib buruk apapun yang bakal mereka temui di dalamnya, tidak menyusahkan mereka. Kematian bagaimanapun yang mengakhiri hidup mereka tidak menggentarkan mereka. Bahkan kadang-kadang hal itu menjadi cita-cita mereka, sebagaimana permintaan Umar bin Khattab tadi.

Kemenangan. Itulah kondisi jiwa yang pertama menjadi buah ketergantungan pada Alloh. Keberanian. Itulah buah selanjutnya. Ketika Nabiyullah Musa as. dan kaumnya di himpit oleh Fir’aun dan balatentaranya. Di hadapan mereka ada lautan dengan ombak menggunung, sementara di belakang sudah terlihat kepulan debu kuda pasukan Fir’aun siap menerkam. Saat sejumlah Bani Israil merasa ketakutan. Nabiyullah Musa tetap yakin dan pasrah pada Alloh, “Kalla, inna ma’iya Rabbi sayahidiin”, sekali-kali mereka tidak akan dapat menghancurkan kita. Sesungguhnya Alloh bersamaku, dan Dialah yang akan memberiku petunjuk. Katanya tenang.

Kondisi ini tidak muncul tiba-tiba. Nabiyullah Musa telah menanamkan ketergantungan tinggi kepada Alloh dalam perjalanan hidupnya. Karenanya, saat menghadapi situasi gentingpun, jiwa tetap tenang. Keyakinannya itu yang menafikan ketergantungan selain Alloh. Keyakinannya itu yang memunculkan rasa keberaniaan dan ketenangan.

Manusia memang lemah. Alloh lah yang membuat kelemahan itu menjadi kuat. Dengan begitu, kita mengerti kenapa ulama Turki, Badi’uzzaman Said An-Nursy memiliki konsep prinsip yang berbunyi, “Kanzi ajzii,” sumber kekuatanku adalah kelemahanku. Karena pada kelemahan itulah, sandaran pada Alloh semakin kuat, sehingga, supplai tenaga dan keyakinan itu bertambah.

5 thoughts on “Kelemahanku, Sumber Kekuatanku

  1. Jazakallah Pak Ayyub. Alhamdulillah saya mendapatkan banyak pencerahan. Artikel ini sangat mengena sekali terutama diri saya. Ma kasih dah diingatkan. Kapan nih Pak mau ngadain pelatihan membuat blog lagi. Blog saya masih banyak kekurangannya Pak. Temen-temen dah pada siap, hari Sabtu atau minggu aja. Nanti saya konfirm lagi aja deh.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s