Khusyu’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat dahulu menganggap shalat sebagai terminal istirahat. Saat jiwa terasa letih oleh beban perjuangan dan saat tubuh penat oleh berbagai tujuan hidup, generasi terbaik ini mendirikan shalat untuk melepas lelah. Rasulullah pernah meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan dengan mengatakan, “Wahai Bilal, tentramkan hati kami dengan shalat….” (HR. Daruquthni)

Shalat memang supplier ruhani dan pemompa mental. Tanpa shalat, jiwa manusia mungkin saja tak mampu menanggung beban dalam menjalani hidup. Bagi orang yang kerap mengalami penderitaan, shalatlah yang menjadi tempat menumpahkan segala perasaan, menjadi kesempatan mengadu dan waktu mencurahkan semua harapan. Bagi seorang pejuang, seorang juru dakwah, shalat juga yang menjadikannya kuat memikul semua problem dan tantangan yang menghadangnya.

Bersyukurlah kita, Alloh subhana wata’ala mewajibkan shalat lima waktu dalam sehari. Dalam lima kesempatan itu artinya, kita memperoleh input energy baru. Semoga Alloh menjadikan kita orang-orang yang merasakan nikmatnya shalat.

Mungkin kita pernah mendengar Rasulullah bersabda,  “Betapa banyak orang yang menegakkan shalat hanya memperoleh letih dan payah.” (HR. Nasa’i). Shalat yang digambarkan Rasulullah dalam hadits tersebut, tentu bukan shalat yang bisa menjadi penyegar jiwa. Shalat yang hanya bersifat ritual dan tidak memberi kenikmatan bagi pelakunya. Shalat yang hanya berupa gerakan fisik yang senyap dari kedamaian batin.

Salah satu syarat shalat yang dapat memberi pencerahan batin, biasa disebut dengan kata khusyu’. Khusyu’ menurut Imam Ghazali adalah hudhurul qalbi, kehadiran hati, konsentrasi, rasa tunduk, pasrah dan penghormatan yang tinggi kepada Alloh subhana wata’ala.

Umar ra. mengatakan, “Khusyu’ itu bukan menundukkan kepala, tapi khusyu’ itu di dalam hati.” Al-Qur’an menyebutkan khusyu’ adalah tanda pertama orang-orang yang beruntung. “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. Al Mu’minun: 1-2)

Tidak sedikit orang yang sulit menghadirkan kekhusyu’an dalam shalat. Kita begitu terperangah dan nyaris tidak percaya, bila sahabat Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, Ali ra. justru melaksanakan shalat untuk menghilangkan rasa sakit ketika mata panah akan dicabut dari tubuhnya. Sementara menurut Al Ghazali, hilangnya khusyu’ merupakan tanda hilangnya kehidupan dan dinamika hati. Fenomena tidak khusyu’ masih menurut Al Ghazali, adalah seseorang menjadi sulit menerima nasihat dan jiwanya didominasi oleh hawa nafsu.

Orang yang belum terbiasa bekerja berat, akan merasa sangat sulit bekerja mencangkul dan mengolah sawah. Tangannya mungkin lecet, kulitnya terbakar oleh terik matahari dan seluruh tubuhnya terasa linu. Itu dalam konteks pekerjaan fisik. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan konteks pekerjaan batin. Khusyu’ adalah pekerjaan batin. Orang yang tidak terbiasa khusyu’ , dekat, pasrah, tunduk pada Alloh diluar shalat, akan sulit menghadirkan kekhusyu’an di dalam shalat. Khusyu’ dalam shalat sangat terkait dengan khusyu’ di luar shalat.

Kalau hati tidak pernah hidup, tidak ada link hubungan dengan Alloh di luar shalat, tentu sulit menjalin hubungan dengan Alloh di luar shalat, tentu sulit menjalin hubungan yang baik dalam shalat. Bagaimana kita merasakan nikmatnya bertani, mencangkul tanah, seperti yang dirasakan para petani, kalau kita sebelumnya jarang melakukan pekerjaan tersebut? Begitu kurang lebih analoginya. Itulah rahasianya, kenapa sulit khusyu’.

Khusyu’ kepada Alloh tidak hanya dengan menyebut subhanallah, Alhamdulillah atau allahu akbar. Mengingat Alloh adalah dengan hati yang senantiasa berhubungan dengan Alloh.

Melihat ciptaan Alloh, hati merasakan kebesaran Alloh. Melihat peristiwa apapun semakin menyuburkan ingat pada Alloh. Mendapat nikmat, hati mengatakan, “Syukur Alloh tidak menjadikan aku menderita. Hati tersentuh dan malu pada Alloh bila tidak melakukan ketaatan. Bila ditimpat musibah, hati mengatakan, “Mungkin saya berdosa pada Alloh.” Sikap-sikap seperti itulah yang akan semakin menambah kedekatan hati dengan Alloh subhana wata’ala. Itulah yang dimaksud dalam firmanNya, “Mereka yang mengingat Alloh sambil berdiri, duduk dan berbaring.”

Itulah sebabnya, para ahli ibadah mengatakan, “Aku merasa ramai meskipun sendiri.” Kenapa? Karena mereka dalam kondisi terus berdzikir dengan melihat semua fenomena alam dan hatinya mengingat Alloh. Tuhan yang menciptakan semuanya.

Ibarat orang yang sayang dan rindu kepada kekasihnya. Setiap barang kepunyaan kekasih terlihat di depan mata akan membuat hati ingat dan rindu dengan kekasih. Kalau sudah ada benih khusyu’ di luar shalat, maka saat mengambil air wudhu pun sudah khusyu’

Seorang muslim harus berusaha menghidupkan kedekatan hati dengan Alloh, kapapun dan dimanapun. Dalam kalimat nasihat Dr. Fathy Yakan disebutkan, diamnya seorang pejuang di jalan Alloh adalah berpikir, dan bicara lisannya adalah dzikir. Sementara, tokoh ulama asal Mesir Hasan Al Banna menyifatkan karakter seorang mujahid adalah bukan orang yang tidur sepenuh kelopak matanya dan tidak tertawa selebar mulutnya. Maksudnya, itu menggambarkan suasana keseriusan dan kesungguhan seorang pejuang di jalan Alloh.

Apa rahasia dibalik kesungguhan dan keseriusan itu semua? Dalam shalat mereka sangat membesarkan dan mengagungkan Alloh. Di luar shalat mereka juga tetap membesarkan Alloh, hidup sesuai syariat, menjauhi kemungkaran dan maksiat. Alloh menaungi mereka. Sebab ada hubungan  yang sangat kuat, antara shalat dengan prilaku-prilaku sosial. Merekalah yang dimaksud dalam sabda Rasulullah, “Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Alloh, maka Alloh akan menyempurnakan hubunganNya dengan orang tersebut.” (HR. Hakim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s