Mengenalkan Alloh Kepada Anak Melalui Membaca

Wahyu pertama yang diterima oleh Rosululloh saw adalah perintah untuk membaca, yang langsung  dikaitkan dengan niat untuk menyebut nama Alloh Yang Menciptakannya. Iqra’ bismirabbikal ladzi khalaq (bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu). Oleh karena itu pengenalan anak akan aktivitas mem-baca, pada saat yang bersamaan harus dibarengi dengan pengenalan akan kemahabesaran Alloh swt. Membaca dalam hal ini dilakukan dalam kerangka ilahiah, dengan maksud dan tujuan penghambaan kepada Sang Khalik. Banyak hikmah yang bisa diambil kenapa Alloh swt menurunkan wahyu yang pertama adalah perin-tah untuk membaca, salah satunya adalah umat Islam diperintahkan untuk pandai, cerdas dan peka membaca fenomena alam yang terjadi dilingkungannya dengan tujuan akhir untuk berma’rifat kepada Allah.

Upaya yang mesti dilakukan oleh keluarga muslim untuk mengenalkan anak-anaknya akan Sang Pencipta perlu dilakukan sejak usia dini. Hal ini bisa dilakukan dalam berbagai kesempa-tan dan kegiatan, baik yang formal atau nonfor-mal. Pengenalan Alloh dapat dilakukan melalui fenomena alam yang dilihat langsung oleh anak, seperti pegunungan, langit, matahari, laut, bumi, manusia, termasuk dirinya sendiri dsb. Pengenalan melalui media yang langsung dapat dilihat dan dirasakan oleh indera anak akan membekas dan berkesan bagi anak. Karena pd usia ini kemampuan anak untuk mengenal Alloh akan mengalami kesulitan jika digunakan pen-dekatan rasio atau logika, karena anak belum mampu dan keterbatasan anak akan maklumat/pengetahuan awal yang dimiliki.

Tahapan awal yang perlu ditempuh adalah memperbanyak kosa kata pada anak yang ber-kaitan dengan hal-hal yang langsung bisa dilihat atau dirasakan. Bisa dimulai dari dirinya sendiri, kemudian alam semesta dan lingkungan diseki-tar anak. Intinya anak lebih banyak diberi infor-masi tentang alam dan lingkungan sebanyak-banyaknya. Semakin banyak informasi yang masuk ke dalam otak, akan semakin luas cakra-wala berfikir dan kemampuan logikanya.

Cara memasukkan informasi atau kosa-kata kepada anak, bisa ditempuh melalui :
Pertama; orang tua/pendidik berusaha untuk selalu mengajak bicara baik dengan metode pemberitaan, tanya jawab atau diskusi mengenai hal-hal yang berada disekeliling anak. Bahkan ketika anak masih dalam kandungan-pun, dialog bisa dilakukan seolah-olah bayi kita ajak bicara. Atau memperdengarkan kepada bayi kaset-kaset rekaman yang berdimensi ilahiyah atau ceramah keagamaan. Karena hal ini tidak terlepas dari tujuan pendidikan Islam, yaitu mengenalkan anak kepada kebesaran dan keesaan Alloh. Adapun tujuan memperdengar-kan musik/nyanyian yang Islami kepada bayi untuk merangsang perkembangan saraf moto-rik otak anak . Saraf inilah yang mendorong kecerdasan atau berfikir manusia. Hal ini telah dibuktikan oleh para ahli psikologi anak. Dan cara ini bisa diterapkan kepada anak usia balita. Mereka akan cepat merespon nyanyian-nyanyi-an yang didengar, yang bisa dilihat dari kelaku-an anak saat mendengarkan nyanyian yang dia dengar. Kesempatan seperti harus kita manfaat-kan dengan sebaik-baiknya untuk memasukkan nilai-nilai ilahiyah kepada anak-anak.

Kedua; membaca buku-buku cerita didepan anak, supaya anak semakin banyak menerima informasi kosa kata yang belum pernah dia dengar. Di samping itu anak terlatih untuk me-nyimak makna bacaan yang kita baca serta me-mahami nilai-nilai yang terkandung di dalam cerita tersebut. Pilihlah buku cerita yang mena-rik dan mempunyai pesan moral kepada anak. Di sisi lain, pembiasaan pembacaan buku cerita di depan anak adalah memberikan teladan kepa-da anak agar senang membaca buku atau cerita.

Ketiga; membelikan buku-buku cerita ber-gambar kepada anak. Hal ini dilakukan karena umumnya anak senang terhadap cerita bergam-bar, apalagi jika berwarna-warni. Carikan buku bergambar yang mempunyai pesan moral, misal gambar anak perempuan yang mengenakan jilbab, ngaji, sholat,belajar, menolong orang lemah, menyapu, membantu orang tua. Pesan moral melalui media gambar yang berwarna-warni ini akan membawa daya tarik sendiri pada anak, yang diikuti penjelasan dari orang tuanya. Ini akan merangsang anak senang thdp buku.

Keempat;
menghiasi kamar anak-anak dgn gambar atau huruf . Hal ini dilakukan agar anak terbiasa dengan keindahan dan juga proses pembelajaran. Lebih baik lagi jika gambar/huruf yang ditempelkan berwarna-warni, serta ditata dengan artistik yang baik, alangkah baiknya jika gambar/huruf sering diganti dengan gambar/huruf yang lain agar tidak membosankan bagi anak-anak. Disinilah kesempatan bagi orang tua untuk memasukkan pesan-pesan moral dan nilai-nilai ilahiyah kepada anak-anak. Misalnya setiap kali mau berangkat tidur, dampingilah anak untuk berdo’a dan ajak bercerita tentang gambar yang ditempel di dinding, atau sambil menghafalkan huruf-huruf hijaiyah/latin.

Kelima; membawa anak ke toko buku atau perpustakaan. Hal ini juga perlu dilakukan agar anak terbiasa dengan buku baik cerita/bacaan. Ajaklah anak melihat-lihat buku yang merang-sang kemauan anak agar lebih mencintai buku. Dalam hal ini berilah kebebasan kepada anak untuk memilih buku yang menjadi kesenangan-nya, dengan catatan buku yang tidak merusak akhlaq atau aqidah anak-anak. Jika anak sudah sedikit bisa membaca, berikan kepadanya buku bergambar yang ada tulisannya. Lebih baik jika tulisannya agak besar dan bervariasi.

Keenam;
buatkan perpustakaan bagi anak. Tujuannya untuk merangsang anak menyukai buku dan menjadikan buku sebagai sahabatnya. Perpustakaan anak tidak perlu besar, yang pen-ting tertata rapi, indah dan menyenangkan. Bu-kunya pun tidak harus yang baru apalagi mahal, yang penting adalah bersih, rapi dan mempu-nyai pesan moral. Isilah dengan buku cerita yang mendidik, misalnya kisah  Rosululloh saw, sahabat, ulama atau para syuhada. Juga buku-buku ilmu pengetahuan yang bergambar, misalnya tentang dunia flora dan fauna.

Ketujuh; jika anak sudah mampu membaca, ajak berdiskusi/membacakan salah satu cerita buku, untuk melatih anak memahami isi buku juga meningkatkan kegemaran membaca pada anak. Simak saat anak membaca buku, sehing-ga merasa dihargai. Kemudian suruh anak utk menceritakan kembali tanpa buku, tentang alur cerita buku tersebut. Ini melatih anak untuk menangkap dan mengingat-ingat kembali cerita buku tersebut. Dan melatih anak untuk meng-hafal. Kemudian diskusikan isi buku tersebut dengan anak tentang hikmah, nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut. Di saat ini masukkan nilai moral buku tersebut.

Kedelapan; jika anak sudah gemar membaca, beri kepercayaan untuk menulis ringkasan dari isi buku bacaan tersebut, untuk melatih anak mampu memahami isi global bacaan tersebut dan mengambil hikmah dari bacaan. Juga anak terlatih untuk menuangkan buah fikirannya ke dalam bentuk tulisan atau karangan. Kemampuan ini akan muncul manakala anak sudah terbiasa dengan bacaan dan meringkas isi seluruh buku. Arahkan terus anak agar senang menulis atau menuangkan buah fikirannya.

Kesembilan;
jika anak sudah mampu menu-angkan buah fikirannya, suruhlah anak membuat tulisan lepas. Berikan tema/judul karangan yang akan ditulis oleh anak. Bimbinglah cara menulis sebuah karangan/tulisan yang baik. Biarkan anak menuliskan idenya. Berikan peni-laian terhadap tulisan serta berikan masukan-masukan yang baik kepada anak.

Semua tahapan tersebut tidak lepas dari peran orang tua dalam membimbing dan mengarahkan anak. Dalam setiap tahapan masukkan nilai-nilai ilahiyah dan pesan moral kepada anak. Kehangatan dan kasih sayang orang tua sangat dibutuhkan anak dalam hal ini. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s