Hawa Nafsu itu Mempunyai Tipu Daya

Semoga hidayah Alloh swt. Tetap menyertai kita. Mari pererat lagi jabatan tangan kita. Mendekatlah lagi, bersama-sama menghimpun tekad untuk melangkah bersama melewati dinding hidup dan jalan perjuangan yang semakin terjal. Jangan lepaskan tangan saudaramu, dari jalan ini. Rengkuh dia dan tarik untuk tetap berada di sini, dan tidak jatuh.

Kita semua, haus dengan untaian kata, teguran, peringatan yang bisa merasuk dalam jiwa dan mengesankan dalam hati.

Kita membutuhkan nasihat yang bisa menggugah pikiran, menghentak perasaan, mengembalikan kesadaran dari kelalaian.

Kita semua memerlukan sikap tegas, jujur, terbuka yang dapat menunjukkan aib dan kekeliruan. Seperti kata Rasulullah saw. agama itu adalah nasihat. Maka pelaksanaan  nilai-nilai petunjuk Alloh, sulit bisa dilaksanakan tanpa adanya nasihat.

Para salafushalih banyak menganjurkan kita untuk tetap memelihara persahabatan sebaik mungkin, agar lebih mudah menyampaikan nasihat dan peringatan. Abu Darda ra. berkata, “Jika temanmu berbuat salah jangan tinggalkan ia sebab mungkin kali ini ia salah pada saat lain ia baik.”

Hampir sama dengan yang dikatakan Ibrahim An Nakh’i, “Jangan tinggalkan temanmu karena ia berbuat dosa, sebab mungkin saja hari ini ia salah pada hari yang lain ia benar.”

Al Ghazali menganjurkan untuk tetap memelihara persahabatan dan bersikap lemah lembut dengan harapan bisa mendorong teman yang berdosa untuk bertobat karena malu yang timbul dari ikatan persahabatan. Sementara itu, bila pertemanan dan persahabatan diputuskan, dikhawatirkan seseorang akan terus berbuat dosa.

Perhatikan juga bagaimana pengarahan Alloh bagi Nabi Muhammad saw. dalam menghadapi orang-orang yang durhaka kepada-Nya sebagaimana difirmankan dalam surat Asy Syu’ara ayat 216,

“Maka jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Di sini, tak ada orang yang merasa lebih baik dari yang lain. Tak ada orang yang merasa lebih bersih dari orang lain. Tak ada orang yang merasa lebih terpelihara dari orang lain. Tak ada orang yang berhak merasa lebih banyak beribadah dan lebih dekat kepada Alloh swt. dari orang lain. Karena sesungguhnya syaitan mempunyai banyak sekali tipu daya. Syaitan memiliki banyak kemampuan untuk menjerat dan menjatuhkan tanpa mampu kita rasakan.

Beratnya pertarungan kita dengan syaitan itu tergambar dalam cerita tentang Imam Muhammad bin Wasi’. Dikisahkan suatu hari ia pernah memanjatkan doa khusus kepada Alloh swt. Tapi tiba-tiba syaitan mendatanginya dan membisikinya. Syaitan mengatakan, “Wahai Imam, aku berjanji kepadamu tidak akan menganggumu lagi selamanya. Aku berjanji tidak akan mendatangimu lagi. Aku tidak akan mengajakmu melakukan kemaksiatan lagi. Tapi itu semua dengan syarat, engkau tidak memanjatkan doa kepada Alloh dengan yang kau lakukan saat ini dan jangan engkau ajarkan kepada orang lain dengan doa ini.” Imam Muhammad bin Wasi’ segera menyergahnya dan berkata, “Tidak, justru aku akan mengajarkan doa ini kepada siapa yang aku temui. Terserah apapun yang akan engkau lakukan padaku!”

Apakah doa yang diucapkan Imam Muhammad bin Wasi’?

“Ya Alloh, sesungguhnya Engkau memberikan kuasa atas kami, musuh yang mengetahui kekurangan-kekurangan kami. Mereka dan kelompoknya melihat kami dari sisi yang kami tidak melihat mereka. Putus asakanlah mereka dari kami sebagaimana Engkau membuatnyaa putus asa dari rahmat-Mu. Jadikan mereka putus harapan dari kami sebagaimana Engkau membuatnya putus harapan dari maaf-Mu. Jauhkanlah kami dan dia sebagaimana Engkau jauhkan dia dari rahmat dan surga-Mu.”

Seseorang, jika hatinya mati, hatinya kesat, maka akalnya akan meredup dan tidak dapat berfungsi. Orang yang dikalahkan dalam peperangan dengan syaitan, akan banyak keburukan yang menyerap pada dirinya. Syaitan memasuki pada diri manusia pada aliran darahnya. Sesungguhnya manusia ketika ia kehilangan perlawanan dan kehilangan imunitas dirinya, syaitan akan menjadi temannya. Karenanya, yang paling dirasakan menimpa orang-orang yang kalah menghadapi syaitan adalah penyakit ragu-ragu. Keraguan yang ditiup syaitan dalam diri mereka di setiap urusan hidup, agar akhirnya ia terhalang dari jalan Alloh. (Fathy Yakan, Madza ya’ni intimaa ii lil Islam)

Kita akan terus menghadapi berbagai kemungkinan terperosok dan jatuh. Terlalu banyak lubang di sekitar kita yang seringkali kita tidak sempat melihatnya sebagai lubang. Hati-hati untuk tidak bangga dengan sekedar kalimat tekad atau azam. Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan, “Hati-hatilah engkau dari sikap bangga dengan tekadmu untuk meninggalkan hawa nafsu, namun engkau berada dekat dengan fitnah yang bisa menjerumuskan. Ketahuilah, hawa nafsu mempunyai tipu daya. Berapa banyak pemberani di medan perang yang akhirnya terbunuh. Ia terbunuh oleh senjata yang sama sekali tidak ia duga darimana datangnya. Ingatlah peristiwa Hamzah dan Wahsyi.” (Ibnul Jauzi, Shaidul Khatir)

Ingatlah saudaramu. Beritahu dia untuk waspada dari bidikan syaitan yang selalu mengintainya. Selamatkan dia dari sasaran syaitan yang tak pernah berhenti untuk menjatuhkannya.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s