Amal yang Tersisa setelah Ramadhan

Bulan Ramadhan yang telah kita jalani beberapa waktu lalu terasa masih meninggalkan kesan mendalam pada jiwa. Umat Islam seluruh dunia serentak menjalankan puasa, tarawih, tadarus, i’tikaf, dan amal ibadah yang lain. Pada bulan itu kita mengendalikan diri dari perbuatan haram dan dosa, memiliki solidaritas tinggi terhadap kaum fakir miskin, konsen dengan infaq dan sedekah, serta giat berdoa dan berdzikir.

Amal-amal itu mencapai puncaknya bersamaan dengan bergemanya seruan takbir pada hari raya Idul Fitri. Kita bertakbir sebagai ungkapan rasa menang atas berbagai tes keimanan yang menegangkan pada sebulan sebelumnya. Dengan Idul Fitri, kita bersama boleh bersuka cita, bersua dengan keluarga, makan, minum. Hal ini merupakan hidayah Alloh swt yang patut disyukuri. Difirmankan dalam Al Qur’an, yang artinya:

Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan (Ramadhan) dan hendaklah kamu bertakbir atas hidayah yang diberikan kepadamu, dan agar kamu bersyukur. (QS Al Baqarah: 185)

Setelah Ramadhan berlalu, bagaimana dengan amal di bulan Syawal dan bulan lain yang akan kita jalani selanjutnya? Amal-amal yang kita bangun di bulan Ramadhan idealnya bisa terus berlanjut. Setidak-tidaknya di antara amal itu harus ada yang kita pegangi. Toh di bulan Ramadhan kita telah dilatih memegangnya dan berhasil. Ramadhan telah memberi kita energi untuk memanaskan fisik dan mental kita agar tahan dan tidak mengalami futur (kekendoran) yang melampaui batas dalam menjalani ibadah pada sebelas bulan berikutnya.

Dalil yang menunjukkan bulan Ramadhan memiliki mata rantai dengan bulan Syawal, diantaranya. Pertama, disunnahkannya puasa 6 hari di bulan ini. Imam Muslim meriwayatkan bahwa berpuasa Ramadhan lalu diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal nilainya sama dengan puasa setahun. Perhitungannya setiap hari mendapatkan nilai sepuluh. Puasa selama tiga puluh enam hari berarti ada nilai tiga ratus enam puluh sesuai dengan hitungan hari dalam setahun. Puasa ini boleh kita lakukan berturut-turut atau terpisah asal masih di bulan Syawal, paling tidak startnya dimulai dari bulan Syawal. Dr. Yusuf Al Qaradhawi berpendapat rahasia disunnahkannya puasa ini agar kesungguhan di bulan Ramadhan tidak mengalami stagnasi (futur) di bulan Syawal. (Fiqh Shiyam: 120)

Kedua, Nabi saw pernah i’tikaf di bulan Ramadhan dan beliau lanjutkan hingga tanggal sepuluh bulan Syawal seperti ditegaskan Imam Al Bukhari pada bab i’tikaf di kitab shahihnya. Ketiga, Syawal adalah bulan dimulainya pelaksanaan ibadah haji selain bulan Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Inilah penafsiran jumhur ulama atas QS Al Baqaroh 197:

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Keempat, Syawal adalah bulan peningkatan amal, didasakan pada makna akar kata dari Syaala-Yasyuulu yang artinya mengangkat atau meningkatkan.

Dengan adanya mata rantai Ramadhan dengan Syawal maka sisa-sisa pengalaman di bulan suci tersebut harus tetap dipertahankan. Bukan berbalik ke arah yang terendah bersamaan berlalunya Ramadhan. Kesannya amal ibadah hanya diwajibkan di bulan itu. Padahal Alloh swt wajib disembah kapanpun. Walhasil, terus beramal karena sebaik-baik amal adalah amal yang langgeng walaupun sedikit.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s