Visi Pendidikan Islam

Syekh Musthofa Al-Gholayain menyitir semboyan: “Di tangan kamu (wahai para pemuda) urusan masa depan bangsa dan di telapak kakimu pula kehidupan bangsa itu.” Ungkapan ulama Mesir yang produktif ini menggambarkan bahwa maju mundurnya suatu bangsa tidak lepas dari keberadaan pemuda (manusia berumur 15-40 tahun). Jika pemuda di suatu bangsa kuat maka bangsa itu kelak akan maju dan beradab. Sebaliknya bila pemudanya lemah-lemah maka kelak menjadi lemahlah bangsa tersebut.

Bila generasi di suatu bangsa yang diharapkan sebagai penerus sudah bergaul akrab dengan narkotika dan obat-obatan terlarang, bergaya hidup foya-foya, dan berbudaya membuang-buang waktu di satu sisi dan di sisi lain dekadensi (kemerosotan) moral mendominasi diri mereka, maka agaknya bisa diprediksi apa akibat yang tidak lama akan menimpa bangsa itu.

Jauh-jauh hari Allah swt melalui kitab suci Al-Qur’an telah memperingatkan:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah (cemas) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan mereka). Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Q.S. An-Nisaa’: 9)

Ayat tersebut secara tersirat menyeru agar tidak meninggalkan sosok generasi yang lemah, mengkhawatirkan, dan mencemaskan. Kelemahan dalam hal ini ada dua segi, yaitu lemah segi fisik dan materi seperti lemah ekonomi dan tidak terampil serta lemah segi mental spiritual dengan tampilnya generasi yang membelakangi agama dan kebenaran. Rasulullah saw bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ – رواه مسلم

Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. (H.R. Muslim)

Namun bila dua segi kelemahan itu ditimbang maka kelemahan yang paling krusial adalah kelemahan di bidang mental spiritual. Dalam hal ini kekuatan mental spiritual (al-quwa ar-ruhiyah) jauh lebih fondamental daripada sekadar kekuatan fisik dan materi (al-quwa al-maaddiyah wa al-maknawiyah). Secara faktual, kekuatan iman Islam jauh lebih penting dibanding kekuatan bangunan dan senjata, seperti dibuktikan kisah peperangan Badar dalam sejarah Islam dan peristiwa 10 Nopember dalam sejarah lokal. Walaupun kekuatan terakhir ini tetap tidak boleh diabaikan. Bukti fundamentalnya kekuatan mental spiritual bisa disaksikan dalam kehidupan sehari-hari. Allah swt berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُوا اَوْلاَدَكُمْ خَشْيَةَ اِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَاِيَّاكُمْ اِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizqi kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (Q.S. Al-Israa’: 31)

Rasulullah saw bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Orang kuat bukanlah orang yang bisa sekian banyak orang, tetapi dia yang mampu menguasai diri di saat emosi. (H.R. Muslim)

Sementara itu kuat dan lemahnya suatu generasi banyak ditentukan oleh faktor pendidikan. Pendidikan yang baik melahirkan generasi yang baik. Pendidikan yang bobrok menumbuhkan generasi yang bobrok pula. Tidak mungkin tumbuh generasi baik tanpa ditunjang sistem pendidikan yang baik pula.

Disinilah tampak mengapa bangsa itu lemah secara fisik atau bangsa itu lemah secara mental spiritual semata-mata karena faktor pendidikan terabaikan. Khususnya pendidikan mental yang dapat memperkokoh keimanan kepada Allah swt di samping integritas yang tinggi (akhlak) dalam bergaul antar sesama manusia, karena pendidikan mental menjadi pondasi pendidikan bidang-bidang yang lainnya.

Atas dasar ini agama Islam amat menekankan pentingnya pendidikan. Agama yang paripurna ini menyeru untuk menuntut ilmu. Bahkan seruan menuntut ilmu itu hukumnya fardlu. Sabda Rasulullah saw:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap orang Islam. (H.R. Ibnu Majah dan Ibnu Abdil Barr)

Untuk mengetahui seberapa apresiasi Islam terhadap seruan menuntut ilmu, bisa dilihat karakteristik generasi Islam pertama, para sahabat Nabi saw. Mereka bersemangat mengejar kebaikan, bersungguh-sungguh di dalam menerima ilmu, sekaligus mengamalkan, mensyiarkan, dan menyebarkannya. Para sahabat tetap bersemangat belajar, sementara usia mereka senja, sebagaimana diungkapkan oleh Al-Bukhari pada bab ghibthah (iri hati yang positif) terhadap ilmu dan hikmah, dan para sahabat Rasulullah saw belajar, sedang usia mereka senja. (Lihat Shahih Bukhari I : 28).

Para sahabat menempuh perjalanan jauh untuk menuju kediaman Rasulullah saw apabila mempunyai problem atau hal-hal yang sult terpecahkan. Mereka menuju Madinah untuk mendapatkan status hukum Allah sawt atas kasus atau problem yang mereka alami. Kadangkala perjalanan itu harus ditempuh sekian hari dan sekian malam.

Para sahabat senantiasa memberikan perhatian penuh terhadap ilmu, hafalan, dan pengulangan pelajaran yang disampaikan kepada mereka. Sahabat Abu Said Al-Khudri bercerita: “Sahabat-sahabat Rasulullah saw ketika duduk, mereka bercakap-cakap. Materi percakapan mereka adalah fiqh. Bila tidak, maka mereka menyuruh seseorang untuk membaca satu surat AL-Qur’an.”

Para sahabat juga memberikan perhatian terhadap pendidikan kalangan wanita, golongan budak perempuan, dan tetangga-tetangga mereka. Mereka seluruhnya berkonsentrasi pada ilmu, baik yang berstatus kerja maupun tidak. Pedagang di kalangan sahabat berstatus pelajar dan pelajar di antara mereka berstatus pedagang. Mereka serius di dalam menghafal dan mengkaji apa yang didengar dari Nabi saw. Bila mendengar ilmu yang belum dipahami, mereka minta diulang sehingga mereka benar-benar memahaminya. Sahabat Anas bin Malik ra berkata: “Sesungguhnya fulan mengulang pelajaran, kemudian disusul fulan yang lain, maka kami berdiri seakan-akan pelajaran sepertinya ditanamkan pada lubuk hati kami.” Jika Nabi saw tidak datang, para sahabat secara aktif  mengulang hadits di antara mereka (muraja’ah). Jadwal belajar sahabat pun ditetapkan sedemikian rupa sebagaimana khusus kalangan sahabat wanita juga memiliki jadwal belajar tersendiri.

Jauh-jauh hari generasi sahabat telah menerapkan sistem: “Life long education” (pendidikan sepanjang umur) dengan semboyan yang sangat terkenal: “Uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi,” (tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad).

Visi pendidikan Islam bisa digambarkan seperti segitiga. Dua garis vertikal (tegak) dan bertemu pada satu titik serta satu garis horisontal (mendatar). Garis vertikal pertama menggambarkan bahwa ilmu seluruhnya datang dari Allah swt. Apakah itu ilmu agama atau apakah itu ilmu umum. Allah-lah yang mendidik ilmu pertama kali kepada Nabi Adam as, bapak para manusia, yang menjadikannya unggul melebihi para malaikat.  Ini tersirat dari firman Allah swt:

وَعَلَّمَ آدَمَ اْلاَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ اَنْبِئُونِي بِاَسْمَاءِ هَؤُلاَء اِنْ كُنتُمْ صَادِقِينَ

Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!.” (Q.S. Al-Baqarah: 31)

Sedang garis vertikal kedua mengggambarkan seruan untuk membaca (iqro’) dengan segala aktivitas dan dinamikanya. Dan iqro’ itu hendaknya menyertakan “bismi robbika” (dengan menyebut asma Tuhanmu, Allah swt) Dalam aktivitas membaca, ingat dan merenungkan ayat-ayat Allah swt. Dalam membaca apa saja. Ikhlas. Tidak melalaikan-Nya. Aktivitas iqro dengan menyebut asma Allah swt ini menjadi penting karena tersurat dalam Q.S. Al-Alaq ayat 1 yang merupakan wahyu pertama yang diturunkan pertama kali kepada Rasulullah saw.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبّكَ الَّذِي خَلَق

Bacalah dengan menyebut asma Tuhanmu Yang menciptakan. (Q.S. Al Alaq: 1)

Dari dua ayat tersebut, dua garis vertikal itu akan bertemu. Sebagai titik temu di sini adalah Allah swt. Ayat pertama menerangkan ilmu seluruhnya datang dari Allah swt dan ayat kedua menyerukan membaca dengan menyertakan asma Allah swt.

Jadi menurut falsafah itu ilmu harus terus dipacu, namun bersama itu harus diinsafi dan direnungkan bahwa di sana ada Allah swt Dzat Yang Memberi ilmu dan menciptakan perangkat berfikir untuk memproses ilmu itu. Atau ilmu apa saja yang dikejar, target tertinggi (ghoyah) yang harus dicapai ialah Allah swt.

Alangkah indahnya bila kita belajar atau mengajar biologi, fisika, kimia, matematika, bahasa, atau sejarah misalnya, dan kita selalu mengingat Allah swt. Mungkin itu bisa menjadi jalan terobosan yang bisa ditempuh menuju dekat kepada Allah swt. (posisi kewalian) sejajar dengan jalan terobosan yang lain seperti banyak berinfaq, rutin berdzikir, gemar membaca Al-Qur’an, dsb. Dan saat belajar agama mengingat Allah swt itu menjadi hal yang sudah sepantasnya. Terlaknat belajar agama sedang motivasinya selain Allah swt.

Garis dalam segitiga berikutnya ialah satu garis horisontal (garis mendatar). Garis ini menggambarkan emosi manusia. Emosi manusia hendaknya datar (stabil). Dan kalau faktor dalam dua garis vertikal di muka sudah dipenuhi agaknya mudah membangun dengan baik emosi secara datar. Menjadi manusia yang walaupun tinggi ilmu namun tetap rendah hati dan santun. Tidak arogan tidak juga iri dengki. Meski intelek, tetap ramah, cinta kasih, lemah lembut, dan kasih sayang. Inilah belakangan yang disebut dengan EQ (Emotional Quotient) atau derajat emosi (perasaan).

Dari visi pendidikan ini Islam membentuk sosok generasi yang sholeh sholehah. Ukuran kesholehan yang mendasar pertama kali adalah keimanan dan keislaman. Alangkah bahagianya orangtua yang memiliki anak-anak yang sholeh sholihah. Kebahagiaan ganda duniawi dan ukhrawi. Rasulullah saw bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَشْيَاءَ : مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika manusia mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya. (H.R. Abu Dawud III : 117 hadits nomor 2880)

Di samping orangtua bahagia, masyarakat juga merasa tenteram bila bergaul bersama anak-anak yang sholeh sholehah. Mereka tidak merepoti dan membebani, justru membantu. Karena anak-anak yang sholeh sholehah bergantung penuh kepada Allah swt. Dan Allah swt sendiri menjamin perawatan mereka. Atas dasar ini khalifar Umar bin Abdul Azis menjelang wafat tidak mencemaskan putera puterinya walaupun tidak mewariskan harta sepeser pun kepada mereka karena beliau telah membekali mereka dengan kesholehan diri. Dalam Al Qur’an dinyatakan:

اِنَّ وَلِيّي اللهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِين

Sesungguhnya pelindungku ialah Allah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia merawat orang-orang yang sholeh. (Q.S. Al A’raaf: 196)

Bumi seisinya ini semestinya adalah harta warisan milik generasi yang sholeh sholehah yang akan merawat bumi seisinya dengan sebaik-baiknya. Bukankah bumi rusak saat dikelola generasi yang tidak sholeh sholehah, generasi yang amoral, tidak beriman, durhaka, dan kufur? Allah swt berfirman:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذّكْرِ اَنَّ اْلاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِي الصَّالِحُون

Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) lauhul Mahfudz, bahwasanya bumi ini dipusakai oleh hamba-hamba-Ku yang sholeh. (Q.S. Al Anbiyaa’: 105)

Maka kesadaran menerapkan visi pendidikan Islam dalam sistem pendidikan lokal, nasional, maupun skala apa saja rasanya sangat perlu dan mendesak agar terbentuk sosok generasi sholeh sholehah senyampang belum terlambat; bumi dan seisinya ini bisa diselamatkan dan belum rusak serusak-rusaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s