Mengevaluasi Nafsu

Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa nafsumu merupakan musuh paling hebat sebab bisa mengahalangimu untuk berbuat taat dan memerintahkanmu untuk berbuat maksiat. Alloh berfirman, “Aku tidak merasa bersih dari kesalahan. Sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan kepada kejahatan, kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhan. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53)

Oleh karena itu, kita harus terus mengontrol nafsu kita setiap saat. Posisikanlah nafsu tersebut seperti binatang yang kau pakai sebagai kendaraan. Setiap kali menyimpang dari jalan yang benar, kita akan memukul dan meluruskannya agar konsisten dan kembali ke jalurnya.


Seandainya kita memperlakukan nafsu seperti baju, yakni setiap kali kotor dicuci dan setiap kali koyak ditambal, pasti engkau akan berbahagia. Bisa jadi ada orang yang janggutnya sudah memutih dan rambutnya sudah beruban, tetapi ia masih tidak duduk bersama Alloh guna mengevaluasi nafsunya yang menyimpang. Sayangnya kita memperlakukan nafsu kita seperti seorang suami yang mendapati istrinya di kedai minuman keras dalam keadaan sedang menari dan berdansa. Ia justru diberi pakaian bagus dan berbagai makanan yang lezat sebagai imbalan jasanya.

Demikianlah, ketika nafsu kita meninggalkan shalat kita rela saja. Atau ketika melakukan maksiat engkau malah memberinya daging serta berbagai makanan dan buah yang lezat, lalu ia dihiasi dengan pakaian yang indah dan mewah. Kita tak pernah mencela perbuatannya. Berusahalah untuk mencela dan melakukan control yang keras terhadap nafsu kita. Itulah jihad terbesar yang dikatakan oleh Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Kita kembali dari jihad kecil kepada jihad yang besar.”

Namun demikian, wahai saudaraku, apakah kita akan berjihad melawan hawa nafsu, sementara sesudah itu kita menuruti keinginan syahwat, member padanya makanan yang lezat, mewujudkan baginya semua keinginan, serta membiarkannya istirahat dari segala ibadah dan keluar dari garis taat.
Apabila kita melakukan semua itu berarti kita bodoh tentangnya, tidak mengetahui perihal kondisinya, serta tidak bias mengaturnya secara baik. Sebab, bila kita memberi semua yang menjadi keinginan nafsu, kita ibarat orang yang menemukan ular berbisa di rumahnya. Lalu ular itu ia beri makan setiap hari sehingga pada suatu hari ular tersebut menyerang dan membunuhnya.

Seandainya Alloh hanya member akal tanpa nafsu pastilah kita taat dan tidakbermaksiat. Sebaliknya, seandainya kita diberi nafsu tanpa akal pasti kita terus bermaksiat tanpa mau taat. Oleh karena itu, Alloh berikan untuk kita kalbu, akal, nafsu dan keinginan. Manusia tak ubahnya seperti lebah yang memiliki sengat dan madu. Madu berasal dari penyerbukkannya, sedangkan sengat berasal dari serangannya.

Oleh karena itu, Alloh hendak mematahkan ajakan nafsu dengan kalbu, dan ajakan kalbu dengan nafsu. Kalau ada orang yang berteman dengan kita selama sehari atau dua hari, tapi ia merasa tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari kita pasti ia akan pergi meninggalkanmu. Tapi anehnya, kita berteman dengan nafsu kita selama empat puluh tahun tanpa manfaat apa-apa, tetapi engkau tidak juga meninggalkannya.
Wahai saudaraku, tinggalkan nafsu dengan wajah kesal dan marah. Katakan padanya, “Kembalilah engkau wahai nafsu ke haribaan rida Tuhanmu! Kalau aku selama ini sudah mengikuti keinginanmu maka sekarang engkau harus membiarkanku melakukan ketaatan.” Sebagai implikasinya, kita akan sibuk dengan berdzikir pada Alloh dan mengabdi kepada-Nya setelah sebelumya lalai, engkau akan diam setelah sebelumnya berbicara kosong, kita akan duduk berkhalwat setelah sebelumnya sibuk dengan orang, kita akan merasa senang bersama Khalik setelah sebelumnya senang bersama makhluk, engkau akan suka mendengar dan membaca Al-Qur’an setelah sebelumnya menyukai bunyi dan nyanyian, serta kita bergaul bersama orang baik setelah sebelumnya bersahabat dengan teman jahat.

Wahai saudaraku,bila kita mengevaluasi dan melatih nafsu, ubahlah diri kita secepatnya. Gantilah begadang dalam maksiat dengan begadang dalam taat. Gantilah kesenangan bergaul dengan hamba dunia dengan berpaling dari mereka. Setelah sibuk mengabdi pada mereka, mengabdilah pada Alloh swt. Setelah memperhatikan perkataan mereka, perhatikanlah perkataan Alloh. Setelah menghabiskan waktu dengan ghibah dan membicarakan orang, sibuklah dengan taubat dan istighfar. Setelah makan banyak karena mengikuti syahwat, makanlah sedikit untuk membantu beribadah dan melaksanakan kewajiban. Sehingga kita makan dalam rangka ibadah bukan karena selera semata. Selain itu, kita harus membicarakan nikmat Alloh setelah tadinya berpakaian hanya untuk kebanggaan dan dikenal orang. Kita harus menikahi seorang istri demi untuk mengekang nafsu dari melihat wanita. Terakhir, carilah ilmu agar bermanfaat untuk dirimu kemudian ajarkan pada orang lain demi mencari rida Alloh. Ikhlaskan niat kita untuk Alloh baik dalam haji, sedekah, ucapan maupun amal perbuatan agar sesuatu yang tadinya hanya bersifat kebiasaan bernilai ibadah, serta agar kita menjadi seorang rabbani dalam setiap amal dan setiap keadaan. Alloh berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Wahai saudaraku, janganlah termasuk orang yang menyerahkan kalbunya pada nafsu. Bagaimana menurutu kalau seseorang bisa melihat, tetapi minta dituntun oleh orang yang buta? Wahai hamba Alloh, kalau orang mempercayakan sesuatu kepada seorang wakil, tetapi ia mengetahui kalau wakilnya berkhianat, pasti ia akan menarik kepercayaannya. Begitu pula kondisi nafsu kita. Kita sudah mengetahui kalau ia berkhianat. Oleh karena itu, putuskan hubungan dengannya dan musuhilah ia. Hadapilah dengan sikap tegas agar ia berhenti menyeleweng.

Ketahuilah, pangkal setiap maksiat dan kelalaian adalah rida dan mematuhi nafsu. Sedangkan pangkal ketaatan dan kesadaran adalah membangkang dan menentangnya.
Orang yang tidak dapat mengontrol nafsu, ia akan dikontrol nafsu. Dan orang yang tidak bisa menuntut nafsu, ia akan dituntut nafsu. Oleh karena itulah, seandainya kita menyibukkan nafsu kita dengan ketaatan, ia tak akan mengajak pada maksiat dan memikirkannya. Apakah kita pernah lihat orang-orang saleh bergembira di hari raya? Orang yang menyibukkan diri dengan hal-hal yang mubah dan begadang dengannya, pasti ia tak bisa shalat malam. Dikatakan padanya, “Nafsumu telah membuatmu lalai dari Kami. Maka Kami pun membuat lalai dari ibadah.”

Hari raya hanya milik orang yang telah mengalahkan dan mengekang hawa nafsunya. Hari raya hanyalah milik orang yang mempunyai akhlak mulia, mengenal Tuhannya dan membinasakan nafsunya.

Suatu ketika Hasan al-Bashri melewati seorang pemuda sedang tertawa gembira bersama teman-temannya. Ia lalu bertanya, “Wahai anak muda, apakah kamu sudah pernah meniti al-shirat? Jawab pemuda itu, “Belum.” Hasan al-Bashri kembali bertanya, “Apakah kamu mengetahui akan ke surge atau neraka?” Ia menjawab, “Tidak.” Kemudian Hasan al-Bashri berkata, “Kalau begitu mengapa kamu tertawa?” Diceritakan bahwa setelah dialog tersebut pemuda tadi tidak pernah terlihat tertawa kecuali setelah meninggal. Sebab, ia bertobat dan merasa menyesal. Ia terus bersedih sampai akhirnya menemui Tuhannya dalam keadaan beriman.

Kita, wahai saudaraku selalu tertawa terbahak-bahak, pergi ke club malam dan tempat maksiat-maksiat lainnya. Kita menyaksikan bioskop dan konser-konser music dengan senang, bahagia, bermain dan berhura-hura seakan-akan pernah meniti al-shirath, menyeberangi neraka jahanam, memperoleh ampunan Tuhan dan selamat di hari perhitungan. Syekh Makin al-Din al-Asmar berkata, “Dulu aku biasa mengevaluasi diri di waktu petang. Aku selalu berujar, “Hari ini aku telah berbicara ini dan itu. Kudapati ada tiga atau empat kata. Aku pun kemudian beristighfar dan bertobat kepada Alloh.”[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s