Menjual Dunia

Wahai saudaraku, siapa yang tak ingin bahagia dengan mempunyai harta? Siapa yang tak bercita-cita mempunyai tempat tinggal luas dan nyaman? Siapa yang tak mau kebutuhan hidupnya terpenuhi dengan baik? Siapa yang menolak memiliki penampilan yang membuat orang kagum? Itulah semua, bagian dari keindahan dunia yang ada pada obsesi setiap orang, termasuk kita tentunya.

Ad-duniya khadhirah khulwah. Dunia itu hijau, manis. Begitu salah satu sebutan baginda Rasulullah saw terhadap dunia. Manis, lezat, indah, menarik, memikat, memukau. Entah kata apalagi yang bisa menyifati kenikmatan dunia. Kenikmatan yang ada penggalan hidup yang pendek, ketimbang kehidupan akhirat yang panjang tanpa batas. Kelezatan yang ada potongan perjalanan yang hanya sebentar, dibandingkan perjalanan jauh yang lama menembus waktu. Allahumma, laa asiya illa aisyal akhirah. Ya Alloh, tidak ada kehidupan selain kehidupan akhirat.

Wahai saudaraku, biarlah obsesi atau keinginan itu ada, karena memang sudah jadi garis fitrah yang Alloh swt ciptakan untuk manusia. Dalam kitab Fi Zilalil Qur’an, Sayyid Quthb menguraikan panjang lebar tentang firman Alloh surat Ali Imran, ayat 14. Menurut beliau, ayat itu menunjukkan secara fitrah manusia memang memiliki kecenderungan pada wanita, anak-anak, perdagangan, emas, perak, kendaraan dan sawah lading. Namun beliau menuliskan dua rambu penting terkait hamparan syahwat yang Alloh berikan itu.

Pertama, Alloh menghamparkan syahwat-syahwat itu adalah untuk perjalanan sementara manusia di dunia, dan agar diposisikan secara seimbang, pertengahan dan tidak berlebih-lebihan, Kedua, syahwat-syahwat ini dihamparkan Alloh untuk seorang mukmin tidak lebih untuk membantunya melakukan ketaatan pada Alloh, beribadah, menenangkan batin dan agar dikendalikan untuk menembus kehidupan yang pendek dengan aman hingga kehidupan lain yang abadi.

Maka, wajar jika orang ingin kaya. Selama keinginan itu tidak melebihi kecintaan pada akhirat, dan selama kekayaan itu tidak menghalanginya untuk melakukan ketaatan dan kesalihan. Sebaliknya, biasa saja jika akhirnya ada di antara kita yang tak berlimpah harta. Asal keadaan itu tidak menjadikan kita lupa akhirat dan tidak menjauhi kita dari ketaatan dan kesalihan.

Wahai saudaraku. Ingat, obsesi keakhiratan itulah yang harus kita miliki. Dengan begitu kaya, miskin, senang, susah, semoga tidak pernah menganggu ketundukan kita pada Alloh swt dan kebahagian di akhirat. Itulah salah satu alasan kenapa para salafuhsalih kerap menganjurkan kita untuk lebih mengutamakan akhirat ketimbang dunia. Ibnu Abbas bahkan mengistilahkan dengan menjual dunia untuk akhirat. “Wahai Ibnu Adam, juallah duniamu dengan akhiratmu. Pasti engkau akan memperoleh untung dari kedua-duanya. Jangan jual akhiratmu dengan duniamu, karena jika begitu engkau akan mengalami kerugian dari kedua-duanya.”

Menggantungkan obsesi keakhiratan juga menjadi ciri para pendahulu kita. Sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud ra yang suatu hari berkata kepada para sahabatnya. “Kalian mungkin saja lebih banyak puasa, lebih banyak melakukan shalat dan lebih banyak melakukan ijtihad ketimbang sahabat Rasulullah saw. Tapi tetap saja mereka dahulu itu tetap lebih baik dari kalian.” “Bagaimana mungkin bisa demikian, wahai Abdurrahman –sebutan Ibnu Mas’ud?” Tanya para sahabatnya. Ibnu Mas’ud menjawab, “Mereka dahulu lebih zuhud (tidak cenderung dan tidak tergantung pada dunia) dan lebih mencintai akhirat.”

Mengutamakan akhirat bukan berarti menolak jabatan dan kekayaan. Hasan Al Bashri juga orang yang zuhud meski ia seorang saudagar kaya. Indah sekali apa yang dikatakan Hasan Al Bashri dalam zuhud, “Zuhud itu bukan di dunia dengan mengharamkan yang halal, menyia-nyiakan harta, tapi dengan lebih menyakini apa yang ada pada Alloh ketimbang apa yang ada ditanganmu.”

Wahai saudaraku, mari diam sejenak. Renungkan bagaimana asal kejadian kita di sini. Lalu bagaimana keadaan kita saat pertama ada di sini, di dunia. Kemudian bagaimana perguliran waktu demi waktu, hingga akhirnya kita ada di sini, di tempat ini.

Kita memang bukan apa-apa. Dan tidak sebagai apa-apa. Kita hanya ciptaan Alloh yang sangat mutlak bergantung pada kasih sayang dan karunia-Nya. Muhammad Al Qurazi, salah seorang yang dekat dengan khalifat kelima Umar bin Abdul Aziz  pernah bercerita, “Aku mendatangi Umar bin Abdul Aziz saat ia jatuh sakit menjelang wafatnya. Aku menatapnya lama sekali. Ia bertanya padaku, “Ya Ibnu Ka’ab, kenapa engkau melihatku tajam sekali?” Aku mengatakan, “Aku terkejut melihat kondisi badanmu dan perubahan warna kulitmu.” Ia mengatakan, “Bagaimana jika engkau lihat aku 3 hari setelah aku di dalam kubur?” Itulah kita. Yang tak sama sekali tak layak berbangga dan berkuasa.

Wahai saudaraku, berjalanlah terus, apapun kondisi hidup yang kita lalui. Jangan jadikan obsesi kita ada dalam hidup di dunia, tapi sebaliknya tanamkan keinginan kita sepenuhnya pada akhirat. Jangan salah meletakkan cita-cita. Karena salah meletakkan cita-cita, akan membuat diri bergantung pada harta, tergantung pada jabatan, tergantung pada ambisi yang tak ada habisnya. Itulah sumber ketidaktenangan dan awal segala kemaksiatan.

Ibnul Qayyim bahkan memandang keadaan itu sebagai akar kemaksiatan yang paling pertama. Kata beliau, akar kemaksiatan, besar dan kecil, ada tiga. Ketergantungan hati pada selain Alloh, tunduk pada kemarahan, dan dikalahkan oleh kekuatan syahwat. Beliau menguraikan, puncak ketergantungan hati pada selain Alloh adalah syirik. Puncak kemarahan pada amarah adalah membunuh. Dan puncak dikalahkan oleh kekuatan syahwat adalah zina.

Jangalah terjerumus pada tiga jurang itu wahai saudaraku. Mari saling berpegang di jalan ini. Saling membantu bila di antara kita yang akan jatuh ke dalamnya. Bertahanlah karena perjalanan kita di dunia ini tidak akan lama, dan hanya sebentar. Bertahanlah…wahai saudaraku.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s