Gelap itu Mencekam

Dalam surat Al Ahzab ayat 45-46 Alloh swt. menyebut Rasulullah saw. denga istilah as siraaj al muniir. Artinya, pelita yang menerangi. Disebut pelita yang menerangi, karena Rasulullah saw. membawa cahaya tauhid sekaligus melenyapkan kegelapan syirik.

Rasul saw. datang membawa pelita yang menghilangkan pekat dan gelapnya penghambaan kepada selain Alloh menuju benderangnya penghambaan hanya kepada Alloh. Sinar petunjuk yang dibawanya, telah mengusir gulita kesyirikan lalu menggantinya dengan cahaya yang membuat kita bisa melihat dengan jelas kehidupan ini.
Seperti itulah yang diungkapkan Az Zamakhsyari, “Alloh swt. menyifati Rasulullah dengan as siraaj al muniir karena Dia mengutus Rasul-Nya untuk menghilangkan gelapnya kesyirikan, menunjukkan orang-orang yang tersesat, sebagaimana hilangnya gelap malam oleh cahaya matahari yang bersinar.”

Wahai saudaraku, syirik, menyekutukan Alloh swt. itu, memang kegelapan. Gelap dan pekat, karena syirik memang menjadi orang gelap mata meluapkan hasrat dan keinginannya secara membabi buta. Gelap gulita, karena syirik menciptakan kegelapan hati yang selalu memunculkan kekalutan dan kegelisahan yang tak pernah ada habisnya. Gelap karena menyekutukan Alloh swt. dalam tingkatan paling kecil sekalipun, akan mengguncang dan mengombang-ambingkan hidup seseorang. Selalu seperti itu kondisi orang yang berada dalam kegelapan.

Wahai saudaraku, kondisi gelap akan kita rasakan dengan merenungkan keadaan sebaliknya, yakni dengan terang benderang. Renungkanlah apa makna yang terkandung dalam istilah as siraah al muniir itu. Lihatlah, lampu yang menggantung di langit rumah kita. Perhatikanlah cahaya lampu itu memenuhi seluruh ruangan kamar, hingga kita bisa melihat banyak benda-benda yang ada di dalam ruangan. Betapa sinar cahaya itu telah membuka mata kita, sehingga kita bisa bergerak, melangkah dan berjalan dengan nyaman dan tenang, tanpa berbenturan dengan benda lain.
Perhatikanlah wahai saudaraku, bagaimana sinar lampu itu menyebar dan mengusir semua gelap. Padahal dalam gelap kita tidak mampu menangkap gambar dan benda-benda di sekeliling kita. Dan dalam gelap kita tak mungkin bisa berjalan dengan tenang dan stabil. Dalam gelap kita akan berjalan tertatih, perlahan, berbenturan dengan benda lain, hingga terpeleset dan jatuh. Betapa luar biasanya peran sinar dan cahaya itu.

Bagaimana saat kita disinari oleh sinar matahari di waktu siang? Dan bagaimana kondisi saat kita harus melewati malam begitu gelap dan hitam pekat, tanpa sinar sedikitpun? Renungkanlah ini wahai saudaraku.
Alhamdulillah ya Alloh, puji dan kesyukuran memang hanya milik-Mu atas segala karunia dan cahaya petunjuk-Mu kepada kami semua.

As siraaj yang umum diterjemahkan dengan pelita, mempunyai kedekatan makna dengan al mishbah yang berarti lampu. Keduanya sama-sama memancarkan cahaya. Alloh swt. menyebutkan kata Al Mishbah dalam Al Qur’an surat an Nur ayat 35. Dalam firman-Nya itu, Alloh mengumpamakan cahaya-Nya denga al mishbah yang menerangi langit dan bumi. Seorang mukmin adalah pemilik hati yang bersinar. Cahaya hatinya berasal dari cahaya Alloh yang menerangi langit dan bumi. Yakni, cahaya tauhid yang datang dari keimanan laa ilaaha illallah.

Itulah sebabnya hati seorang mukmin dikatakan Ubay bin Ka’ab ra. memiliki lima cahaya. “Seorang mukmin selalu berada dalam lima cahaya. Pertama, ucapannya cahaya. Kedua, ilmunya cahaya. Ketiga, tempat masuknya adalah cahaya. Keempat, tempat keluarnya cahaya. Kelima, tempat kembalinya cahaya di hari kiamat. Sementara orang kafir selalu berada dalam lima kegelapan. Pertama, ucapannya adalah kegelapan. Kedua, amalnya kegelapan. Ketiga, tempat masuknya adalah kegelapan. Keempat, tempat keluarnya kegelapan. Kelima, tempat kembalinya kegelapan di hari kiamat.”

Wahai saudaraku, tetaplah berhimpun di sekitar cahaya. Jangan menjauh dari terpaan sinar cahaya Alloh swt. agar kita tidak kehilangan arah dalam melangkah. Jangan membuat jarak dengan cahaya Alloh swt. agar kita tetap dapat melihat dan bisa meraba jalan yang harusnya kita lalui. Renungkanlah perkataan begitu dalam maknanya dari lisan Abu Bakar Ash Shiddiq ra. “Kegelapan itu ada lima, dan pelita dalam kegelapan itu juga ada lima. Cinta dunia itu kegelapan, pelitanya adalah takwa. Dosa itu adalah kegelapan, pelitanya adalah taubat. Kubur itu adalah kegelapan, pelitanya adalah Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah. Akhirat itu adalah kegelapan, pelitanya adalah amal shalih. Dan shirat (jembatan) itu adalah kegelapan, pelitanya adalah iman.” Itulah peta kegelapan dan cahaya dalam hidup kita.

Wahai saudaraku, perkuatlah pegangan tangan kita di sini. Agar kita tetap berada di sekitar cahaya. Karena gelap itu mencekam. Karena gelap itu benar-benar menakutkan. Bahkan seorang shalih Abdullah bin Mubarak ra. pun menangis karena gelap. Dalam sebuah perjalanan, beliau pernah bermalam di sebuah tenda diselingi petir dan tiupan angin yang mengulung-gulung. Karena tiupan angin, lampu yang di dekat beliau padam. Setelah lampu itu dinyalakan kembali, para sahabat beliau terherang melihat wajah Abdullah bin Mubarak sudah penuh air mata. Sambil terisak, Abdullah bin Mubarak mengatakan, “Kegelapan tadi mengingatkanku dengan kegelapan di liang kubur.”

Wahai saudaraku, jauhilah kegelapan. Kita, akan tetap di sini, dengan memelihara pelita cahaya yang ada di sekitar kita. Sambil terus menjalani hidup, menapaki lorong-lorong waktu, dan menembus belukar fitnah dan ujian. Sampai perjalanan ini benar-benar berakhir. Karena kegelapan itu mencekam. Karena kegelapan itu menakutkan. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s