Sabarlah Beberapa Saat Lagi

Sedikit sekali orang yang sadar,jika hati setiap kali didera ujian yang tak pernah putus. Diombang-ambingkan oleh pilihan-pilihan. Pilihan kebaikan atau keburukan. Ditarik dengan arah yang berlawanan. Antara tarikan ke arah ketaatan atau tarikan ke arah kedurhakaan. Ditekan ke berbagai arah. Tekanan untuk tetap melangkah di atas jalan yang lurus menuju Alloh swt. Atau tekanan yang mendorong untuk menyimpang.

Bacalah bagaimana Alloh swt. Menjelaskan hal itu, “Dan Alloh berbuat demikian untuk menguji apa yang di dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Alloh Maha Mengetahui isi hati.” (QS. Ali Imran: 154). Lihatlah firman Alloh swt dalam surat Al Hujarat ayat 3, “Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Bagaimana dengan hati kita? Berapa kali dalam menghadapi ujian itu kita jatuh terperosok? Berapa kali dalam melewati ujian itu kita menjadi lemah dan tak berdaya? Berapa kali juga dalam menghadapi ujian itu kata berhasil? Atau merasakannya?

Mari kita periksa kondisi hati kita masing-masing. Seperti yang disabdakan Rasulullah saw., “Berbahagilah orang yang disibukkan aib-aib dirinya daripada aib-aib orang lain.” Ada banyak tanda-tanda hati yang tidak sehat dan gagal dalam menghadapi ujian. Ada banyak juga tanda hati yang sehat dan berhasil lulus dalam melewati ujian. Ciri-ciri hati yang tidak sehat adalah hati yang tidak terluka oleh perilaku dosa dan kelalaian. Hati yang tidak dan jarang memendam keinginan untuk bertaubat setelah melakukan dosa. Hati yang justru merasakan tenang dan nikmat setelah melakukan kemaksiatan. Hati yang membenci kebenaran dan merasakan sempit karenanya. Hati yang masih takut kepada selain Alloh.

Kebalikannya, hati yang selamat dan sehat, selalu mendorong pemiliknya untuk bertaubat. Hati yang senantiasa ingat Alloh. Hati yang tidak bosan beribadah pada Alloh. Hati yang merasa sakit sangat karena kelalaiannya. Hati yang merasa tentram dan nyaman dalam sholat. Hati yang lebih memperhatikan diri untuk memperbaiki diri dan sedikit memperhatikan amal yang telah dilakukan.

Wahai saudaraku, hati kita, sesuai dengan fitrahnya memang mengandung unsur hidayah, syahwat dan nafsu. Itulah yang menjadikannya selalu berada dalam suasana tarik menarik antara pasukan malaikat dan syaitan. Hati menjadi lahan pertarungan yang tidak pernah selesai antara malaikat dan syaitan. Satu pertarungan baru berakhir saat hati dikuasai oleh salah satunya. Tapi setelah itu berkecamuk lagi dalam bentuk yang lain. Pasukan syaitan menjadi lemah dengan suasana hati yang selalu ingat Alloh swt. Dan selalu mengumandangkan lafaz-lafaz dzikrullah.

Imam Ghazali rahimahullah mengibaratkan, hati itu seperti benteng. Sementara syaitan adalah musuh yang berusaha memasuki benteng, merampas dan menguasainya. Untuk menjaga benteng, diperlukan pasukan yang menjaga seluruh pintu dan celah yang bisa menjadi sarana musuh untuk masuk. Para penjaga pintu benteng, tak mungkin bisa melakukan tugasnya kecuali mereka yang dengan detil mengetahui di mana pintu-pintu benteng yang biasanya menjadi sasaran masuknya musuh.

Orang yang berjalan menuju Alloh dan negeri akhirat, dan bahkan setiap orang yang berjalan mencapai tujuannya tidak akan bisa menyelesaikan perjalanan dan mencapai tujuannya kecuali dengan dua kekuatan, quwwah ilmiyah (kekuatan ilmu) dan quwwah amaliyah (kekuatan amal). Dengan kekuatan ilmu, seseorang dapat memetakan perjalanan dan mengetahui di posisi mana ia berada dan apa yang harus dilakukan. Dengan kekuatan ilmu, seseorang juga dapat menghindar dari celah-celah yang dapat mencelakakan, tempat-tempat licin yang dapat membuat tergelincir, jalan menyimpang yang akan makin menjauhkan dari tujuan. “Kekuatan ilmunya akan menjadi seperti pelita cahaya di tangannya di mana ia dapat berjalan di malam yang sangat gelap pekat sekalipun tapi ia bisa diterangi dengan cahaya itu dan tetap berjalan,” begitu urai Ibnul Qayyim.

Sedangkan dengan kekuatan amal, kata Ibnul Qayyim, pasti dan harus beriringan dengan kekuatan ilmu tadi. Ketika seseorang telah mengetahui jalan yang harus ia tempuh, menyadari rambu-rambu yang harus ia patuhi, melihat sisi-sisi yang bisa menjadikannya jatuh atau menyimpang dari tujuan, maka sisanya amal dan tindakan. Ia harus menempuh satu persatu, fase demi fase perjalanan.

Ibnul Qayyim menguraikan kisah perjalanan seorang hamba, “Dan ketika seseorang telah menempuh jarak yang panjang dan mengetahui bahwa tujuan perjalanannya tak lama lagi akan tercapai, ia mengatakan, “Berbahagialah wahai jiwa. Rumah sudah dekat. Jalinan kasih sudah akan saling bertemu. Jangan kau putus di tengah jalan sehingga akan ada jarak antaramu dan rumah orang-orang tercinta. Tak ada jarak yang tersisa antaramu dan mereka kecuali engkau hanya diminta bersabar beberapa saat saja. Sesungguhnya dunia semuanya hanyalah satu fase waktu dari banyak fase waktu akhirat. Usiamu adalah satu anak tangga dari tangga perjalanan menuju akhirat.”

Lantunkanlah sama-sama permohonan, “Ya Tuhan kami, jangan Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan selepas Engkau memberi petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat di sisi Engkau karena sesungguhnya Engkaulah Maha Memberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 8).

Wahai saudaraku, ucapkanlah salam perpisahan kepada bulan Ramadhan. Ramadhan tetap berakhir di saat kita merasakan kehangatannya. Apakah ini terakhir kali kita berjumpa dengannya. Ataukah kita akan dipertemukan kembali?

Mari kita lanjutkan kembali perjalanan. Ada bentang perjalanan panjang di hadapan. Kita akan terus melangkah dan tak akan berhenti. Kita akan tetap bersama-sama berada di atas jalan ini. Dengarlah nasihat Ibnul Qayyim, “Wahai orang yang melakukan perjalanan. Perjalanan ini hanya bisa dilalui dan tercapai tujuannya dengan keseriusan yang tinggi dan perjalanan di waktu malam. Andai ada seseorang yang tidak bisa bersungguh-sungguh di jalan ini, lalu ia tidur di waktu malam. Kapankah ia akan mencapai tujuannya?”
[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s