Bersama Alloh, Selalu dan Selamanya

“Ketakwaan pada Alloh pasti mendatangkan rizki. Karena itu, meninggalkan ketakwaan pasti mendatangkan kefakiran.” Pikirkan dan renungilah untaian kalimat dari Ibnu Qayyim. Siapapun kita, kaya atau miskin, harusnya dapat menyelami makna kata-kata hikmah tersebut sebagai peringatan dan teguran. Inti kehidupan ini ada pada kata takwa. Ketakwaanlah yang menjadi kita merasa cukup meski mungkin saja harta yang kita miliki tidak berlimpah. Ketakwaanlah yang menjadikan seberapapun harta yang kita miliki, diberkahi oleh Alloh swt. Dan berkah Alloh itulah yang menjadikan kehidupan kita bisa berjalan stabil. Meski bisa saja, uang atau kemampuan materi kita kurang dari kebutuhan.

Wahai saudaraku, mari kita pelihara dan tingkatkan takwa kita, dengan mendekati Alloh. Tetapkan hati untuk mau menambah waktu yang tidak lama untuk berdiri melakukan shalat sunnah. Kuatkan kesungguhan untuk mau membuka dan membaca kalam Alloh, di tengah kesibukan apapun yang kita lewati. Gerakkan bibir lebih banyak berdzikir, beristighfar, memuji Alloh swt. Lawan keinginan untuk puas beristirahat di waktu sebelum fajar. Berwudhu dan bermunajatlah pada Alloh. Karena itulah detik-detik mahal yang sangat kita perlukan sebagai energi memperkuat ketakwaan kita pada hari itu.

Ibnul Qayyim bercerita tentang gurunya Ibnul Taimiyyah yang setelah melakukan shalat subuh ia tidak segera beranjak keluar masjid, terus duduk berdzikir hingga matahari terbit. Ketika ditanya soal itu, Ibnul Taimiyyah menjawab dengan sangat menyejukkan, “Ini (dzikir) adalah sarapanku, kalau aku tidak sarapan dengan ini, maka kekuatanku akan melemah.” (Wabil Ash-shaib, 44)

Begitulah kebutuhan seorang mukmin terhadap ketakwaan, terhadap dzikir, terhadap ketaatan dalam berbagai bentuk kepada Alloh swt. Kedekatan diri kepada Alloh, bukan hanya menjamin rizki seorang, tapi juga seperti dikatakan Ibnu Taimiyyah, menambah kekuatan fisiknya. Jauh dari Alloh, akan menutup pintu rizki dan memunculkan kelemahan fisik yang akan membuat seseorang makin sulit melakukan ibadah. Ali bin Abi Thalib ra. Bahkan menyimpulkan tiga keadaan bagi orang yang melakukan kemaksiatan. “Balasan kemaksiatan adalah rasa lemah dalam ibadah, kesempitan dalam mencari penghidupan, dan kesulitan dalam kelezatan.” Seseorang mendengarkan Ali bertanya, tentang apa yang dimaksud kesulitan dalam kelezatan. Ali menjawab, “Orang itu tidak merasakan kenikmatan yang halal” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/533)

Wahai saudaraku, jika kita adalah orang-orang yang bertekad untuk berada di jalan Alloh. Jika kita termasuk kelompok orang-orang yang ingin berjuang menegakkan ajaran-Nya. Jika kita tergolong dalam kumpulan orang-orang yang menambakan kehidupan yang tentram dan damai di bawah naungan petunjuk Alloh. Jika kita termasuk orang-orang seperti itu, maka yang perlu kita sadari, kita pasti akan mengalami banyak ujian, problematika, masalah, kesulitan, penderitaan. Tanpa ada kekuatan untuk bersandar, niscaya kita takkan mampu mengatasinya. Tanpa ada landasan berpijak, kita pasti akan bisa melewati ujian demi ujian ini.

Kemiskinan, musibah, tekanan, penderitaan batin dan fisik, adalah bagian dari ujian hidup yang pasti dialami oleh orang-orang yang ingin berada di jalan Alloh. Sementara keimanan dan ketakwaan adalah bekal yang bisa menjadikan mereka kuat dan tetap kembali kepada Alloh swt. Maka, sekali lagi, mari bersama-sama melangkah mendekati Alloh swt. Kembali pada Alloh dan meminta pertolongan pada Alloh adalah kunci lepas dari segala kesulitan. Inilah yang dilakukan Nabi saw. Dan ia ajarkan kepada keluarga, para sahabatnya dan juga kita, saat mengalami kesulitan. Seperti dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Rasulullah, jika keluarganya dengan mengatakan, “Keluargaku…shalatlah…shalatlah…” (Fathul Qadir, Asy-Syaukani, 3/396)

Berusahalah untuk tetap bersama Alloh. Tetap memelihara hak-hak Alloh, di kala senang dan lapang. Maka Alloh pasti akan bersama kita di saat kita mengalami kesulitan dan membutuhkan pertolongan-Nya. Duhai indah sekali bila suara doa dan munajat kita termasuk dalam kelompok doa dan munajat orang yang telah di kenal kerajaan langit. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa hamba yang taat dan berdzikir pada Alloh, jika ia ditimpa kesulitan, atau ia meminta pertolongan pada Alloh, maka pada malaikat berkata, “Ya Rabb, ini adalah suara yang sudah dikenal dari hamba yang sudah dikenal.” Tapi bila ada orang yang lalai dan mengingkari perintah Alloh, meminta dan berdoa, maka malaikat berkata, “Ya Rabb, suara yang biasa mengingkari dari hamba yang mengingkari.” (Al Wabil Ash Shoib, 44)

Wahai saudaraku, inilah saatnya kita memelihara seluruh anggota tubuh kita dalam rangka takwa kepada Alloh. Kala tangan kita mampu memegang. Ketika mata kita masih mampu melihat. Di saat ingatan kita masih dapat dipakai untuk mengingat. Inilah saatnya kita memelihara semua potensi itu pada jalur yang diridoi Alloh swt. Hingga saatnya, ketika kita lemah, dan tak berdaya, Alloh akan tetap memberi kekuatan itu pada kita.

Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Rajab, “Barangsiapa memelihara ketaatan pada Alloh di masa muda dan masa kuatnya, maka Alloh memelihara kekuatannya saat ia tua dan kekuatannya melemah. Ia akan tetap diberi pendengaran, pengelihatan, kemampuan berpikir dan kekuatan akal.” Ibnu Rajab lalu menceritakan ada sebagian ulama yang usianya melewati  100 tahun tapi tetap kuat dan tajam pikiran serta daya ingatnya. Ia bahkan masih tegap berjalan dan mampu meloncat. Salah seorang dari mereka mengatakan, “Anggota tubuh ini dahulu kami pelihara dari kemaksiatan, maka Alloh memeliharanya untuk kami di kala kami tua.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 226)

Tak ada yang lebih indah dari kebersamaan dan menjalin kedekatan dengan Alloh swt. Ketenangan jiwalah yang akan terpancar dari semua usaha pendekatan diri kepada Alloh swt. Kedekatan dengan Alloh yang menjadikan seorang pejuang saat di penjara seorang diri merasakan terbukanya pintu penjara justru mengganggu konsentrasinya dari suasana ‘intim’ bersama Sang Khaliq. Ia memanfaatkan kondisi di penjara untuk menyendiri dengan Alloh, berdzikir, tafakur, shalat dan berdoa. Jika umumnya tahanan sangat ingin menanti waktu istirahat dimana pintu penjara dibuka, tapi sang pejuang itu justru mengatakan, “Jika pintu ini terbuka maka keintimanku dengan Alloh terganggu, dan aku justru merasa tidak tenang ketika pintu ini dibuka, dari pada pintu ini tertutup. (Baina Rabbaniyah wal maddiyah, Mushtafa Masyhur, 86)

Seperti itulah tenang dan nikmatnya bersama Alloh saudaraku. Maka letakkan hati kita di sini. Bersama Alloh.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s