Seburuk-buruk Penyesalan

Menurut Imam Ibnul Jauzi, ada dua sebab yang menjadikan para sahabat Rasulullah lebih utama dan unggul dibanding kaum muslimin lainnya. Pertama, karena kebersihan hati mereka dari ragam keraguan, yang berarti mereka memiliki kekuatan iman yang tinggi. Kedua, karena pengorbanan mereka dalam jihad dan kesungguhan mereka. Dua keadaan ini memang pantas disandang oleh para sahabat yang mulia. Itu sebabnya Rasulullah saw. pernah menyitir perkataan, “Sebaik-baik zaman adalah zamanku, kemudian zaman setelahnya, kemudian zaman setelahnya dan seterusnya.” Generasi sahabat ra. dilanjutkan dengan generasi tabi’in dan seterusnya. Itulah siklus kondisi kaum muslimin yang sangat indah.

Mereka, bukan manusia yang tak punya keinginan dunia. Bukan manusia yang tak mempunyai hawa nafsu. Mereka adalah manusia yang memiliki hasrat, ambisi dan keinginan. Sama seperti kita. Itu diakui oleh Umar bin Abdul Aziz ra, Khalifah Bani Ummayah terkenal shalih dan sebagian orang menjulukinya sebagai khalifah ke lima (setelah Ali ra.)

“Jiwaku, “ kata Umar, “memiliki sifat yang tidak pernah puas. Jika aku memperoleh sesuatu, maka aku ingin sesuatu yang lebih baik lagi darinya. Ketika jiwaku mendapat khalifah dan tidak ada lagi kedudukan yang lebih tinggi dari khalifah, jiwaku menginginkan akhirat.”

Hidup di dunia memang sarat dengan ambisi dan keinginan duniawi. Ingin hidup lebih baik, ingin memperoleh harta yang banyak, ingin mendapatkan kedudukan tinggi, ingin dihormati karena kedudukan, ingin ada jaminan hidup yang pasti, bahkan setelah kehidupan bukan milik kita lagi. Aneh sebenarnya.

Tapi mau tidak mau, itulah kenyataan ambisi keduniaan yang ada dalam benak banyak orang. Mungkin juga termasuk kita. Hanya keimanan yang mampu mengekang dan mengontrol ambisi duniawi itu agar tidak berlebihan dan merusak.

Di zaman dinasti Umayyah, ada salah seorang gurbenur yang sangat berkuasa, Hisyam bin Abdul Malik namanya. Suatu ketika ia menunaikan haji ke Baitullah dan bertemu dengan salah seorang ulama hadits, Salim bin Abdullah bin Umar. Hisyam mendekati Salim dan berkata, “Wahai Salim mintalah kepadaku apa keperluanmu.” Salim mengatakan, “Demi Alloh, saya sangat malu untuk meminta kepada salain-Nya di rumah-Nya ini.”

Setelah itu, ia keluar dari wilayah Ka’bah dan ternyata ia diikuti Hisyam yang penasaran dengan penolakannya itu. “Sekarang engkau sudah keluar dari Baitullah, mintalah padaku apa yang engkau perlukan, “ tanya Hisyam. Salim berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah Hisyam dan berkata, “Apa yang perlu kuminta padamu, kebutuhan dunia apa kebutuhan akhirat?”  Hisyam menjawab, “Tentu saja kebutuhan dunia.” Salim lalu mengatakan, “Sesungguhnya aku hanya meminta kebutuhan dunia pada Yang Maha Memiliki Dunia. Bagaimana aku meminta dunia pada yang tidak memiliki dunia?”

Maha Suci Alloh yang telah menciptakan keluhuran hati Salim bin Abdullah bin Umar ra.

Wahai saudaraku, tahanlah segala ambisi keduniaan itu. Kekang ia agar tetap ada pada batas-batas tertentu. Tinggalkan keinginan yang berlebihah. Cukupkan ia dengan berbagai amal shaleh yang akan memberi ketenangan dan kepuasan batin.

Ingatlah, segala yang berlebihan pasti membawa keburukan. Seorang ahli hikmah pernah mengungkapkan, “Barangsiapa yang meninggalkan berlebihan dalam berbicara ia akan memperoleh hikmah dalam lisannya.” Barangsiapa yang meninggalkan berlebihan dalam pandangan, ia memperoleh kekhusyuan dalam beribadahnya. Barangsiapa yang meninggalkan berlebihan dalam makanan, maka ia akan diberi kelezatan dalam ibadah. Barangsiapa yang meninggalkan berlebihan tertawa, ia akan memperoleh kewibawaan. Barangsiapa yang meninggalkan cinta dunia, ia akan mendapatkan cinta akhirat. Dan barangsiapa yang meninggalkan kesibukan terhadap aib orang lain, maka ia akan memperoleh kesibukan memperbaiki aibnya sediri.”

Kita di sini, bukan hanya menghadapi badai laut, hutan belantara, atau angin topan. Semakin lama melangkah di jalan ini, maka ancaman keimanan kita semakin berat dan keras. Ancaman yang bukan hanya merupakan taruhan hidup dan mati, tapi soal surga dan neraka.

Seseorang pernah berkata pada Ali bin Abi Thalib, “Ceritakan padaku kewajiban yang paling wajib, keanehan yang paling aneh, kesulitan yang paling sulit dan kedekatan yang paling dekat.” Ali berkata, “Taubat itu wajib bagi seseorang. Tapi lebih wajib lagi baginya untuk meninggalkan dosa. Perjalanan waktu itu sangat mengherankan, tapi lebih mengherankan lagi kelalaian manusia terhadap waktu. Sabar menghadapi musibah itu lebih sulit tapi kehilangan kesabaran itu lebih sulit lagi akibatnya. Semua yang bisa dicapai itu dekat, tapi kematian lebih dekat dari semuanya.”

Wahai saudaraku, sudah terlampau lama kita bermain-main dan merenggangkan pegangan tangan pada hidayah Alloh. Mari kuatkan kembali pegangan itu. Syafiq bin Ibrahim pernah mengatakan, “Pintu taufik (bantuan Alloh) akan tertutup dari makhluk dalam enam keadaan. Kesibukan mereka dengan nikmat daripada mensyukurinya. Keinginan untuk menuntut ilmu dan meninggalkan pengamalannya. Bersegera melakukan dosa dan menunda-nunda taubat. Bangga berteman dengan orang shaleh tanpa mencontoh apa yang mereka lakukan. Dunia akan mereka tinggalkan tapi mereka mengejar dunia. Akhirat pasti mereka akan datangi, mereka justru berpaling dari akhirat.”

Wahai saudaraku, seburuk-buruk buta adalah  buta hati. Seburuk-buruk kesesatan adalah kesesatan setelah menerima petunjuk. Seburuk-buruk permintaan maaf adalah ketika meminta maaf menjelang mati. Seburuk-buruk penyesalan adalah penyesalan di hari kiamat.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s