Mewaspadai Penyakit ”Ain”

Penyakit “Ain” adalah suatu penyakit yang muncul akibat pandangan terpukau (Istihsan) yang tercemar oleh iri hati,dan ini beresiko bagi orang yang dipandang, artinya pandangan itu berdampak negatif bagi orang yang dipandang. Rosululloh Saw sendiri seperti diriwayatkan oleh Abu Huroiroh ra telah memperingatkan adanya penyakit ini:

أَلْعَيْنُ حَقٌّ وَيَحْضُرُهَا الشَّيْطَانُ وَحَسَدُ ابْنُ ءَادَمَ

“Ain itu hak, dan setan serta iri hati anak Adam ikut menghadirinya” HR Ahmad.

Jika ada yang bertanya, apa yang bisa dilakukan “mata” hingga ia bisa membahayakan orang yang dipandang (Ma’yuun)?, maka jawabnya adalah: Sungguh karakteristik manusia itu berbeda – beda, dan sangat mungkin dari mata orang yang memandang (Aa’in) muncul racun yang lalu terbawa oleh udara dan masuk ke dalam tubuh orang yang dipandang. Tentang hal ini, ada satu pengakuan terus terang dari seorang yang sangat suka memandang (Mi’yaan): Jika diriku melihat sesuatu yang menarik hatiku maka aku merasa ada hawa panas keluar dari mataku. Kasus ini mirip dengan apa yang dialami oleh wanita yang sedang datang bulan, jika wanita itu memasukkan tangannya ke dalam bejana yang berisi susu maka tak lama susu di dalam bejana itu akan rusak (rasa, aroma, dan warnanya), begitu juga ketika wanita yang sedang haid itu memasuki area perkebunan, maka dia akan menjadikan banyak tanaman rusak meski tanpa harus melalui ulah tangannya. Serupa dengan hal tersebut adalah peristiwa terkadang tertularnya mata yang sehat saat melihat mata yang sakit, atau seseorang melihat saudaranya menguap, maka ia pun jadi ikut – ikutan menguap.
Imam al Khotthobi berkata: Hadits ini memberi kejelasan bahwa mata juga memiliki pengaruh terhadap hati atau diri orang lain, ini menafikan anggapan para filosof (ahli ilmu alam) bahwa tiada hakikat apapun di luar yang bisa ditangkap oleh panca indera (al Hawas al Khoms). Sementara itu al Maziri berkata: Ada sebagian para ahli ilmu alam menduga bahwa dalam pandangan orang yang memandang (Aa’in) ada semacam kekuatan beracun (Quwwah Summiyyah) yang masuk ke dalam diri orang yang dipandang (Ma’iin atau Ma’yuun) hingga berdampak pada kehancuran atau kerusakannya. Dugaan ini masih tidak pasti, tetapi juga tidak sepenuhnya salah, sebab masih ada kemungkinan benarnya, al Maziri melanjutkan: Dalam masalah ini, Ahlus sunnah memiliki satu prinsip bahwa penyakit Ain, bisa muncul dan membahayakan saat Aa’in melihat kepada Ma’yuun melalui sebuah sarana, proses, peristiwa atau kebiasaan yang sudah ditetapkan oleh Alloh yang berupa pertemuan atau ketika seseorang saling berhadapan, selanjutnya apakah di sana ada benda – benda yang samar (Jawahir Khofiyyah) atau tidak, maka hal itu adalah sesuatu yang masih mungkin, artinya tidak bisa ditetapkan ada maupun tiadanya. Adapun pernyataan para ahli bahwa ada benda lembut tak terlihat yang keluar dari mata Aa’in lalu masuk ke dalam tubuh Ma’yuun melalui pori – pori tubuhnya, dan dalam keadaan inilah Alloh menciptakan kehancuran atau kerusakan sebagaimana Alloh menciptakan kehancuran dan kerusakan itu saat racun diminum, maka pernyataan inipun salah jika dianggap sebagai sebuah kepastian. Ibnul Arobi berkata: Yang pasti dan yang benar adalah bahwa ketika Alloh menghendaki, saat Aain melihat kepada Ma’yuun, maka Dia akan menciptakan apa yang Dia kehendaki baik berupa sakit atau kematian bagi Ma’yuun, hanya saja hal itu lalu tidak jadi karena ada usaha pencegahan yang berupa permohonan perlindungan (Isti’aadzah), adanya Ruqyah atau Ightisal seperti yang akan dijelaskan dalam ulasan berikutnya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa Alloh menetapkan sebuah kebiasaan yang berupa adanya banyak kekuatan dan keistimewaan dalam tubuh dan jiwa, seperti rasa malu yang hebat kala dilihat oleh seseorang hingga wajah berubah merah merekah, atau wajah menjadi pucat pasih saat melihat orang yang ditakuti, dan ada pula seseorang yang jika dipandang maka orang yang memandangnya segera jatuh sakit atau lemas, ini semua lantaran pengaruh sesuatu yang telah diciptakan oleh Alloh dalam jiwa seseorang, hanya saja karena begitu kuatnya hubungan pengaruh itu dengan mata maka pengaruh itu kemudian sepenuhnya disandarkan kepada mata (Ain). Jadi sebenarnya pengaruh itu adalah dari jiwa, sementara jiwa itu sendiri berbeda watak, kekuatan serta keistimewaannya, dan sekali lagi perlu diingat bahwa pengaruh itu adalah kehendak dan ciptaan Alloh serta tidak hanya terbatas pada pertemuan tubuh (Ittishol Jismaani), tetapi kadang pengaruh itu sudah ada hanya dengan berhadapan (Muqobalah), melihat dengan mata (Ru’yah), jiwa yang menghadap (Tawajjuhur ruh) seperti pengaruh yang terlihat dalam do’a dan penghadapan penuh (Iltija’) kepada Alloh, atau juga dengan adanya persangkaan (Tawahhum) dan hayalan (Takhoyyul). Sementara itu apa yang keluar dari mata orang yang memandang (Aa’in) tak ubahnya seperti anak panah maknawi yang jika mengenai tubuh yang tidak terlindungi maka anak panah itu pasti menancap dan memberikan pengaruhnya ke dalam tubuh tersebut, sebaliknya jika tubuh itu terlindungi maka anak panah itu akan mental dan bahkan bisa berbalik arah menyerang pemiliknya sendiri.

Terapi Pengobatan dan Pencegahan

Setiap penyakit itu pasti ada obatnya, inilah keyakinan kita, penyakit Ain juga demikian halnya, paling tidak ada dua terapi pengobatan yang pernah diberikan oleh Rosululloh Muhammad Saw untuk kesembuhan penyakit ini:

(1) Ruqyah atau membaca mantera, Aisyah ra meriwayatkan: “Rosululloh Saw memerintahkan agar dibacakan mantera untuk penyakit Ain”, terapi membaca mantera ini juga pernah diberikan oleh Rosululloh Saw kepada salah seorang sahaya wanita Ummul Mukminin Ummu Salamah ra. Saat sedang berada di rumah Ummu Salamah, Rosululloh Saw melihat di wajah seorang sahaya wanita ada Saf’ah (Sedikit warna yang berbeda dengan warna dasar kulit wajah, ada yang secara mutlak mengartikan bahwa Saf’ah itu adalah warna hitam di wajah), Rosululloh Saw lalu memberi perintah:

إِسْتَرْقُوْا لَهَا فَإِنَّ بِهَا النَّظْرَةَ
“Mintalah bacaan mantera untuknya, sebab dia terkena Ain” HR Bukhori.

Selain itu Rosululloh Saw juga mengingatkan kepada Asma’ binti Umes supaya menjalankan terapi Ruqyah ini, Imam Turmudzi dan Imam Nasa’i meriwayatkan: “Asma’ bin Umes datang melapor: Wahai Rosululloh! Sesungguhnya anak – anak Ja’far terkena Ain, apakah saya bisa membacakan mantera untuk mereka? Rosululloh Saw bersabda: Ia…” hadits ini dikuatkan oleh riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah ra: “Rosululloh Saw bertanya kepada Asma’: Aku melihat anak – anak saudaraku (Ja’far) tubuhnya kurus, ada apa, apakah mereka kekurangan? Asma’ menjawab: Tidak, mereka semua terkena penyakit Ain. Rosululloh Saw bersabda: Bacalah mantera untuk mereka! Asma’ segera membawa anak – anak itu ke hadapan Rosululloh Saw dan meminta: Tolong bacakan mantera untuk anak – anak ini”. Hadits – hadits tersebut dengan jelas mengajarkan bahwa orang yang terkena penyakit Ain semestinya dibacakan mantera untuknya, dan tentu saja anjuran ini berlaku bagi orang yang mengerti dan mampu mendeteksi.

(2) Ightisal atau mandi, terapi ini pernah juga diberikan oleh Rosululloh Saw saat Sahl bin Hunef terjangkit penyakit Ain ini, kisahnya adalah saat beliau Saw dan para sahabat berjalan bersama, ketika sampai di Juhfah, Sahl bin Hunef mandi, melihat postur tubuh yang bagus dan kulit putih Sahl, Amir bin Robi’ah melihat dengan keheranan hingga dia bergumam: Aku tidak pernah melihat kulit seindah itu, sepertinya kulit itu lebih indah dan lebih lembut daripada kulit seorang dara. Saat Amir terlena dalam keheranannya itulah Sahl bin Hunef tiba – tiba tubuhnya lemas. Rosululloh Saw yang mendapat laporan tentang hal itu segera bertanya: “Apakah ada seseorang yang kalian sangka menjadi penyebabnya?” Para sahabat menjawab: Amir bin Robi’ah. Rosululloh Saw lalu memanggil Amir dan memarahinya, beliau bersabda kepada Amir: “Atas alasan apa kamu membunuh saudaramu, kenapa kamu tidak mendo’akan berkah untuknya saat merasa heran ketika melihatnya?!, beliau Saw melanjutkan: “ sekarang mandilah untuknya!”, Amir segera membasuh wajah, kedua tangan sampai siku, kedua lutut, ujung – ujung jari kaki serta kulit yang terlilit sarungnya, kemudian seseorang menuangkan air sisanya ke seluruh tubuh Amir dari mulai kepala hingga punggung, sesudah itu bejana itu pun dituangkan. Ketika inilah Sahl kemudian keadaan menjadi normal kembali seperti sedia kala. HR Ahmad Nasa’i Ibnu Hibban. Sementara itu dalam Muwattho’, Imam Malik meriwayatkan bahwa ketika itu, Amir hanya berwudhu, tidak mandi.

Agar penglihatan kita tidak membahayakan diri sendiri atau orang yang kita lihat maka hendaknya saat terjadi keheranan kita segera mengucapkan: “Maa Syaa Alloh Laa Quwwata Illaa Billaah”, semua kehendak Alloh, tidak kekuatan kecuali dariNya. Anas bin Malik ra menceritakan sabda Rosululloh Saw:

مَنْ رَأَي شَيْئًا فَأَعْجَبَهُ فَقَالَ : مَا شَآءَ اللهُ لاَ قُوَةَ إِلاَّ بِاللهِ , لَمْ يَضُرَّهُ
“Barang siapa melihat sesuatu yang menakjubkan, lalu mengucapkan “Maa Syaa Alloh Laa Quwwata Illaa Billah” maka dia tidak akan membahayakannya” HR Bazzar Ibnu Sunni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s