Perkuat Tawakal dengan Hauqalah

Ada hikmah yang tersirat dari kisah di bawah ini yang diambil dari kitab Al-atqiya’ al-akhfiya’ hal 98. Syeikh Sa’id Abdul Azhiem :

Seseorang masuk ke dalam masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Nabawi) di luar waktu shalat jamaah. Ia mendapatkan seorang anak yang umurnya belum genap sepuluh tahun sedang khusyu’ shalat. Laki-laki itu menunggu anak tersebut menyelesaikan shalatnya. Dia menghampiri anak tersebut, mengucapkan salam lalu bertanya, “Wahai anak, anak siapakah engkau.” Anak tersebut hanya menundukkan kepala dan terlihat air mata membasahi pipinya. Sejurus kemudian dia mengangkat kepalanya sembari berkata, “Wahai paman, saya adalah anak yatim, ayah ibuku telah tiada. “Hati laki-laki itupun tersentuh, lalu berkata, “Wahai anak, maukah engkau kujadikan sebagai anakku?”

Anak itu menjawab,”Apakah jika aku kelaparan paman akan memberiku makan?”

“Ya, tentu, “jawabnya.

“Jika aku tak memiliki pakaian, apakah paman akan memberiku pakaian?”

“Ya.”

“Jika aku sakit, apakah paman bisa menyembuhkanku?”

“Itu bukan kuasaku wahai anakku.”

“Apakah jika aku mati, paman bisa menghidupkan aku kembali?”

“Mustahil aku mampu melakukannya wahai anakku.”

“Jika demikian, tinggalkanlah aku wahai paman, karena aku telah mendapatkan firman Allah, “(Yaitu Allah) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku. Dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali). Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. As-Syuraa 78-82)

Laki-laki itupun terdiam dan meninggalkan anak itu sementara anak itu bergumam, “Aku beriman kepada Allah, dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.”

***

Tawakal adalah inti makna dari kalimat Laa Haula walaa Quwwata illaa billaah (Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan Allah ta’ala). Makna lainnya dari kalimat Hauqalah atau Haulaqah (Abwabul Faraj 282, Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani) adalah kepasrahan dan pengharapan secara total kepada Allah ta’ala. Berkata Imam Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari, shohibul Al-Hikam, “Keadaan hamba bersama Allah subhana wa ta’ala di dunia ini adalah seperti anak kecil bersama ibunya. Tentu saja sang ibu tidak akan membiarkannya dan akan selalu memeliharanya. Seperti itulah keadaan orang yang beriman bersama Allah subhana wa ta’ala. Dia menjamin kebutuhannya, mencurahkan karunia kepadanya, dan mencegah bahaya menimpanya.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang wanita bersama anaknya. Beliau berkata kepada para sahabat, “Mungkinkah ia melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” Para sahabat menjawab, “Tentu saja tidak, wahai Rasulullah.” “Allah ta’ala lebih menyayangi hamba-Nya yang beriman daripada wanita itu kepada anaknya,” ujar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Seorang muslim yang beriman senantiasa berharap, pasrah dan bertawakal kepada Allah ta’ala, karena Dia telah menjanjikan barangsiapa yang berpasrah kepada-Nya, maka Allah ta’ala akan memberikan jalan keluar dari segala kesulitan, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an, yang artinya:

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluaanya).” (QS. Ath-Thalaaq: 3)

Hendaknya seorang muslim yang beriman mengerti, memahami dan mengamalkan makna dari Hauqalah, yaitu manusia boleh berbuat apa saja sekehendaknya, tetapi ia tidak boleh mengakui bahwa semua perbuatannya berasal dari dirinya sendiri tanpa bantuan Allah ta’ala. Jika manusia mengakui dirinya berkuasa sekehendaknya tidak ada sedikit campur tangan Allah ta’ala maka ia telah menentang Allah ta’ala.

Berkata Imam Ghazali, “Segala kekuatan yang dimiliki oleh diri seorang, semuanya bersumber dari kekuatan Allah ta’ala, sehingga perbuatan apapun yang ia lakukan sangat berkaitan erat dengan bantuan Allah ta’ala. Tidak seorangpun dapat mendatangkan kebaikan bagi dirinya atau menolak keburukan apapun bagi dirinya, kecuali dengan pertolongan dan izin Allah ta’ala. Manusia boleh berbuat apa saja sekehendaknya, tetapi hendaknya ia mengakui bahwa apa yang ia lakukan hanyalah berkah dari pertolongan Alloh. Sedikitpun ia tidak dapat mendatangkan kebaikan apapun atau menolak keburukan apapun, kecuali dengan izin Alloh.

Salah Satu Kalimat Pemecah Kesulitan

Kalimat Hauqalah mempunyai kandungan yang sangat dalam bagi seorang yang sedang menghadapi kesulitan, agar ia mendapatkan jalan keluar dalam kesulitan yang membelitnya. Abu Musa meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, yang artinya:

“Ucapkanlah Laa Haula walaa Quwwata Illaa Billaah, karena kalimat tersebut termasuk salah satu kekayaan dari surga.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

Makhul berkata bahwa barangsiapa yang mengucapkan kalimat:

لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إلاَّ بِاللهِ وَ لاَ مَلْجَأَ مِنَ اللهِ إلاَّ إلَيْهِ.

Artinya: “Tiada daya dan kekuatan, kecuali dengan izin Alloh, Tiada perlindungan dari Alloh, kecuali jika seorang telah kembali kepada-Nya.”

Maka ia akan terlindungi dari tujuh puluh pintu kesulitan, yang paling ringan adalah kemiskinan. (HR. Tirmidzi)

Kalimat tersebut merupakan obat dari sembilan puluh sembilan penyakit, salah satunya untuk adalah untuk menghilangkan kerisauan dan kesukaran. Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Siapapun yang mengucapkan kalimat Laa Haula walaa Quwwata Illaa Billaah, maka kalimat itu merupakan obat bagi sembilan puluh sembilan penyakit, yang paling ringan adalah kerisauan.” (HR. Thabarani dalam kitab “Al-Ausath” dan Al Hakim berkata bahwa hadis ini sanad-sanadnya shahih)

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperbanyak kalimat tersebut demi untuk mendapat jalan keluar bagi kesulitannya. Muhammad bin Ishaq ra. menuturkan bahwa Malik Al-Asyja’i datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Ada seorang dari Bani Auf telah ditawan.” Maka Rasulullah bersabda kepadanya,”Kirimkan seorang untuk memberitahukan kepadanya, agar ia memperbanyak ucapan Laa Haula walaa Quwwata Illaabillaah.” Ketika utusan itu memberitahukan kepada orang itu, maka ia senantiasa mengucapkan kalimat tersebut berulang kali. Musuhnya telah mengikatnya dengan rantai, tetapi rantai itu segera terlepas sehingga ia dapat melarikan diri sampai di depan rumahnya, sehingga ayah dan ibunya menjadi gembira, karena putranya telah terlepas dari tawanan musuh dan ia membawa sejumlah unta, sehingga ketika ia memberitahukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Lakukan apa saja terhadap unta-unta yang telah diberikan kepada kalian sekeluarga.” Maka Alloh menurunkan firman-Nya, yang artinya:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.“ (QS. Ath-Thalaq: 2-3) (Ibnu Ishaq, Ibnu Hatim, Tafsir Ibnul Katsir, 4/380, Ad Durul Mantsur As Suyuti, 8/198).

Selain sebagai salah satu kalimat pemecah kesulitan, Hauqalah juga untuk menjaga kelanggengan nikmat. Dari Uqbah bin Amir ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Siapapun yang telah diberi karunia oleh Alloh dan ia ingin karunianya tetap terjaga, maka hendaknya ia memperbanyak ucapaan Laa Haula walaa Quwwata Illaa Billaah” (HR. Thabarani)

Selanjutnya, Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani mengatakan kalimat Hauqalah dapat menghindarkan seseorang dari kemiskinan (Abwabul Faraj hal. 288).  Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Barangsiapa yang membaca kalimat Laa Haula walaa Quwwata Illaa Billaah seratus kali setiap harinya, maka ia tidak akan ditimpa kemiskinan sedikitpun untuk selamanya.”

Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Barangsiapa yang membaca kalimat Laa Haula walaa Quwwata Illaa Billaah, maka Alloh akan menjauhkan daripadanya tujuh puluh tujuh pintu kesulitan, yang paling ringan di antaranya adalah kemiskinan.”

Ada peristiwa yang menyadarkan Syaqiq al-Balkhi rahimahullah. Begini ceritanya. “Suatu ketika aku mengembara di musim paceklik. Di tengah kegelisahan dan kerisauan orang-orang, aku melihat seorang pemuda yang tampak bahagia. Aku bertanya kepadanya, “Anak muda, tahukah kamu apa yang sedang mereka alami? Ia menjawab, “Aku tidak peduli. Majikanku memimpin sebuah desa yang makmur. Setiap hari kebutuhan kami tercukupi.” Mendengar jawabannya itu, dalam hati aku berkata, “Jika majikannya punya desa yang makmur, Tuhanku menguasai kekayaan langit dan bumi. Seharusnya aku lebih yakin kepada-Nya ketimbang keyakinan pemuda ini kepada majikannya.” Peristiwa inilah yang menyadarkannya.

Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s