Yang Terlupakan di Sekitar Maulid Nabi saw.

Kabar tentang lahirnya seorang nabi akhir zaman telah banyak diketahui oleh pemuka-pemuka agama. Sebab kitab-kitab mereka telah menerangkannya. Mereka tahu perihal lahirnya nabi itu, sebagaimana mereka mengetahui ihwal anaknya. Saking gamblangnya. Maka, mereka berlomba-lomba dan berdoa semoga dapat kebajikan menjadi perantara kelahiran manusia utama tersebut. Menjadi ayah dan ibu nabi. Tak jarang anak yang lahir mereka namakan Ahmad, dengan harapan anak mereka itu kelak menjadi nabi yang ditunggu-tunggu. Tapi rupanya kenyataan tak kunjung datang hingga akhirnya tiba zaman di mana hidup seorang yang bernama Abdul Mutholib. Perkawinan Abdullah, kenapa dengan Aminah? Abdul Mutholib kepada Abbas putranya pernah bercerita, ketika aku pergi ke negeri Yaman pada musim dingin, aku sempatkan diri mampir ke rumah pendeta Yahudi. Disitu seorang ahli Zabur mengamatiku setelah ia tahu bahwa aku berasal dari kabilah Quraisy Bani Hasyim. Ia membuka kedua lubang hidungku. Setelah selesai, katanya padaku. Wahai kisanak, aku bersaksi bahwa pada tangan satumu ini terpendam kekuasaan dan pada tanganmu yang lain tersimpan kenabian. Dan aku hanya menemukan sifat sepertimu ini ada pada Bani Zuhroh. Bagaimana ini? Aku tidak tahu, jawab Abdul Mutholib. Apakah kau sudah punya istri? Tidak, untuk sekarang ini belum, jawabnya. Kata ahli Zabur tadi, “Nanti kalau sudah sampai di rumah lekaslah kawin.” Perintah ini dituruti olehnya. Ia mengawini Halal binti Uhaib bin Abdul Manaf. Bagaimana dengan Abdullah putranya?

Abdullah, ayah nabi pada masa itu adalah lelaki yang tampan, ganteng dan menjadi pujaan serta harapan setiap perempuan. Bila ia keluar rumah, tak lepas perempuan-perempuan Makkah membicarakannya. Berbisik-bisik perihal ketampanan dan keagungan pemuda itu. Suatu saat ketika Abdullah lewat di depan kumpulan wanita-wanita Quraisy salah satu di antara mereka berkata, “Aku melihat kedua mata pemuda itu bercahaya. Ayo, siapa di antara kalian yang bisa menjadi curahan cahayanya itu? Siapa di antara kalian mau kawin dengan pemuda tadi?”. Begitulah Abdullah, setiap perempuan mendambakannya. Ketika Abdul Mutholib ayahnya mengajak pergi, di tengah perjalanan bertemu perempuan dari Bani Asad. Demi perempuan tadi melihat sinar wajah Abdullah spontan ia bertanya, “Hai Abdullah, mau pergi kemana engkau? Aku bersama ayahku. Wahai Abdullah, kesinilah aku punya 100 unta. Semuanya untukmu bila kau mau mengawiniku! Tidak, sesungguhnya aku bersama ayahku. Aku tidak bisa melawanya, pisah dengannya. Dan akupun tak ingin mendurhakainya!

Tanpa menghiraukan, Abdul Mutholib membawa putranya Abdullah terus berjalan hingga sampailah mereka di rumah seorang yang dicarinya, Wahab bin Abdul Manaf bin Zuhroh. Transaksi terjadi, Abdullah dinikahkan dengan putrinya bernama Aminah, perempuan terpandang keturunan dan kedudukannya waktu di kalangan suku Quraisy.
Setelah menjadi pasangan resmi dan Aminah mengandung bayi calon nabi, Abdullah datang menemui perempuan yang dulu pernah memanggilnya. Wahai perempuan, apa yang kau inginkan dariku? Perempuan itu tidak menjawab hanya diam saja. Kembali Abdullah bertanya, apa sebabnya engkau tidak menyambut aku hari ini seperti kau menyambutku di hari-hari yang lalu? Perempuan tadi menjawab. Aku sekarang tidak butuh kamu, sebab cahaya itu telah berpisah darimu. Aku hanya mengingini cahaya di matamu itu. Tapi sekarang telah tiada, telah engkau berikan kepada Aminah. Samar-samar perempuan itu menyesali, kenapa ia tidak dapat jodoh pemuda seperti Abdullah. Sebab, dahulu ia pernah mendengar cerita dari saudara lainnya. Waroqoh bin Naufal bahwa akan muncul nabinya umat ini dari Bani Ismail. Demikianlah, memang kehendak Alloh memilih pasangan Abdullah dan Aminah dari Bani Zuhroh sebagai wasilah kelahiran seorang pemimpin dunia.

Perasaan Aminah ketika Hamil
Seorang ibu mendambakan bayinya lahir dengan selamat, perasaan tak enak cemas pasti ada ketika mengandung apalagi bila mengandung itu pengalaman pertamanya. Berbeda dengan Sayyidah Aminah, tak satupun perasaan itu ada. Sembilan bulan mengandung nabi, Aminah tak pernah merasakan sakit kandungan, perut mules, bau tak sedap dan lain-lain sebagaimana yang biasa dialami oleh wanita lainnya. Katanya, “Aku tidak merasa kalau aku sedang mengandung, tidak pula aku temukan rasa berat pada kandunganku sebagaimana dirasakan oleh perempuan-perempuan yang lain.”

Ketika aku di antara bangun dan tidur datang seorang menghampiriku, katanya, “Apakah engkau merasakan kalau engkau sedang mengandung wahai Aminah?” Aku tidak tahu! jawab Aminah. Sesungguhnya engkau sedang mengandung pemimpin dan nabinya umat ini. Maka, kalau bayi ini lahir maka namakanlah Ahmad. Demikian perintah pendatang itu. Hal itu menyakinkan bahwa aku sedang mengandung. Setelah tempo agak lama, menjelang aku melahirkan kembali pendatang itu menghampiriku. Katanya, “Wahai Aminah! Ucapkanlah doa ini:

“Aku berlindung kepada Dzat Yang Esa dari jeleknya tipu daya setiap penghasut.”
Dari doa itu kita melihat bahwa kelahiran beliau Rasulullah jauh dari pengaruh syetan, dijaga oleh Alloh. Berbeda dengan manusia lainnya. Pada kebiasaannya syetan selalu datang, menggoda dan memasukkan tipu dayanya pada bayi yang baru lahir. Maka benarlah kalau ucapan yang utama diperdengarkan kepada bayi baru lahir adalah adzan dan iqomat.

Kejadian Waktu Maulid Nabi
Diwaktu pagi hari Senin, 12 Rabiul Awal bertepatan dengan 20 April 571 M, lahirlah bayi Muhammad saw. Termasuk kejadian penting yang mengiringi kelahiran nabi, di antaranya adalah:

a. Kejadian Bertepatan Malam Kelahirannya
Pedagang Yahudi yang tinggal di Makkah sewaktu malam kelahiran Nabi saw. Berkata dalam majlis pertemuan orang Quraisy. Wahai orang-orang Quraisy! Apakah ada bayi yang dilahirkan malam ini? Demi Alloh, kami tidak mengetahuinya, jawab mereka. Camkanlah apa yang aku ucapkan ini, kata Yahudi tadi, “Bahwa pada malam ini telah dilahirkan nabi terakhir umat ini. Di antaranya kedua bahunya ada pertanda rambut belah-belah yang berurutan kayak bulu leher kuda. Ia tidak menyusu dua malam.” Demi mendengar cerita Yahudi tadi, maka majlis itu bubar pulang ke rumah masing-masing. Di jalan-jalan sudah banyak penduduk menyebarkan berita kelahiran itu pada anggota keluarganya. Sekelompok orang yang kemudian kembali mendatangi Yahudi tadi. “Wahai tuan! Betul kata tuan pada malam ini telah lahir bayi dari Abdullah bin Abdul Mutholib yang diberi nama Muhammad.” Berita itu menyentak Yahudi tadi. Maka ia bergegas mendatangi rumah Aminah. Wahai Aminah! Perlihatkan putramu padaku (Aminah pun berkenan memperlihatkan kepadanya). Bayi itu dilihatnya dengan pandangan takjub. Punggung bayi itu dibukanya, maka terlihatlah pertanda itu. Saking tak kuasanya menerima pandangan itu, Yahudi tersebut jatuh pingsan.

b. Lahir Dalam Keadaan Sujud
Beliau lahir tidak sebagaimana layaknya bayi-bayi biasa. Beliau lahir dalam keadaan sujud meletakkan kedua tangannya di tanah dan mengangkat keuda tangannya di tanah dan mengangkat kepala ke langit. Mengepal jari-jari tangannya seraya memberi isyarah dengan jari-jari telunjuknya seperti orang membaca tasbih. Sampai seseorang dikabari tentang itu langsung menyahut, “Kalau benar tanda baik itu niscaya bayi ini akan biasa menundukkan ahli bumi.”

c. Terang Benderangnya Istana Bushroo
Diterangkan oleh Abi Ajfaa’ Rasullah pernah bercerita, “Ibuku waktu melahirkanku melihat pancaran cahaya menerangi istana-istana Bushroo (daerah Damaskus wilayah Syam, Syiria sekarang).”
Ulama mufassir Isyari menjelaskan kenapa negeri Syam dipancari cahaya kelahirannya, karena negeri utama inilah suatu saat nanti akan menjadi daerah keagungan dan kekuasaan Nabi. Sebagaimana diterangkannya oleh Ka’ab bahwasannya kitab-kitab dahulu telah menyebutkan ciri-ciri Nabi akhir zaman itu:
“Lahirnya di Makkah, hijrahnya ke Madinah dan kekuasaannya sampai negeri Syam.”

d. Cahaya Terang Menyertai Kelahirannya
Ibunya Utsman bin Abil ‘Ash pernah bercerita:
“Aku dahulu menyaksikan malam kelahiran Nabi saw. Aku tidak melihat isi rumah itu kecuali penuh dengan cahaya. Aku melihat bintang-bintang mendekat, sampai aku menyangka akan jatuh di atasku. Ketika Aminah melahirkan, sinar cahaya muncul menerangi rumah sehingga aku tidak melihat kecuali cahaya itu.”
Hadits riwayat Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas menceritakan:
“Sesungguhnya Aminah berkata, “Ketika putraku Muhammad lahir, keluarlah cahaya yang menerangi timur dan barat.” Riwayat lain menyebutkan, “Ketika Rasulullah dilahirkan, cahaya menerangi bumi ini.”
Menurut keterangan Ulama cahaya di sini adalah sebuah isyarah akan terang benderangnya dunia ini dengan sinar api Islam serta musnahnya perbuatan syirik dan kedhaliman sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an.

e. Robohnya Patung-patung, Keluarnya Suara Ajaib dan Padamnya Api
Sekelompok orang Quraisy termasuk Waroqoh bin Naufal, Zaid bin Amr, Ubaidillah bin Jahsy dan Utsman ibnul Huwairits mendatangi Ka’bah. Mereka berkumpul di samping berhala, tiba-tiba berhala itu roboh, jatuh ke tanah. Mereka yang hadir disitu heran, kenapa bisa jatuh begitu? Lalu berhala itu mereka tegakkan seperti semula, tapi kembali roboh. Hal itu berulang-ulang terjadi sampai tiga kali. Kemudian mereka pasrah. Utsman berkata, “Sesungguhnya ini adalah misteri yang baru. Apa sebenarnya yang terjadi?” Dan peristiwa itu bertepatan dengan malam kelahiran beliau. Berhala itu mereka letakkan kembali sebisanya, dan setelah tegak lurus tiba-tiba suara keluar dalam perut berhala itu.
“Wahai suku Quraisy, kembalilah dan jauhilah kesesatanmu. Berbaliklah kamu pada angin Islam dan rumah penyambutan.”

f. Lahir Sudah Khitan dan Terpotong
Anas bin Malik ra. berkata, “Rasulullah pernah bersabda, “Termasuk sebagian kemuliaan yang diberikan Tuhanku sesungguhnya aku dilahirkan sudah berkhitan dan tidak ada seorangpun tahu akan “auratku”. Thobarani juga menceritakan bahwasannya Rasulullah terlahir dalam keadaan makhtunan (sudah dikhitan) dan masruran (sudah dipotong pusarnya) di dalam perut ibunya; “Aku melahirkan beliau dalam keadaan bersih, tidak terkena kotoran.”

g. Percakapan Beliau dengan Bulan
Abdullah bin Abbas menjelang masuk Islam, pernah minta bukti kenabian beliau, “Wahai Rasulullah, waktu dalam ayunan ibu, kau pernah bercumbu-cumbuan dengan bulan, kau tunjuk bulan itu dengan jari-jarimu dan ketika kau tunjuk bulan itu, ia mencondongkan kepadamu.” Rasulullah bersabda “Waktu itu aku sedang bercakap-cakap dengan bulan dan bulan pun mau bermain-main denganku sampai akupun melupakan tangisku. Dan aku mendengar laporan bulan ketika ia sujud di bawah arsy.” (HR. Thobaroni & Baihaqi)

h. Iblis Susah, Langit Tertutup Dinding
Riwayat Ibnu Abi Hatim dari Ikrimah menceritakan, ketika Rasulullah dilahirkan, berkatalah Iblis kepada tentaranya, “Sungguh malam ini telah dilahirkan seorang anak yang akan membuat kocar kacir urusan kita.” Tentaranya memberikan jalan keluar, “Bagaimana kalau tuan pergi kepada bayi itu dan merusaknya?” Iblis lalu mendatangi bayi Muhammad. Namun ketika ia mendekat bayi itu, Alloh swt. mengutus Jibril. Dengan cepat Jibril melompat dengan sekali lompatan ke arah Iblis, maka terlemparlah ia jauh sekali.

As-Suhail dan Aburobbi’ menukil tafsirnya Al Hafidz Baqiy bin Makhlad bin Yazid:
“Sesungguhnya Iblis pernah menyaringkan suara tangisnya sampai empat ratapan. Ratapan ketika ia dilaknat, ketika ia diturunkan dari surga, ketika Nabi Muhammad saw. Dilahirkan dan terakhir ketika diturunkan surat Al Fatihah.
Termasuk kebiasaan Iblis adalah mencari kabar berita secara sembunyi di langit tujuh. Ketika Nabi Isa as. Dilahirkan , ia tidak bisa mengoreknya karena terhalang oleh tiga langit. Ia hanya bisa naik langit ke empat. Sedang ketika lahir Rasulullah, Iblis dihalangi oleh tujuh langit itu. Jadi, ia benar-benar tidak dapat berita sama sekali tentang kelahiran Nabi Muhammad saw.

Kemuliaan, keagungan seluruhnya memang menguasai kelahiran manusia terbaik ini. Maka tidak heranlah demi mendengar cucunya lahir, Abdul Mutholib langsung membawa bayi itu mengelilingi Ka’bah. Ia berdoa kepada Alloh seraya mensyukuri nikmat agung yang diberikan kepadanya itu karena bungahnya. Pada umur 7 hari, oleh kakeknya disembelihkan domba. Dia undang, orang-orang Quraisy untuk makan di rumahnya. “Apa nama yang kau berikan pada bayi ini wahai Abdul Mutholib?” tanya mereka. “Bayi ini akan aku beri nama Muhammad.” “Ohhh, nama itu bagus sekali, kenapa tidak engkau beri nama seperti nenek moyangnya?” “Tidak, aku beri nama Muhammad supaya ia di langit di puji oleh Alloh dan di bumi dipuji oleh manusia.”

Demikianlah ungkapan gembira dari Abdul Mutholib. Sebagai umatnya, apakah kita berterima kasih kepadanya? Tidak patutkah apabila kita berterima kasih kepadanya? Tidak patutkah apabila kita bergembira pada hari kelahirannya? Ulama-ulama dahulu menyongsong Maulid Nabi dengan mengadakan Ihtifal Maulidan sebagai sarana pengungkapan rasa gembira dan syukur untuk kemudian mencontoh tindak laku beliau. Inti acaranya bersilaturahmi, pembacaannya sejarah Nabi dan bershodaqoh.
Rasulullah merupakan uswatun hasanah yang harus diikuti dan diteladani di dalam kehidupan kita sehari-hari.[]

Referensi:
1. Subulul Huda Warrosyad, Imam Muhammad bin Yusuf.
2. Mukhtasar Fis Siroh Nabawiyah Imam Ad-Daiba’y, taqliq As Sayyid Muhammad Alawy bin Abbas Al Maliky.
3. Haulul Ihtifal Bil Maulid Nabwy, As Sayyid Muhammad Alwy bin Abbas Al Maliki.
4. Sirah Nabawiyah, DR. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s