Perpisahan Dalam Kesejukan

Dilingkari bukit-bukit kelabu, untaian busa yang mecah-mecah cuatan batu mendesaukan kidung alami di ujung jemari kakinya. Ia mengangkat kepala ketika angina senja mengantarkan jalur merah di kaki lazuardi. Matahari pelan-pelan bergulir, bersembunyi di balik gunung yang kekar itu, Gunung Slamet.

Syarfiah menghela nafas panjang. Sudah lama ia menanggung perasaan itu. Ia tidak tahu apa namanya. Dukacita, putus asa, ataukah sakit hati. Ia lebih suka tidak meresapinya. Sebab, meresapi perasaan itu menyebabkan malamnya menjadi sangat lama. Dan ia takut ditinggalkan matahari. Ia takut terkubur dalam impitan gelap yang tidak hanya menghitamkan kamarnya, juga hatinya.

Gadis itu mengenakan kainnya, lalu berdiri di atas riak air yang pernah sebening masa depannya. Tatkala ia belum mengenal Ferdinand. Sebentar lagi bedug maghrib akan bertalu-talu dari masjid Pesantren Sirandu. Dan ia harus shalat, berjajar dalam rangkaian shaf-shaf santri putri. Dulu alangkah damainya bersujud di hamparan sajadah seraya mengucap, “Maha Suci Tuhanku, yang begitu agung dengan puji syukur kepada-Nya.” Dulu alangkah tentram jiwanya manakala abahnya yang berdiri di muka sebagai imam mengalunkan suara Tuhan dengan syahdu. Semuanya berubah setelah lelaki yang simpatik itu menghuni ruang utama di dadanya.

“Engkau tidak cantik, Ifah. Engkau gadis paling sederhana yang pernah kukenal. Tapi, engkaulah gadis yang berhasil menaklukan kejanggalanku.”

Bukankah pernyataan ini menandakan kejujuran Ferdinand? Bukankah kejujuran ini menunjukkan ketulusannya?

“Aku takkan mendendam kalau akibat kenyakinan agama kita berbeda, cintaku kau tolak. Aku mengerti sepenuhnya. Tetapi, tolonglah Ifah. Beri aku tempat sedikit saja dalam kenanganmu.”

Syarifah memaksakan dirinya menapiskan kenangan akan kelembutan Ferdinand pada waktu kaki mungilnya menginjak batu-batu kecil di sepanjang pematang. Namun, kelembutan itu telah terpahat menembus keimanannya yang pernah padat. Dan manakala menara masjid mulai tersembul di tengah  tebaran mega, Ifah pun dengan kesal bertanya, “Hai menaraku. Hai kubahku. Dendamkah yang kau pancarkan, ataukah damau yang kau sebarkan? Mengapa atas namamu aku harus merobek cinta sesama manusia yang ikhlas? Bukankah engkau mengdengungkan salam? Mengapa aku harus berpisah dengan kekasihku hanya karena bedugmu tidak sama dengan genta? Hanya karena kubahmu tidak sama dengan kapel?”

Bagaimana kisah selanjutnya? Ikuti terus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s