Marilah Melihat Diri dan Orang Lain Sebagai Manusia Pembelajar

Belajar adalah sebuah proses, sementara tujuannya adalah mencapai suatu kebenaran. Jika ada pertanyaan berapa jumlah “1+1”?, maka sampai pada kesimpulan jawaban “=2” kita harus belajar, demikian seterusnya. Kita tahu dan semakin tahu dari sekedar 1+1=2 adalah karena belajar. Tidak ada kata salah bagi orang yang belajar, karena ia bukan tujuan melainkan sarana untuk mencapai tujuan. Yang patut disalahkan adalah justru orang yang tidak mau belajar, karena tidak mungkin kita sampai kepada kebenaran tanpa belajar. Salah satu hikmah yang dapat kita ambil dari dialekita marxis adalah postulasi konsep belajar pada kesimpulan “benar”. Trilogi (tesis – antitesis – sintesis) telah mengajarkan kepada kita bahwa untuk sampai kepada sintesis sebagai sebuah kesimpulan harus melalui proses dialektika -proses belajar yang take and give.

Kawan, mari kita jadikan belajar sebagai sebuah paradigma dalam memahami proses diri dan orang lain. Sehingga kita tidak pernah menyalahkan orang yang belajar. Kita juga tidak akan pernah membenci orang yang belajar. Malah sebaliknya, kita akan saling membantu, saling membimbing, saling mengingatkan, dan saling mengarahkan kepada tujuan. Betapa indahnya bila paradigma belajar ini dalam segenap kesehariaan kita. Tidak ada benci, iri, dan dengki. Yang ada hanyalah perasaan lapang, besar hati, dan memahami keberadaan masing-masing. Kita pun akan merasa rendah hati, tawadlu, tidak sombong dan congkak, karena kita sama dengan orang lain. Kita sama-sama belajar untuk mencapai kebenaran yang dituju. Alangkah indahnya bila kita bisa membantu orang lain untuk menemukan kebenaran. Sebaliknya, alangkah indahnya bila kita dibantu untuk menemukan kebenaran serupa. Akhirnya kita tidak akan pernah merasa sendiri; ‘merasa benar sendiri’ atau ‘merasa sendiri dalam (mencapai) kebenaran’

Kadang kita terlalu cepat menyimpulkan segala sesuatu hitam dan putih. Padahal ukuran hitam-putih hanya Empunya Alam Semesta yang berhak menentukan. Jika seseorang yang melakukan kesalahan, atas agama sekalipun, sikap pertama dan utama yang terbaik bukanlah kita maki dan kita caci, melainkan kita berikan pemahaman dengan cara yang penuh hikmah dan ma’ruf. Karena, siapa tahu apa yang ia lakukan dikarenakan kebodohannya yang menyilaukan jalan kebenaran. Adalah tugas kita untuk membimbingnya kembali ke tujuan, sehingga kita menjadi “nabi” yang menuntun umat kepada jalan-Nya dengan penuh kesabaran dan ketulusan.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s