Menyelami Rahasia Shalat bersama Ibnu Ataillah, shohibul Al-Hikam

(Diambil dari kitab Taaj Al-Aruus al-Hawii li Tahdziib al-Nufuus, karya Syekh Ibnu Athaillah)

Mengenal Hakikat Diri Melalui Shalat

Ibnu Athaillah berkata, “Syekh Abu al-Hasan al-Syadzili ra. berkata, “Keadaan dirimu bisa diukur melalui shalat. Jika kau meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi maka kau bahagia. Namun, jika tidak, maka tangisilah dirimu. Jika kaki ini masih sulit dilangkahkan menuju shalat, adakah orang yang tidak ingin berjumpa dengan Kekasihnya?  Allah berfirman, “Shalat bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-Ankabut:45).” Maka, siapa yang ingin mengenal hakikat dirinya di sisi Alloh dan mengetahui keadaannya bersama Alloh, maka perhatikanlah shalatnya. Apakah ia melakukan shalat dengan khusyuk dan tenang atau dengan lalai dan tergesa-gesa?

Jika kau tidak menunaikan shalat dengan khusyuk dan tenang, sesalilah dirimu! Sebab, orang yang duduk dengan pemilik kesturi, ia akan dapatkan wanginya. Sementara, ketika shalat, sesungguhnya kau duduk bersama Alloh. Jika kau ada bersama-Nya tetapi tidak mendapatkan apa-apa, berarti ada penyakit dalam dirimu, entah itu berupa sombong, ujub, atau kurang adab. Alloh berfirman, “Akan kupalingkan dari ayat-ayat-Ku orang yang bersikap sombong di muka bumi secara tidak benar (QS. Al-A’raf: 146).” Karena itu, setelah menunaikan shalat, janganlah terburu-buru pergi meninggalkan tempat shalat. Duduklah untuk berdzikir mengingat Alloh seraya meminta ampunan atas segala kekurangan. Bisa jadi shalatnya tidak layak diterima. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri selepas shalat selalu membaca istighfar sebanyak tiga kali.”

Penjabaran: Hakikat Diri Melalui Shalat

Dari pernyataan di atas (yang kemarin telah diposting), Ibnu Athaillah menegaskan nilai penting shalat. Ada banyak rahasia agung dalam shalat yang tidak diketahui banyak kaum muslim. Karena itulah mereka kerap mangabaikan shalat dan bermalas-malasan mendirikannya. Mereka segera ingin mengakhiri shalat dan segera kembali dalam kehidupan dunia. Karenanya, tidak aneh jika kebanyakan kita mendirikan shalat seperti ayam atau burung gagak yang sedang mematuk-matuk, lalu berlalu pergi usai salam, tanpa berzikir lebih dahulu atau beristghfar.

Arti mendirikan shalat adalah mengerjakan semua rukun dan sunnahnya disertai keadaan lenyap dari dirinya dan melihat Zat yang dituju dalam shalat. Dalam shalat, yang penting bukanlah keberadaan shalat secara lahiriah dan gerakan anggota badan, melainkan bagaimana berusaha mendirikan shalat secara benar?

Dalam salah satu hikmahnya Ibnu Athaillah berkata, “Shalat adalah pembersih hati dari berbagai dosa dan pembuka pintu kegaiban.” Shalat membersihkan hati dari  noda dan aib karena dalam shalat seorang hamba tunduk, bersimpuh, merendah, dan merasa hina. Shalat juga menjadi pembuka pintu kegaiban, karena shalat membersihkan lahir dan batin seorang hamba sehingga orang yang shalat layak masuk dalam ke hadirat-Nya yang suci.

Shalat merupakan munajat kepada Tuhan, baik  dengan hati maupun lisannya. Jika lisan membaca dan berdoa, tetapi hatinya tidak tertuju kepada Alloh, berarti ia mendirikan shalat dalam keadaan lalai. Seperti itulah salah satu contoh shalat dalam keadaan lalai.

Seiring perjalanann waktu, membaca zikir dan doa dalam shalat menjadi semacam rutinitas formal sama seperti amal lain yang kita kerjakan tanpa memberi kesan dan pengaruh terhadap hati dan jiwa kita. Sayangnya, seperti itulah shalat sebagian besar kita.

Rukuk dan sujud dimaksudkan untuk mengagungkan Alloh. Ketika tidak ada rasa dan sikap pengagungan maka yang tersiksa hanyalah gerakan tubuh lahiriah indrawi; gerakan yang ringan dan tanpa kesulitan. Padahal, nilai keutamaan shalat terletak pada kehadiran hati di hadapan Alloh.

Jadi, sebagaimana dikatakan Ibnu Athaillah, keadaan dirimu bisa diukur dan dinilai melalui shalatmu. Jika kau meninggalkan berbagai hal yang bersifat duniawi, termasuk perbuatan keji dan mungkar, berarti kau telah mencapai tujuan shalat dan kau termasuk golongan manusia yang bahagia di dunia dan akhirat. Tetapi jika tidak, tangisilah dirimu!

Selanjutnya Ibnu Athaillah berkata, “Jika kaki ini masih sulit dilangkahkan menuju shalat, adakah orang yang tidak ingin berjumpa dengan kekasihnya?!”

Jika kau masih merasa berat dan terbebani untuk mendirikan shalat, berarti kau tidak ingin berjumpa dengan Alloh. Sebab, shalat merupakan momen perjumpaan dirimu dengan Alloh. Engkau berdiri, duduk, dan bersimpuh di hadapan-Nya. Semua gerakan dan lafal yang diucapkan dalam shalat merupakan  munajat kita kepada Alloh, munajat hamba kepada Zat yang ada dihadapannya. Ketika kau berucap, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta,” sesungguhnya kau sedang berbincang atau munajat kepada Engkau (Alloh) yang menjadi lawan bicara yang hadir bersamamu.

Karena itu, dalam hadis shahih disebutkan bahwa ketika hamba mengucap kata tersebut, Alloh menjawab, “Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku. Untuk hamba-Ku apa yang ia minta.” (HR. Muslim)

Kemudian Ibnu Athaillah berkata, “Maka, siapa yang ingin mengenal hakikat dirinya di sisi Alloh dan mengetahui keadaannya bersama Alloh, perhatikanlah shalatnya. Apakah ia menunaikan shalat dengan khusyuk dan tenang atau dengan lalai dan tergesa-gesa?!”

Makna khusyuk dalam shalat adalah sibuknya hati, lisan, dan anggota badan serta gelora perasaan orang yang shalat bahwa ia sedang berada di hadapan Alloh subhana wata’ala.

Orang yang memasuki shalat harus menyadari apa yang diucapkan. Ia tidak boleh dilalaikan dengan urusan dunia. Alloh berfirman, “Tegakkan shalat untuk mengingat-Ku.” Keadaan lalai tentu saja berlawanan dengan ingat.

Alloh berfirman,  “Hai orang yang beriman, janganlah kalian menunaikan shalat dalam keadaan mabuk sehingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan.”

Ada yang berpendapat bahwa mabuk yang dimaksud di atas bukan hanya mabuk karena minuman keras, melainkan juga mabuk karena banyaknya hal yang dipikirkan ketika shalat. Jadi, mabuk di sana dapat diartikan secara lahiriah maupun batiniah. Sebab, banyak orang yang tidak minum arak tetapi mereka tidak menyadari apa yang diucapkan dalam shalatnya.

Kekhusyukan hati datang melalui makrifat. Semakin mengenal Alloh dan mengetahui berbagai karunia-Nya, hati akan semakin khusyuk. Sebaliknya, semakin lalai, hati pun semakin jauh dari khusyuk.

Saudaraku, satu hari terdiri atas 24 jam. Alloh ta’ala membiarkanmu tak terhubung kepada-Nya lebih dari 23 jam sehari. Sebab, pelaksanaan lima shalat dalam sehari semalam hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari setengah jam. Pada waktu yang singkat ini Alloh menyerumu agar kau berkhalwat bersama-Nya sehingga kau mendapatkan karunia, pertolongan, dan pancaran cahaya-Nya. Apakah waktu setengah jam ini teramat banyak dan lama sehingga kau lalai dari Tuhan? Lalu, mengapa kau tergesa-gesa ketika mendirikan shalat padahal, sebagaimana dikatakan Ibnu Athaillah: “Shalat adalah duduk bersama Alloh. Jika kau bersama-Nya, tetapi tidak mendapatkan apa-apa, berarti ada penyakit dalam dirimu, baik itu berupa kesombongan, ujub, atau kurang adab. Alloh berfirman, “Akan Kupalingkan dari ayat-ayat-Ku orang yang bersika sombong di muka bumi secara tidak benar.”

Setelah shalat, janganlah tergesa-gesa keluar. Duduklah untuk memohon ampunan atas segala dosa dan kekurangan shalat yang baru saja didirikan. Berzikirlah dan mintalah kepada Alloh agar menerima shalat kita. Setelah menunaikan shalat, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam selalu beristighfar tiga kali.

Wallahu ‘alam bish showab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s