Shalat yang Tidak Disertai Kehadiran Hati

Pojok “Ngaji Yuk!”: Seri “Menyelami Rahasia Shalat” bersama Ibnu Athaillah, shohibul Al-Hikam

Ibnu Athaillah berkata, “Perumpamaan orang yang menunaikan shalat tanpa kehadiran hati adalah seperti orang yang menghadiahkan seratus kotak kosong kepada raja. Tentu orang itu pantas dihukum. Sementara, orang yang shalat dengan kehadiran hati adalah seperti orang yang menghadiahkan permata senilai seribu dinar kepada raja. Tentu saja raja akan selalu mengingatnya.

Apabila kau masuk shalat, sesungguhnya kau sedang bermunajat kepada Alloh ta’ala, dan berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, engkau mengucap, ‘Assalamu ‘alaika ayyuhan an-Nabiy wa rahmatullah wa barakatuh (Salam sejahtera berikut rahmat dan berkah Alloh semoga dicurahkan kepadamu, wahai Nabi)’. Bagi orang Arab, ucapan ayyuha a-rajulu (wahai fulan) hanya ditujukan kepada orang yang hadir bersamanya.

Sungguh berbeda orang yang shalat disertai kehadiran hati dari orang yang shalat dengan hati yang lalai. Alloh tidak menerima doa dari orang yang hatinya lalai. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Alloh tidak mengabulkan doa yang bersumber dari hati yang lalai dan lupa (HR. Tirmidzi).”

Penjabarannya:

Orang yang mengerjakan shalat tanpa kehadiran hati maka shalat yang dikerjakannya shalat yang kosong. Alih-alih mendapatkan pahala, ia malah layak mendapat hukuman. Tentu saja ia benar-benar merugi, karena ia telah berwudhu, menunaikan shalat hingga merasa penat, tetapi kemudian mendapatkan hukuman. Bukankah perbuatan seperti ini adalah perbuatan yang bodoh?

Apakah kehadiran hati merupakan syarat syah shalat ataukah syarat yang harus ada ketika takbir saja? Al Imam al-Ghazali berkata, “Jika kau mengatakan bahwa kehadiran hati merupakan syarat sah shalat maka itu bertentangan  dengan kesepakatan fukaha, karena mereka hanya mensyaratkan kehadiran hati ketika takbir. Maka, ketahuilah bahwa kajian para fukaha tidak memasuki wilayah batin, tidak mengupas hati, dan tidak menelusuri jalan akhirat. Mereka membangun hokum agama berdasarkan amal anggota badan secara lahiriah. Di samping itu, pendapat di atas juga tidak bisa di sebut kesepakatan. Disebutkan dari Bisyr ibn al-Harits seperti diriwayatkan oleh Abu Thalib al-Makki bahwa Sufyan al-Tsauri berkata, ‘Siapa yang tidak khusyuk maka shalatnya rusak’

Diriwayatkan pula bahwa al-Hasan al-Bashri berkata, ‘Setiap shalat yang tidak disertai kehadiran hati akan membawa pelakunya lebih cepat menuju hukuman.’

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, ‘Ketika seorang hamba mendirikan shalat, tidaklah dicatat untuknya seperenam atau sepersepuluhnya, tetapi dicatat untuk hamba adalah apa yang dihayati dari shalatnya (HR. al-Nasai, Ibn Hibban).’ Namun, kami tidak memfatwakan syarat tersebut. Para ulama juga tidak mensyaratkan kehadiran hati dalam keseluruhan shalat, karena hanya para Nabi yang dapat mencapai khusyuk 100% dalam shalat. Jadi, kehadiran hati hanya disyaratkan ketika nama-Nya disebutkan meskipun sesaat. Tentu saat yang paling utama adalah saat takbir. Kita membatasi syarat kehadiran hati hanya pada saat takbir. Namun, kami beranggapan bahwa orang yang lalai secara keseluruhan shalatnya tidak seperti orang yang tidak shalat sama sekali. Sebab, secara lahiriah amalnya lebih baik dan hatinya lebih hadir. (Ihya’  Ulum al-Din, al-Ghazali: I/190-191).[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s