Jalan Menghadirkan Hati di Dalam Shalat

Pojok “Ngaji Yuk!”: Seri “Menyelami Rahasia Shalat” bersama Ibnu Athaillah, shohibul Al-Hikam

(Penjelasan lanjutan bahasan “Shalat yang Tidak Disertai Kehadiran Hati”)

Jika ingin menghadirkan hati kita dalam shalat maka kita harus berusaha menolak berbagai lintasan pikiran berikut sebab-sebab kedatangannya. Lintasan pikiran tersebut bisa datang dari luar diri (eksternal) dan bisa juga dari dalam (internal) diri.

Pertama, sebab-sebab dari luar datang melalui pendengaran atau pengelihatan. Cara menghindarinya, di antaranya adalah dengan memenjamkan mata, mendirikan shalat di tempat yang gelap, tidak membiarkan sesuatu di hadapan kita yang mungkin menyibukkan indria kita, mendekati tembok agar jarak pandang menjadi terbatas, tidak mendirikan shalat di jalanan dan di tempat yang penuh ukiran dan tulisan.

Kedua, sebab-sebab yang muncul dari dalam diri, dan cara menghindarinya memaksa hati kita untuk memahami apa yang di baca dalam shalat serta menyibukkan hati kita dengannya, tidak memikirkan yang lain. Selain itu, sebelum takbiratul ihram kita bisa menguatkan ingatan terhadap akhirat, nilai penting munajat, dan mengingat kedudukan mulia dihadapan Alloh. Kita juga bisa selalu mengingat bahwa Alloh sedang melihat dan mengawasi kita. Selain itu, sebelum bertakbir kosongkanlah hati kita dari segala kerisauan sehingga tidak ada sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian kita. Jika gejolak pikiran kita tak bisa ditenangkan dengan cara-cara di atas maka yang bisa menyelamatkan kita adalah obat pencahar untuk menghilangkan penyakit dari akarnya.

Caranya adalah dengan mencermati berbagai hal yang bisa mengalihkan perhatian dan melalaikan dari hadirnya hati. Tentu ini kembali kepada apa yang menjadi perhatiannya. Kemudian hukumlah dirimu dengan cara menjauhi syahwat tersebut dan memutuskan segala sesuatu yang terkait dengannya.

Segala sesuatu yang dapat membuatmu lalai dalam shalat atau membuatmu melalaikan shalat bertentangan dengan agama. Memegang dan membiarkan sesuatu itu tetap ada pada dirimu jauh lebih berbahaya daripada mengeluarkannya. Jadi, jika kau ingin selamat darinya, keluarkanlah. Diriwayatkan bahwa suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan pakaian pemberian Abu Jahm yang bergaris dengan beberapa hiasan untuk menunaikan shalat. Usai shalat beliau langsung melepas pakaian itu. Beliau bersabda, “Antarkan pakaian ini kepada Abu Jahm. Tadi ia telah melalaikan diriku dari shalatku. Tukarlah dengan pakaian tebal tak berhias miliknya (HR. Bukhari dan Muslim).”

Kemudian ketahuilah bahwa orang yang masuk dalam shalat sebenarnya sedang bermunajat kepada Tuhan dan berbicara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, dalam tahiyyat kita mengucapkan: Assalamu’alaika ayyuhaan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh. (Salam sejahtera, serta rahmat, dan keberkahan Allah semoga tercurah kepadamu, wahai nabi)

Frasa seruan, “Wahai Nabi” hanya diucapkan untuk orang yang hadir bersama kita. Seolah-olah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada bersama kita dan kita mengajak beliau bicara. Karena itu, kita semestinya merasa malu jika berbicara dengan Rasulullah sementara hati kita lalai dan tidak mengingatnya. Kita harus merasa malu jika berbincang-bincang dengan Rasulullah, tetapi hatimu sibuk memikirkan berbagai urusan dan kenikmatan dunia.

Kita sedang berbicara dengan Alloh, Sang Raja Diraja, dan berbicara dengan Rasul-Nya. Karena itu, berkomunikasilah dengan jasad, hati, dan ruh kita. Sebagai perumpaman, bayangkan bahwa kita akan menemui seseorang atau pemimpin perusahaan. Apakah yang kita persiapkan untuk menemuinya? Pakaian seperti apa yang akan kita kenakan pada pertemuan tersebut? Apa saja persiapan lain yang kita lakukan untuk pertemuan tersebut? Hingga perjumpaan itu terjadi, pasti hati kita sibuk memikirkan pertemuan tersebut. Pikiran dan hati kita pasti terpusat ke sana. Tentu kau lebih mempersiapkan diri untuknya daripada untuk shalat.

Ketahuilah bahwa gerakan anggota badan laksana jasad, sementara kehadiran hati bersama Alloh dan kekhusyukan merupakan  ruhnya. Lalu, bagaimana shalat kita akan naik menuju Alloh jika hanya berupa jasad tanpa ruh? Mungkinkah bangkai mati bisa terbang kepada-Nya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s