Dua Rakaat di Malam Hari Lebih Baik dari pada Seribu Rakaat di Siang Hari

Menyelami Rahasia Shalat bersama Ibnu Ataillah, shohibul Al-Hikam
(Diambil dari kitab Taaj Al-Aruus al-Hawii li Tahdziib al-Nufuus, karya Syekh Ibnu Athaillah)

Ibnu Athaillah berkata, “Dua rakaat pada waktu malam lebih baik daripada seribu rakaat di waktu siang. Kau tidak mendirikan dua rakaat pada malam hari kecuali untuk menambah pahala pada timbangan amalmu. Bukankah kau membeli seorang budak untuk mengabdi?

Mungkinkah seorang budak dibeli hanya untuk makan dan tidur? Ketahuilah, kau adalah budak yang telah dibeli. Alloh berfirman, ‘Alloh membeli dari orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surge untuk mereka. Mereka berperang di jalan Alloh, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (QS. At-Taubah (9): 11)”

Penjabarannya:

Ungkapan hikmah ini secara khusus bertutur tentang shalat malam. Shalat malam memiliki kemuliaan yang tak tertandingi karena shalat malam paling jauh dari sikap riya dan ujub. Seorang muslim mendirikan shalat seorang diri dengan khusyuk seraya berharap Alloh akan memberatkan timbangan kebaikannya dan termasuk golongan yang disebutkan oleh Alloh dalam firma-Nya: Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di waktu pagi sebelum fajar mereka selalu memohon ampunan. (QS. al-Dzariyat (51): 17-18). Ia juga berharap termasuk golongan yang Alloh gambarkan: Lambung mereka menjauh dari pembaringan. (QS. al-Sajadah (32): 16).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengistimewakan shalat malam. Bagaimana tidak, beliau melakukan ibadah pada sebagian malam hingga kedua kaki beliau yang mulia bengkak-bengkak. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ali ra. meriwayatkan bahwa pada suatu malam Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam membangunkan dirinya dan Fatimah seraya berkata, “Tidakkah kalian mendirikan shalat malam? (QS. Bukhari dan Muslim)”

Abdurrahman bin  Umar ra. mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang adalah Abdullah seandainya ia shalat pada waktu malam.” (QS. Bukhari dan Muslim). Setelah mendengar sabda tersebut, Abdullah ibn Umar hanya tidur sedikit di waktu malam. (QS. Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik puasa sesudah Ramadhan adalah puasa di bulan yang dimuliakan Alloh (Muharram). Dan sebaik-baik shalat sesudah shalat yang wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Mengapa kita begadang di awal malam dengan bersenda gurau dan lupa kepada Alloh, tetapi kita tidak bangun di tengah atau akhir malam untuk hadir bersama-Nya?

Paparan ini memungkasi pembahasan tentang Rahasia Shalat yang dipaparkan oleh Ibnu Athaillah. Ikuti kajian selanjutnya pada “Ngaji Yuk!”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s