Fadhilah Menjaga Baik-Baik Pengamalan Shalat-shalat Sunnah Rawatib Dua Belas Rakaat, bagian-2

Pojok “Ngaji Yuk!”

Demikian juga shalat (sunnah atau nafilah) sebelum dan sesudah shalat Dhuhur. Orang yang terus-menerus mengamalkannya, Allah SWT mengharamkan api neraka menyentuh jasadnya. Mengenai itu Rasulul­lah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  berkata:

من يحافظ على اربع ركعات قبل الظهر وبعدها حرم الله جسده على النار

“Barangsiapa yang menjaga baik-baik shalat (sunnah) empat rakaat sebelum Dhuhur dan (dua rakaat) sesudahnya, Allah mengharam­kan api neraka menyentuh jasadnya.” (Diriwayatkan oleh Abu Da­wud, An-Nasa’I, dan Turmudzi).

Dalam riwayat lain, “Empat rakaat sebelum Dhuhur di dalamnya tidak ada taslim, bagi empat-empatnya itu terbuka pintu-pintu langit.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’I, dan Turmudzi).

Dalam riwayat yang lain lagi, “Bahwa bagi empat rakaat itu terbuka pintu-pintu langit, tidak ada pintunya yang tertutup.” (Diriwayatkan oleh Thabrani di dalam Al-Kabir dan Al-Ausath).

Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  menjaga baik-baik shalat empat rakaat (nawafil) itu, dan beliau Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  lama berdiri. Beliau Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  pernah mengatakan, “Pada saat seperti itu aku ingin dinaikkan (dipanjatkan) suatu amal saleh bagi-ku.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Turmudzi).

 

Keutamaan shalat nafilah empat rakaat tersebut, antara lain karena para Nabi dan Rasul—’alaihimus-shalatu was-salam—pada mengindahkan dan menjaganya baik-baik. Tsauban r.a. mengatakan, bahwa Ra­sulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  menyukai shalat (nafilah) itu sesudah tengah hari.

Mengenai waktu tersebut Siti ‘A’isyah r.a. pernah berkata kepada Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  , “Saya lihat Anda menyukai shalat (nafilah) itu dalam waktu (seperti sekarang) ini!” Beliau Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  menjawab, “Di dalam waktu itu terbukalah pintu-pintu langit dan Allah SWT melihat hamba-hamba-Nya dengan rahmat. Shalat itu adalah shalat yang dahulu dijaga (peng­amalannya) baik-baik oleh Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan ‘Isya’-shalawatullah alaihim.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar sebagai hadits yang isnad-nya lemah).

Di antarafadhilah-nya shalat nafilah empat rakaat tersebut ialah, bahwa orang yang menjaganya baik-baik ia beroleh pahala tahajud pada ma­lam harinya. Al-Barra bin Azib r.a. menuturkan, bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  berkata:

من صلى قبل الظهر اربع ركعات كانما تهجد بهن من ليلته ومن صلى هن بعد العشاء كمثلهن من ليلة القدر

“Barangsiapa shalat (nafilah) empat rakaat sebelum Dhuhur, ia seperti orang yang shalat tahajud empat rakaat pada malam harinya, dan barangsiapa yang shalat (nafilah) empat rakaat sesudah ‘Isya’ ia seper­ti orang yang shalat empat rakaat pada malam qadr (lailatul-qadr).” (Diriwayatkan oleh Thabrani di dalam Al-Ausath. Sanad-nya lemah).

‘Abdurrahman bin Humaid r.a. menerima hadits dari ayahnya dan dari datuknya yang menuturkan, bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  berkata:

صلاة الهجير مثل صلاة الليل – قال الراوي – فسألت عبد الرحمن بن حميد عن الهجير فقال : اذا زلة المش

“Shalatul-hajir ialah seperti shalat malam.” Perawi hadits ini mengata­kan, bahwa menurut ‘Abdurrahman bin Humaid yang dimaksud hajir ialah saat matahari sudah bergeser ke barat. (Diriwayatkan oleh Thabrani di dalam Al-Kabir. Dan orang yang bernama ‘Abdurrah­man tersebut adalah ‘Abdurrahman bin Auf—menurut perawi yang lain).

‘Umar bin Al-Khaththab r.a. mengatakan, saya mendengar sendiri Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  berkata:

اربع قبل الظهر وبعد الزوال تحسب بمثلهن في السحر وما من شيء الا وهو يسبح الله في تلك الساعة ,  ثم قرأ

“Empat rakaat sebelum Dhuhur dan empat rakaat setelah mataha­ri bergeser dipandang sama dengan shalat seperti itu di waktu sahar  (beberapa saat sebelum fajar menyingsing). Pada saat itu tidak ada apa pun (di alam wujud) yang tidak bertasbih mengagung-agungkan Allah.”

Kemudian beliau Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  mengucapkan ayat ke-48 Surah An-Nahl:

اولم يروا الى ما خلق الله من شيء يتفيؤ ظلاله عن اليمين والشمائل سجدا لله  وهم داخرون

Apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang diciptakan Allah, yang bayangannya senantiasa berubah-ubah ke kanan dan ke kiri, dalam keadaan semuanya bersembah sujud kepada Allah dan semuanya merendahkan diri?

Shalat empat rakaat (nafilah) sebelum Dhuhur fadhilah-nya sama de­ngan fadhilah yang diperoleh orang yang memerdekakan seorang budak keturunan Bani Isma’il. Mengenai itu Basyir bin Sulaiman menerima hadits dari ‘Arar bin Al-Anshari yang menuturkan, bahwasanya Rasulul­lah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  berkata:

من صلى قبل الظهر اربعا كان كعدل عتق رقبة من بني اسماعيل

“Barangsiapa yang shalat empat rakaat sebelum Dhuhur ia beroleh fadhilah, setara dengan fadhilah-nya orang yang memerdekakan se­orang budak keturunan Bani Isma’il.” (Diriwayatkan oleh Thabrani di dalam Al-Kabir).

Shalat tersebut adalah shalat (nafilah) yang paling afdhal di siang hari. Mengenai itu Al-Aswad, Murrah, dan Masruq—radhiyallahu anhum— mengatakan, bahwa Abdullah bin ‘Umar r.a. menyatakan, “Tidak ada shalat (nafilah) di siang hari yang  fadhilah-nya setara dengan shalat (nafilah) di malam hari selain shalat empat rakaat (nafilah) sebelum Dhuhur. Dan fadhilah-nya (jika dibanding dengan shalat (nafilah) siang harinya) sama fadhilah-nya dengan shalat berjamaah yang jauh lebih besar daripada shalat seorang diri (munfarid).” (Diriwayatkan oleh Thabrani di dalam Al-Kabir).

Mengenai shalat nafilah empat rakaat sebelum shalat ‘Ashar, Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  mendoakan orang yang mengamalkannya:

رحم الله امرأ صلى قبل العصر اربعا

“Allah melimpahkan rahmat kepada orang yang shalat (nafilah) em­pat rakaat sebelum shalat ‘Ashar.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban).

Hadits lain menuturkan, “Barangsiapa menjaga baik-baik shalat terse­but, Allah akan membuatkan rumah baginya di dalam surga.” (Diri­wayatkan oleh Abu Ya’la).

Ada juga hadits yang menuturkan, “Barangsiapa yang menjaga baik-baik shalat tersebut, Allah mengharamkan badannya disentuh api neraka.” (Diriwayatkan oleh Thabrani di dalam Al-Kabir).

Riwayat lain mengatakan, “Api neraka tidak akan menyentuh ba­dannya.” (Diriwayatkan oleh Thabrani di dalam Al-Ausath).

Hadits yang lain lagi menuturkan, “Barangsiapa menjaga baik-baik shalat tersebut (nafilah empat rakaat sebelum Ashar), ia termasuk orang-orang yang beroleh ampunan.” (Diriwayatkan oleh Thabrani di dalam Al-Ausath, sebagai hadits gharib [tidak terkenal]).

Mengenai fadhilah shalat nafilah dalam waktu antara Maghrib dan ‘Isya’ adalah sebagai berikut:

Pahalanya sama dengan pahala ibadah dua belas tahun. Mengenai itu Abu Hurairah r.a. menuturkan, bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam ber­kata:

من صلى بعد المغرب ست ركعات لم يتكلم فيما بينهن بسوء عدلت بعبادة ثنتي عشرة سنة

“Barangsiapa yang shalat (nafilah) enam rakaat sesudah shalat Maghrib dan ia tidak berbicara buruk sesudahnya, shalat (nafilah)-nya itu disetarakan pahalanya dengan pahala ibadah selama dua belas ta­hun.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah. Demikian juga Turmudzi).

Barangsiapa menjaga pengamalannya baik-baik, Allah SWT akan membuatkan baginya rumah di surga. Siti ‘A’isyah r.a. menutur­kan, bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam berkata, “Barangsiapa shalat (nafilah) dua puluh rakaat sesudah Maghrib, Allah akan membuatkan ru­mah baginya di dalam surga.” (Diketengahkan oleh Ibnu Majah dari riwayat Ya’qub bin Al-Walld Al-Mada’ini dan lain-lain, berasal dari Siti ‘A’isyah r.a.).

Shalat enam rakaat sesudah Maghrib juga merupakan sebab bagi turunnya maghfirah (ampunan Ilahi). Mengenai itu Muhammad bin ‘Ammar bin Yasir r.a. menuturkan, “Saya melihat ‘Ammar (ayah-nya) shalat (nafilah) enam rakaat sesudah Maghrib, kemudian ia me­ngatakan, ‘Aku melihat sendiri Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam shalat (nafilah) enam rakaat sesudah Maghrib, lalu beliau menyatakan: Barangsiapa shalat enam rakaat sesudah Maghrib, ia diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih samudera.’” (Hadits gharib diriwayatkan oleh Thabrani).

Shalat (nafilah) tersebut di atas terangkat tinggi ke illiyyin (surga yang termulia). Mengenai hal itu Makhul r.a. menuturkan, bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam menyatakan:

من صلى بعد المغرب قبل ان يتكلم ركعتين – وفي رواية – اربع ركعات رفعت صلاته في عليين

“Barangsiapa yang shalat (nafilah) dua rakaat sesudah shalat Maghrib sebelum ia berbicara (bercakap-cakap), maka shalat (nafilah)-nya. itu terangkat ke ‘illiyyin”—sementara riwayat mengatakan: empat raka­at. (Diriwayatkan oleh Razln, namun tidak terdapat di dalam Al-Ushul).

Bersambung

(Referensi: Syarful al-Ummah al-Muhammadiyah (Kekhususan Umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)” karya Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s