Fadhilah Menjaga Baik-Baik Pengamalan Shalat-shalat Sunnah Rawatib Dua Belas Rakaat, bagian-3

Pojok “Ngaji Yuk!”

Mengenai fadhilah shalat (nafilah) sesudah shalat ‘Isya’, dalam sebuah hadits disebut fadhilah atau pahalanya sama dengan fadhilah shalat lailatul-qadr. Hal itu diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a. yang menuturkan, bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  menyatakan:

اربع قبل الظهر كاربع بعدالعشاء واربع بعد العشاء كعد لهن من ليلة القدر

“Empat rakaat (nafilah) sebelum shalat Dhuhur sama dengan empat rakaat sesudah shalat ‘Isya’, dan empat rakaat (nafilah) sesudah shalat ‘Isya’ pahalanya setara dengan shalat (nafilah) empat rakaat lailatul-qadr.” (Diriwayatkan oleh Thabrani di dalam Al-Ausath)..

Setiap satu rakaat shalat (nafilah) pada malam lailatul-qadr fadhilah-nya disamakan dengan pahala shalat seribu rakaat pada malam yang lain, karena Allah SWT telah berfirman, bahwa “lailatul-qadr lebih baik daripada seribu bulan”. Maknanya adalah Allah SWT melipat gandakan seribu kali dari pahalanya zikir, tasbih, dan tahmid. Memang demikianlah pahalanya amal-amal kebajikan, selalu beroleh tambahan lebih be­sar, dan untuk diterimanya amal kebajikan itu pintu senantiasa terbuka.

Sebuah riwayat hadits di dalam Al-Kabir, berasal dari Ibnu ‘Umar r.a. yang menuturkan, bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  menyatakan:

من صلى العشاء الأخرة في جما جماعة واربع ركعات قبل ان يخرج من المسجد كان كعدل ليلة القدر

“Barangsiapa yang shalat ‘Isya’ terakhir di dalam jamaah (yakni usai shalat ‘Isya’ berjamaah) kemudian ia shalat (nafilah) empat rakaat sebe­lum meninggalkan masjid, pahalanya setara dengan lailatul-qadr (yakni setara dengan pahala yang didapat orang yang shalat nafilah pada lailatul-qadr).

Sedangkan orang yang menjaga baik-baik shalat Witir (yakni selalu mengamalkannya) ia beroleh pahala yang sama dengan pahala yang diperoleh seorang pahlawan syahid (mati di jalan Allah SWT).

Ibnu ‘Umar r.a. menuturkan, bahwa ia mendengar sendiri Rasulul­lah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  menyatakan:

من صلى الضحى وصام ثلاثة ايام من ااشهر ولم يترك الوتر في سفر ولا حضر كتب له اجر شهيد

“Barangsiapa yang shalat Dhuha, berpuasa tiga hari setiap bulan, dan tidak meninggalkan shalat Witir, baik di saat sedang bepergian jauh maupun tinggal di rumah, baginya tercatat pahalanya orang yang mati syahid” (Diriwayatkan oleh Thabrani di dalam Al-Kabir).

Di antara berbagai fadhilah shalat Witir ialah, bahwa Allah SWT menyukainya. Oleh karena itu, orang yang mengamalkannya berarti ia mengamalkan sesuatu yang disukai Allah SWT

Mengenai itu ‘Ali (bin AbiThalib) r.a. mengatakan, “Shalat Witir tidak diwajibkan seperti shalat fardhu, tetapi itu disunnahkan oleh Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  ” Beliau Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  menegaskan:

ان الله وتر يحب الوتر فاوتروا يا اهل القران

“Sungguhlah bahwa Allah adalah Witir (yakni: Satu, dan satu ada­lah bilangan ganjil atau Witir) dan menyukai Witir. Karena itu wahai ahlul-qur’an (yakni kaum Muslimin), hendaklah kalian (selalu) shalat Witir!” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Turmudzi, An-Nasa’I, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Turmudzi).

Abu Dawud, Turmudzi, dan Ibnu Majah menuturkan, bahwa pernyataan Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  mengenai shalat Witir adalah sebagai berikut:

وصلاة الوتر امد نا الله تعالى بها وهي خير لنا من حمر النعم

“Shalat Witir—semoga dengan itu Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita—jauh lebih baik daripada apa saja yang paling menyenangkan (humurun-na’am).”

Oleh karena itulah Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  memperingatkan orang yang meninggalkan shalat Witir, dan beliau Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  menyatakan tidak bertanggungjawab atas orang yang demikian itu. Beliau Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  menegaskan:

الوتر حق فمن لم يوتر فليس منا. قاله ثلاثا

“Al-witr adalah haq (kebenaran). Karenanya barangsiapa tidak berWitir (yakni: tidak mengamalkan shalat Witir) iabukan dari kami.” Ucapan itu beliau ulang sampai tiga kali.

Demikian kuatnya Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  mewanti-wanti umatnya agar ti­dak sampai meninggalkan shalat Witir. Orang yang khawatir tidak dapat mengamalkannya pada penghujung malam, hendaknya ia memajukan pengamalannya pada saat-saat permulaan malam. Mengenai itu jabir r.a. menuturkan, bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaiihi waAlihi wa shohbihi wa salam  menyatakan:

من خاف ان لا يقوم من آخر الليل فليوتر اوله ومن طمع ان يقوم آخره فليوتر آخر الليل فان صلاة آخر الليل مشهودة وذلك افضل

“Orang yang khawatir tidak akan dapat bangun tidur pada penghu­jung malam (untuk shalat Witir) hendaklah ia shalat Witir pada saat-saat permulaan malam. Dan orang yang sanggup bangun tidur pada penghujung malam hendaklah ia shalat Witir pada akhir malam. Sebab shalat di penghujung malam adalah tersaksikan (oleh ma­laikat), dan itu lebih afdhal.”

(Referensi: Syarful al-Ummah al-Muhammadiyah (Kekhususan Umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)” karya Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s