Shalat Istikharah dan Doanya

Pojok “Ngaji Yuk!”

 

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

“Di antara (sebab) kebahagiaan seorang anak cucu Adam adalah memperbanyak istikharah kepada Alloh dan menerima apa yang telah ditetapkan oleh Alloh untuknya, dan di antara (sebab) kesengsaraan seorang anak cucu Adam adalah (karena ia) meninggalkan istikharah kepada Alloh dan (ia) tidak suka dengan apa yang telah ditetapkan Alloh untuknya.”

Diriwayatkan dari Jabir ra. bahwa ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam telah mengajarkan kepada kami tentang istikharah dalam segala urusan sebagaimana beliau telah mengajarkan kepada kami tentang satu surat dari Al-Quran. Beliau bersabda,

(إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الْأَمْرَ ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ خَيْرًا لِي فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ قَالَ أَوْ فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ

“Apabila salah satu dari kalian dihadapkan pada permasalahan maka hendaknya ia shalat dua rakaat selain shalat fardlu, kemudian hendaknya ia berdoa (artinya) Ya Allah sesungguhnya aku meminta pilihanMu dengan ilmuMu, dan meminta keputusan dengan ketentuanMu, Aku meminta kemurahanMu, sesungguhnya Engkaulah yang menentukan dan aku tidak ada daya untuk menentukan, Engkaulah yang mengetahui dan aku tidaklah tahu apa-apa, Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara gaib. Ya Allah sekiranya Engkau mengetahui bahwa perkara ini (lalu menyebutkan masalahnya) adalah baik bagiku saat ini dan di waktu yang akan datang, atau baik bagi agamaku dan kehidupanku serta masa depanku maka tentukanlah itu untukku dan mudahkanlah ia bagiku lalu berkatilah. Ya Allah apabila Engkau mengetahui bahwa perkara itu buruk bagiku untuk agamaku dan kehidupanku dan masa depan perkaraku, atau bagi urusanku saat ini dan di masa mendatang, maka jauhkanlah ia dariku dan tentukanlah bagiku perkara yang lebih baik darinya, apapun yang terjadi, lalu ridlailah ia untukku”

Bagi seseorang yang ingin membaca doa istikharah, disunnahkan baginya untuk memulai dan menutupnya dengan bacaan tahmid (Alhamdulillah) dan shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam. Ia juga dianjurkan untuk menghadap kiblat seperti yang disunnahkan pada doa-doa yang lainnya. Kemudian dalam mengerjakan shalat istikharah, ia dianjurkan untuk membaca surat Al-Fatihah dan Al-Kafirun pada rakaat pertama, serta membaca surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Para muhaddits (ahli hadis) pada sufi ra. mengatakan, sebelum membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama, hendaknya ia membaca beberapa ayat dari surat Al-Qashash, yaitu:

وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُ‌ۗ مَا ڪَانَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ‌ۚ سُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِڪُونَ (٦٨) وَرَبُّكَ يَعۡلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمۡ وَمَا يُعۡلِنُونَ (٦٩) وَهُوَ ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ‌ۖ لَهُ ٱلۡحَمۡدُ فِى ٱلۡأُولَىٰ وَٱلۡأَخِرَةِ‌ۖ وَلَهُ ٱلۡحُكۡمُ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ (٧٠)

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al-Qashash [28]: 68-70)

Dan sebelum membaca surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, hendaknya ia untuk membaca satu ayat dalam surat Al-Ahzab, yaitu:

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ۬ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُ ۥۤ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلاً۬ مُّبِينً۬ا (٣٦)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab [33]: 36)

Syekh Ibnu ‘Arabi ra. berkata, “Shalat Istikharah –sebagaimana yang telah dijelaskan di atas- itu dikerjakan setiap kali seseorang akan melakukan sesuatu yang penting. Jika urusannya itu baik menurut Alloh, maka Alloh akan mempermudah jalannya sehingga ia pun dapat memperoleh hasil akhir yang baik. Tetapi, jika ia menemukan suatu hambatan dan ia tidak dapat melakukan urusannya itu dengan mudah, maka ia pun tidak akan melawan takdir, karena ia telah mengetahui bahwa jika urusan yang sedang ia jalani itu baik menurut Alloh, niscaya ia tidak akan mendapat hambatan. Ia juga menyadari bahwa Alloh subhana wata’ala telah memberikan pilihan kepadanya yaitu agar ia meniggalkan urusan tersebut, sehingga ia pun tidak akan merasa kecewa dengan hasil yang diterimanya.”

Jika seseorang telah mengerjakan shalat istikharah, kemudian ia belum menemukan satu isyarat pun, hendaknya ia mengulainginya. Ad-Dailami dan Ibnu Sinni meriwayatkan dari Anas ra. bahwa ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

“Wahai Anas, jika kamu bertekad untuk melakukan sesuatu, hendaknya kamu meminta petunjuk kepada Tuhanmu sebanyak tujuh kali. Kemudian lihatlah apa yang tergerak di dalam hatimu, karena sesungguhnya di dalamnya terdapat kebaikan.”

Istikharah adalah suatu upaya untuk menentukan pilihan dalam suatu urusan. Terkadang Alloh ta’ala akan memberikan jawaban atas Istikharah kamu dalam hati berupa firasat, di mana hatimu akan terasa lapang. Tetapi terkadang kamu tidak dapat membaca apa yang terbesit dalam hati kamu sendiri. Hal ini mungkin disebabkan karena hati kamu sedang disibukan dengan urusan-urusan lain, atau karena waktu yang tersedia sangat sempit, atau karena kamu tidak memiliki kesempatan untuk membaca hati kamu sendiri. Pada saat itulah, terkadang Alloh ta’ala akan memberikan jawaban Istikharah kamu itu melalui mimpi. Oleh karena itu, penulis kitab “Syur’ah Al-Islam,” menjelaskan dalam pembahasan mengenai keutamaan ibadah-ibadah sunnah sebagai berikut, “Apa yang kita dengar dari guru-guru kita adalah bahwa hendaknya seseorang tidur dalam keadaan bersuci dan sambil menghadap kiblat. Hal ini dilakukan setelah ia membaca doa istikharah yang telah disebutkan di atas. Jika dalam mimpinya ia melihat warna putih atau hijau, maka hal itu mengisyaratkan bahwa urusannya baik. Tetapi, jika ia melihat warna hitam atau merah, maka hal itu menunjukkan bahwa urusan tersebut jelek sehingga ia harus meninggalkannya.”

Syekh Ibnu ‘Arabi ra. berkata, “Hendaknya hamba-hamba Alloh mengerjakan shalat Istikharah pada waktu tertentu yang telah mereka tentukan setiap harinya, baik pada malam maupun siang hari. Jika mereka telah membaca doa istikharah yang disebutkan dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam –seperti yang telah disebutkan di atas-, maka ketika mereka telah sampai pada bagian dari doa yang baginya dianjurkan untuk menyebut untuk menyebut hajat (urusan)nya –maksudnya ketika mereka telah membaca doa sampai pada perkataan, “Ya Alloh, jika Engkau mengetahui, bahwa urusan ini adalah baik untukku, yaitu untuk agamaku, kehidupanku…,” maka hendaknya mereka membaca, “Ya Alloh, jika Engkau mengetahui bahwa semua langkahku baik untuk memenuhi hakku maupun hak orang lain, dan semu langkah orang lain yang berkaitan dengan hakku, hak keluargaku, orang tuaku maupun budak sahayaku, adalah lebih baik bagi agamaku, kehidupan duniaku, serta hasil awal maupun hasil akhir dari urusanku sejak saat sekarang hingga saat yang sama pada hari yang lain, maka mudahkanlah urusan itu untukku, berilah kemampuan kepadaku untuk melakukannya, dan ridhailah aku dengannya. Dan jika Engkau mengetahui bahwa semua langkahku baik untuk hakku maupun hak orang lain, dan semua langkah orang lain yang berkaitan dengan hakku, hak keluargaku , orang tuaku maupun budak sahayaku itu tidak baik bagi agamaku, kehidupan duniawiku, hasil awal maupun hasil akhir dari urusanku sejak saat sekarang hingga saat yang sama pada hari yang lain, maka jauhkanlah urusan itu dariku dan jauhkanlah aku darinya, dan berilah kemampuan kepada untuk melakukan kebajikan, kemudian ridhailah aku dengannya.”

Syekh Ibnu ‘Arabi berkata lagi, “Jika ia telah melakukannya, maka tidak ada satu langkah pun yang digerakkannya ataupun digerakkan oleh orang lain kecuali di dalamnya terdapat suatu kebajikan yang benar-benar diwujudkan, baik dengan melakukan suatu perubahan maupun dengan meninggalkannya, dan sungguh saya telah mencoba hal itu.”

Di samping itu, kamu harus menentukan waktu tertentu wahai saudaraku, baik pada permulaan siang, setelah selesai shalat Dhuhur, setelah shalat Maghrib, ataupun setelah shalat Isya’. Kemudian kamu mengerjakan shalat Istrikharah dua rakaat dan dilanjutkan dengan membaca doa yang disebutkan di atas. Lakukanlah hal tersebut terus menerus dalam setiap hari, karena di dalamnya terdapat manfaat yang sangat banyak.” []

 

(Referensi: Syarful al-Ummah al-Muhammadiyah (Kekhususan Umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) karya Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s