Kyai Hamid dan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh tu disaksikan (oleh malaikat).” (Qs. Al-Isra’: 78)

Kisah ini diceritakan oleh pelaku sendiri, Hasan Thobroni, salah satu murid Kyai Hamid Pasuruan. Hasan termasuk rajin berjamaah subuh di musalla Salafiyah. Tapi suatu kali, dia absen. Dia terbangun kesiangan. Rupanya Kyai Hamid tahu. Besoknya ditanya.

“Ke mana kemarin?”

Kerinan (kesiangan), Yai,” jawabnya.

“Izinkan, ya, saya membangunkan kamu.”

“Inggih.”

Sejak itu tiap menjelang subuh beliau datang ke rumah Thobroni, mengetuk pintu. Biasanya Thobroni langsung membuka pintu dengan tergopoh-gopoh, sembari membetulkan sarungnya yang kedodoran. “Mandi saja sana, tak usah bersalaman.” kata beliau sambil mengisyaratkan dengan tangannya. “Sepertinya beliau tahu kalau saya sedang junub kenang Thobroni, tersenyum.

Shalat Subuh berjemaah di masjid memiliki keutamaan yang sangat besar. Beliau mengibaratkannya dengan emas banding kreweng, pecahan genteng yang tidak ada harganya lagi.

Ketika Hasan Thobroni tidak dapat lagi berjamaah Subuh di musolla Salafiyah karena bekerja sebagai satpam di perusahaan Otobis Cipto. Maklumlah, Thobroni bekerja di sana dari pukul 8 malam sampai pukul 8 pagi. “Wah emas diganti kereweng, ” kata beliau.

Lain lagi cerita Su’udi, sowan ke rumah Kyai Hamid untuk berkonsultasi soal pekerjaan. Maklum, Su’udi sudah berkeluarga, sudah punya anak pula, tapi pekerjaan belum terpegang.

“Saya ingin matur ke Yai soal pekerjaan,” katanya.

Kyai Hamid bertanya, “Bekerja apa kamu?”

Mboten priso, nopo tirose Romo Yai (Tidak tahu, terserah apa kata Kyai Hamid). Bekerja apa saja, kalau itu Yai yang dawuh (menyuruh), insha Alloh akan saya laksanakan.”

“Oh, begitu shalatlah subuh berjemaah.”

Sa’ba’danipun shalat subuh jamaah niku, dalem mados ma’isyah dos pundi (Setelah shalat subuh berjamaah, saya cari rezeki bagaimana)?”

“Shalat subuh berjamaah!” tegas Kyai Hamid.

Su’udi masih belum puas. “Kados dalem nyukani nafakah teng anak istri, kados pundi (Bagaimana saya memberi nafkah kepada anak istri)?”

Shalat subuh jamaah! Gak usah takon wis, shalat subuh jamaah. Gak usah suwe-suwe, Nak. Setengah tahun ae rasakan. Lek koen akehan melarate karo enake, Yai ilokno. Siap aku. Diilokno koen siap aku, sukur koen ngelaksanakno shalat subuh jamaah. Wis gak usah takon maneh, muleh! (Shalat subuh jamaah! Tak usah bertanya lagi, shalat subuh berjamaah. Tak usah lama-lama, Nak, setengah tahun saja, setelah itu rasakan. Kalau kami lebih banyak susahnya dibanding enaknya, caci maki aku. Siap aku. Aku siap kamu caci maki asal kamu shalat subuh berjemaah. Sudah, tak usah bertanya lagi, pulang!)” Su’udi langsung mengkeret, tak berani bertanya lagi, lalu dia berpamitan.

Kyai Hamid berani berkata begitu karena beliau sangat yakin apa yang dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasalam:

“Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 163)

Hajjaj ibn Yusuf, seorang panglima yang terkenal kejam pada Dinasti Umayah, kalau hendak menghajar orang, dia bertanya lebih dulu, “Apa kamu tadi shalat berjamaah?” Kalau orang itu menjawab ya, dia akan mengurungkan niatnya karena khawatir dia akan berbuat dhalim kepada orang yang berada dalam tanggungan Alloh.

Nabi memang memberi tekanan tersendiri pada perintah berjamaah dalam shalat subuh dan isya’. Beliau shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda :

“Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)

Dan juga,

“Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh).” (HR. Bukhari no. 137 dan Muslim no.632)

Maka wajar jika Teuku Umar (panglima perang Aceh) meminta para pejuangnya berkumpul persis ba’da subuh, karena ia hanya ingin berjuang bersama orang-orang yang memiliki semangat pengorbanan, yang jiwanya dipenuhi kesungguhan di  atas rata-rata kebanyakan orang lainnya. Mereka yang tak bangun subuh, bukan saja tertinggal tak ikut berjuang, melainkan memang tak dibutuhkan sama sekali dalam perjuangan karena dianggap tak bersungguh-sungguh.

Semangat dan kesungguhan yang diperoleh dari kebiasaan shalat subuh, bisa kita terapkan dalam mengatasi berbagai masalah kehidupan. Seberat apapun masalah, pasti ada jalan keluarnya. Masalahnya adalah, apakah kita memiliki semangat dan kesungguhan diatas rata-rata untuk mencari jalan keluarnya? Jika belum, mungkin ada baiknya kita mulai dengan sama-sama memperbaiki subuh kita. Mau?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s