Mengikuti Jejak Nabi Yunus as.

Salah satu Nama Alloh Yang Agung (Ismullah al-A’dzham) adalah Laa illaha illa anta subhanaka ini kuntu minazh zhalimin. Kalimat yang mudah diucapkan dan mudah dihafal. Adakah rahasia di dibalik doa “La ilaha illa anta, Subhanaka, inni kuntu minaz zhalimin”? Bagaimana mungkin satu doa seperti ini dapat menyelamatkan seseorang daripada musibah yang amat besar, seperti yang dialami Nabi Yunus as. ditelan oleh ikan paus?

Dalam perut ikan yang gelap-gelita itulah, Nabi Yunus menyadari kesalahannya melarikan diri dari misi dakwahnya, lalu banyak berdoa dan berzikir kepada Alloh dengan kalimah “La ilaha illa anta, Subhanaka, inni kuntu minaz zhalimin.

Maka dengan doa ini, Alloh berfirman:

“Maka Kami kabulkan permohonan doanya dan Kami selamatkan dia dari kesusahan yang menyelubunginya dan demikianlah kami selamatkan orang-orang yang beriman.” [al-Anbiya’ 21:88]

Seandainya Nabi Yunus tidak mengingati Alloh dengan doa tersebut, maka Alloh menyatakan: “Maka kalaulah dia bukan dari orang-orang yang sentiasa mengingati Alloh, tentulah dia akan tinggal di dalam perut ikan itu hingga ke hari manusia dibangkitkan keluar dari kubur.” [al-Shaffat 37: 142-143]

Barangsiapa yang membaca doa di atas dengan penuh keikhlasan dan mengakui dosa-dosanya, pasti Alloh akan memberinya pertolongan yang secepatnya, seperti disebutkan dalam firman Alloh sebagai berikut:

“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. dan Demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiyaa: 88)

Rahasia Kalimat Laa illaha illa anta subhanaka ini kuntu minazh zhalimin.

Rahasia kalimat   adalah Laa illaha illa anta subhanaka ini kuntu minazh zhalimin sungguh amat besar. Setidaknya kami kemukakan tiga rahasia yang kami ketahui, yang sesungguhnya rahasia yang sebenarnya Alloh yang tahu.

Rahasia 1:   Rahasia pertama, perhatikan bahawa doa ini dibuka dengan kalimah tauhid “Tiada Tuhan melainkan Alloh”. Kalimah tauhid tidak sekadar bermaksud tiada tuhan yang berhak aku sembah melainkan Alloh, tetapi dalam konteks ini juga bermaksud tiada tuhan yang patut aku mengadu, mengharapkan keampunan dan menghajatkan keselamatan melainkan Alloh. Pembukaan seperti ini membuktikan kemantapan dan ketulenan tauhid Nabi Yunus di mana beliau tidak mengadu, merungut dan berharap kepada sesiapa dan apa jua melainkan kepada Alloh sahaja.  Ini merupakan manhaj para Rasul dan Nabi yang mesti kita ikuti.

Perhatikan – sebagai contoh lain – sikap Nabi Ayyub ketika beliau ditimpa penyakit. Beliau tidak mengadu kepada para doktor atau selainnya, tetapi mengadu kepada Alloh sahaja: Dan (sebutkanlah peristiwa) Nabi Ayyub, ketika dia berdoa merayu kepada Tuhannya dengan berkata: “Sesungguhnya aku ditimpa penyakit, sedang Engkaulah sahaja yang lebih mengasihani daripada segala (yang lain) yang mengasihani.” [al-Anbiya 21:83]

Rahasia 2:  Seterusnya Nabi Yunus mengucapkan: “Maha Suci Engkau (ya Alloh)”, bererti mensucikan Allah dari sebarang bentuk kezaliman atau penganiayaan. Lebih mendalam, Nabi Yunus menyucikan Allah bahawa apa yang menimpanya saat itu (ditelan oleh ikan paus) bukanlah merupakan satu bentuk penganiayaan oleh Allah ke atas dirinya.  Penyucian ini penting ditegaskan kerana kadangkala apabila ditimpa kesusahan, kita marah atau menyalahkan Alloh. Malah kita menuduh Alloh sebagai konon sengaja menganiaya diri kita. Maha Suci Alloh dari menganiaya manusia, tetapi manusialah yang menganiaya diri mereka sendiri:

“Dan tiadalah Kami menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” [al-Nahl 16:118]

Rahasia 3:  Tanpa keberatan, tanpa alasan yang berlapik-lapik, Nabi Yunus terus mengaku kesalahannya dengan berkata: “Sesungguhnya aku adalah daripada orang-orang yang menganiaya diri sendiri.” Nabi Yunus tidak terus meminta ampun kepada Alloh, sebaliknya memilih cara yang lebih lembut, beradab lagi merendah diri, yakni dengan mengakui kesalahan dirinya sendiri.  Selain itu Nabi Yunus sedar bahawa kesusahan yang menimpanya saat itu, iaitu ditelan oleh ikan paus, merupakan kesan daripada kesalahan dirinya sendiri yang melarikan diri dari tugas dakwah yang Alloh amanahkan kepadanya. Merupakan sesuatu yang sedia dimaklumi bahawa salah satu faktor seseorang itu ditimpa kesusahan dan kesulitan ialah kerana dosa-dosa hasil dari kesalahan yang pernah dia lakukan sendiri. Alloh menyatakan hakikat ini: “Dan apa jua yang menimpa kamu dari sesuatu kesusahan, maka ia adalah disebabkan apa yang kamu lakukan (dari perbuatan-perbuatan yang salah dan berdosa) dan (dalam pada itu) Allah memaafkan sebahagian besar dari dosa-dosa kamu.” [al-Shura 42:

Cara Mengamalkan kalimat Laa illaha illa anta subhanaka ini kuntu minazh zhalimin 

Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi, An-Nasa’I, Al-Hakim dalam kitab “Nawadirul Ushul”, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Al Bazzar, Ibnu Mardawiyah dan Al-Baihaqi dalam kitab “Asy-Syu’ab” dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Doa Nabi Yunus as. ketika ia sedang berada di dalam perut ikan adalah kalimat Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minadz dzalimiin. Siapa pun dari seorang muslim yang mengucapkan doa tersebut, pasti Alloh akan menolongnya.”

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Sa’ad ra. berkata : “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

Ada nama Alloh Yang Agung yang jika disebutkan ketika seorang sedang berdoa, maka doa dan permohonannya akan dikabulkan, yaitu doa yang pernah disebutkan oleh Nabi Yunus Ibnu Matta as. Tanyaku, “Ya Rasulullah, apakah doa itu khusus untuk Nabi Yunus, ataukah untuk kami juga?” Sabda Beliau shallallahu ‘alahi wasalam, “Apakah kamu tidak mendengar firman Alloh : Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” Itulah salah satu syarat dari Alloh bagi siapapun yang mohon pertolongan kepada-Nya.”

Ibnu Mardawiyah dan Ad-Dailami meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

“Kalimat di atas merupakan ucapan para nabi kepada Alloh. Kalimat itu pernah diucapkan oleh Nabi Yunus as ketika berada di dalam kegelapan perut ikan.”

Ibnu Abi Haitan meriwayatkan dari Al Hasan ra. katanya :

Nama Alloh yang jika disebutkan dalam doa seseorang, maka doanya akan dikabulkan, yaitu kalimat  Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minadz dzalimiin.”

Al-Hakim meriwayatkan dari Sa’ad Ibnu Abi Waqqash ra. bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

Maukah kalian aku tunjukkan nama Alloh Yang Maha Agung ( _Ismullah al-A’dzham_ ) yang pernah diucapkan oleh Nabi Yunus as, yaitu kalimat Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minadz dzalimiin. Siapapun dari seorang muslim yang mengucapkan kalimat tersebut ketika ia dalam sakitnya sebanyak 40 kali, kemudian ia mati dalam sakitnya itu, maka ia diberi pahala sebagai orang yang mati syahid. Jika ia diberi kesehatan kembali, maka dosa-dosanya telah diampunkan oleh Alloh. (Ad-Duur Manshur, 4/334)

Kalimat tersebut mempunyai kemujaraban tertentu, seperti yang dikatakan oleh orang-orang shaleh bahwa siapapun yang mengucapkan kalimat tersebut sebanyak 40 kali sesudah shalat Subuh selama empat puluh hari berturut-turut tanpa terputus seharipun, maka semua hajatnya akan dikabulkan.

Adapula yang mengatakan bahwa siapapun yang membacanya 1000 kali setiap hari untuk kepentingan agama dan dunianya, maka ia akan mendapat keuntungan yang luar biasa dengan izin Alloh.

Adapula yang membacanya setiap sesudah shalat Witir sebanyak 40 kali. Pokoknya siapapun yang selalu mengucapkan kalimat tersebut, maka segala kesulitannya akan mendapat jalan keluar.

Doa Nabi Yunus ini adalah salah satu doa dan dzikir dari persoalan yang membelit kita. Kita dianjurkan untuk sering membacanya, lebih-lebih di saat kita mengalami kesulitan.  Ada kisah menarik tentang hal ini, dikisahkan teman kami sewaktu dia berhaji. Berikut kisahnya:

Siang itu, 8 Dzulhijjah, para jamaah haji yang berada di Mekkah mulai bergerak menuju Arafah. Meskipun wuquf baru dilaksanakan keesokan harinya, namun jamaah haji sudah diberangkatkan satu hari sebelumnya. Jarak antara Mekkah dan Arafah tidaklah jauh. Paling-paling 7 km, yang dapat ditempuh dalam waktu tidak berapa lama. Namun, kemacetan yang terjadi di sepanjang jalan dapat menyebabkan perjalanan menuju Arafah tidak secepat yang kita duga. Ditambah lagi, dengan kemampuan sopir yang tidak menguasai medan. Tidak sedikit, bus baru tiba keesokan harinya. Pemerintah Arab Saudi tidak ingin mengambil risiko besar, karena wuquf adalah rukun haji yang paling penting. Jamaah haji yang tidak wuquf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, maka hajinya tidak sah. Oleh karena itu, jamaah haji diberangkatkan satu hari sebelum prosesi wuquf, agar pada saat wuquf, mereka benar-benar sudah berada di bumi Arafah.

Saat itu, saya dan 80 orang jamaah haji berada di dalam bus yang diberangkatkan menuju Arafah. Saya duduk di bangku paling depan, sambil memandu para jamaah haji. Suara talbiyah bergema sepanjang jalan menuju Arafah. Berulang kali, bus yang kami tumpangi berputar-putar di jalan yang sama. Saya ikut memberi panduan kepada sopir untuk mengambil rute yang seharusnya. Buat saya, sopir tidak kenal rute-jalan itu masalah biasa. Saya sering mengalaminya di kala musim haji. Maklum, mereka bukan penduduk asli Saudi Arabia. Mereka biasanya datang dari Mesir, Palestina, Syiria, dan Turki. Bahkan, dari identitas mereka yang saya baca, mereka baru menginjakkan kakinya di Mekkah beberapa hari yang lalu. Jadi, wajar saja kalau mereka sering kesasar. Untuk itu, biasanya sopir ditemani oleh satu orang dari maktab, yang ikut memandu perjalanan.

Bus yang kami tumpangi makin jauh dari arah Arafah. Jamaah mulai tahu bahwa sopir sudah salah jalan. Mereka mulai gelisah. Saya berusaha menenangkan mereka. Saya sadarkan mereka bahwa mereka sedang berihram. Saya ingatkan mereka jangan sampai keluar dari mulut mereka kalimat-kalimat yang tidak sepantasnya, karena itu akan merusak ihram mereka. Saya katakan bahwa ini adalah ujian untuk menguji kesabaran kita dalam menjalankan perintah Allah ta’ala. Saya mengajak semua jamaah untuk membaca istighfar. Sepanjang jalan, saya selingi ucapan talbiyah dengan istighfar. Saya pun teringat dengan doa Nabi Yunus ketika berada di perut ikan,  _‘La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minazzhalimin’._  Saya juga meminta jamaah untuk membaca doa itu. Doa itu pun kami baca berulang-ulang. Suasana di dalam bus menjadi syahdu. Suara talbiyah, istighfar, dan doa Nabi Yunus terdengar tulus keluar dari mulut-muluh jamaah. Mereka begitu khusyu’. Sepertinya semua jamaah tidak mampu menahan tetesan air mata. Terdengar suara isak-tangis kecil. Alhamdulillah, doa kami menembus Arsy! Allah ta’ala, menghilangkan kegelisahan kami. Bus kami mulai berada di jalur yang benar menuju Arafah. Kami pun menjadi lega, manakala bus kami sudah memasuki kawasan Arafah yang dipenuhi dengan kemah-kemah.

La ilaha illa anta. Subhanaka, inni kuntu minazzhalimin  (Tidak ada tuhan selain-Mu. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku ini sudah berlaku zalim).

Ringan diucapkan, mudah dihafal, dan berefek bagi kehidupan kita. Adakah alas an untuk menunda mengamalkannya?

Wallahu ‘alam.

(Referensi Kitab Abwabul Faraj, karya Dr. Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s