Pengikat Nikmat

“Orang yang diberi nikmat Alloh seyoginya tidak merasa aman dari ujian-Nya sehingga ia terpedaya oleh nikmat, lupa mensyukurinya, lalai mengikat nikmat dengan tali syukur, dan kehilangan langgengnya nikmat.

Syukur atas nikmat harta adalah mengakui bahwa Allohlah pemberi nikmat itu dan senantiasa mencamkan itu dalam diri pada setiap keadaan serta melihat itu sebagai karunia dan anugerah-Nya. Di samping itu, sang penerima nikmat harta tidak merasa memiliki harta itu serta tidak melanggar batas dan tidak mengabaikan perintah Alloh dalam penggunaan harta. Setelah itu, ia memenuhi hak harta, seperti zakat, denda, nazar, sedekah, menolong orang teraniaya, dan membantu orang yang membutuhkan dalam berbagai keadaan.

Syukur nikmat atas sehat jasmani adalah menggunakannya dalam ketaatan serta menghindari perbuatan yang haram, buruk, maksiat, dan berdosa.

Itulah pengikat nikmat agar tidak lepas. Jika penerima nikmat tidak bersyukur, tertipu dengan perhiasan dan kelezatan dunia, terkesima dengan kemilau dunia, lupa dengan racun dan bahaya dunia, serta buta terhadap bisanya yang mematikan, bersiap-siaplah menghadapi kehancuran serta menikmati musibah dan kefakiran di sini juga.”
(Referensi: Al-Fath Al-Rabbani, karya: Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s