Al-Muhlikat (Perusak) dan Al-Munjiyat (Penyelamat Amal)

Pojok “Ngaji Yuk!”

Ketahuilah bahwa akhlak yang tercela dan tingkah laku yang dibenci itu banyak jumlahnya. Dan begitu juga akhlak yang terpuji dan tingkah laku yang dicintai yang mana bagi seorang muslim hendaknya menghiasi dirinya dengan akhlak dan tingkah laku tersebut, juga banyak jumlahnya.

Dan sungguh al-Imam Hujjatul Islam (Imam al-Ghazali) telah membahas secara sempurna semua hal tersebut di dalam pertengahan yang kedua dari kitab “Ihya’ Ulumuddin” dalam menerangkan akhlak yang merusak dan yang menyelamatkan. Perkataan Imam al-Ghazali dalam hal ini adalah sesuatu yang dijadikan pegangan dan referensi, karena kesempurnaan beliau di dalam ilmu ibadah, zuhud, dan ma’rifat. Dan karena sesungguhnya beliau dalam hal ini telah mengumpulkan perkataan orang-orang shalih dan guru-guru tarekat.

Orang-orang sepeninggal Imam al-Ghazali mengikuti jejak-jejak beliau dan mengambil cahaya-cahaya keilmuan beliau, yaitu orang-orang yang menekuni ilmu di bidang ini, yang terdiri dari ulama dan orang-orang shalih dari berbagai daerah dan negara seperti Syaikhul Islam al-Imam Abdullah bin ‘Alawy al-Haddad pengarang kitab an-Nashaih ad-Diniyyah. Seperti halnya orang yang mengikuti jejak-jejak beliau dan mengambil cahaya-cahaya keilmuan beliau, yaitu orang yang memiliki sisi keilmuan yang kuat di bidang ini serta mampu menyelami dan melihat rahasia-rahasia di jalan Allah.

Al-Muhlikat (Perusak Amal)

Adapun hal-hal yang dapat merusak hati, yang menjadi kewajiban bagi seseorang untuk membersihkan dan menghindarkan hatinya dari hal-hal tersebut jumlahnya banyak. Dan saya akan menyebutkan hal-hal yang pokok dan paling penting. Di antaranya adalah,

  1. Ragu-ragu terhadap agama

Di antara penyakit hati yang paling besar adalah ragu-ragu terhadap agama. Langkah pertama dalam membersihkan hati dari penyakit ragu terhadap agama yaitu wajib bagi manusia untuk membersihkan dan mensucikan hatinya dari hinanya sifat ragu kepada Allah Ta’ala, Rasul-Nya, dan akhirat. Maka sesungguhnya keraguan tersebut di akhirat termasuk penyakit hati yang paling besar yang dapat merusak.

Langkah kedua yaitu membersihkan hati dari keraguan yang secara khusus dapat membahayakan ketika sakaratul maut, dan terkadang mengantarkan (semoga Allah Ta’ala melindungi kita) dari meninggal dalam keadaan su’ul khotimah.

Terkadang sebagian manusia diuji dengan keraguan ini. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan bagi seseorang yang mendapati keraguan ini untuk menyimpan di dalam hati dan jiwanya sehingga menyebabkan dirinya bertemu dengan Allah dalam keadaan ragu. Bahkan, wajib baginya untuk bersungguhsungguh dalam menghilangkan dan menyingkirkan keraguan itu dari dirinya dengan kadar kemampuannya.

Dan termasuk ragu-ragu kepada Allah Ta’ala adalah meyakini Allah Ta’ala dengan sesuatu yang tidak sepantasnya. Berupa hal-hal yang melawan kesucian Allah Ta’ala.

Dan termasuk ragu-ragu terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah meyakini hal-hal yang tidak pantas bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu hal-hal yang meniadakan kesempurnaan sifat ma’sumnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal itu seperti meyakini sesuatu yang mengeluarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari batas kemanusiaan kepada batas ketuhanan, atau meyakini sesuatu yang menyamakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan manusia biasa di setiap hal tanpa adanya sesuatu keistimewaan. Kedua-duanya adalah keyakinan yang sesat.

Adapun hal yang paling bermanfaat dalam menghilangkan sifat ragu adalah bertanya kepada ulama yang mengerti tentang Allah Ta’ala dan agama-Nya, yaitu orang-orang yang mempunyai keyakinan dan takut kepada Allah Ta’ala, serta zuhud kepada dunia.

Jika tidak menemukan salah satu di antara mereka, maka kajilah kitab-kitab karangan mereka tentang ilmu tauhid dan keyakinan. Dan saya tidak mengartikan keraguan manusia terhadap pikiran-pikiran dan bisikan-bisikan hati didalam masalahmasalah keimanan, dengan sesuatu yang telah diketahui kesesatannya. Dan manusia itu menemukan hatinya tetap teguh berlawanan dengan pikiran-pikiran tersebut, serta hatinya benci dan berpaling dari hal-hal itu. Maka sesungguhnya hal itu adalah bisikan-bisikan hati. Cukup bagi seseorang untuk membenci, berpaling, dan minta perlindungan Allah Ta’ala dari bisikan-bisikan tersebut.

Bersambung.

(Referensi kitab Qul Hadzihi Sabili, karya Dr. Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s